SUMEDANG – Mahasiswa Unpad menyoroti ancaman Sesar Lembang terhadap masyarakat Bandung Raya, khususnya mereka yang tinggal di atas patahan yang dikabarkan “mengamuk” beberapa tahun kedepan berdasarkan penelitian-penelitian geologi. Hal tersebut berdampak buruk pada keselamatan nyawa dan material, sehingga ketangguhan bencana harus diutamakan.

Dari keresahan tersebut, Tim Pekan Kreativitas Mahasiswa Universitas Padjadjaran yang diketuai oleh Doni Kustiawan, Adis Prita Aulia dari Kesejahteraan Sosial dan Annisa Sahwa Putri Sabrina, Sean Rayshi Hambali dari Antropologi, didampingi oleh dosen Dr. Maulana Irfan, S.Sos., M.I.Kom. Tim ini mengeksplorasi Upacara Ngertakeun Bumi Lamba sebagai kearifan lokal yang berpotensi membentuk modal sosial dengan kesadaran kolektif sosial-ekologis yang arif. Kajian dilakukan selama bulan Mei-Agustus 2026 di Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung melalui observasi partisipan serta wawancara pada rangkaian Upacara Mapag Tirta, Pasamoan Tirta, dan Ngertakeun Bumi Lamba.

“Sebetulnya jaminan keselamatan yang paling dekat dengan wilayah yang ramai hunian adalah orang-orang di sekeliling kita. Modal sosial ini sebuah akar yang telah hidup lama dalam pergaulan masyarakat yang biasanya berpedoman pada nilai kekeluargaan. Maka, Upacara Ngertakeun Bumi Lamba, dapat menjadi prakarsa bagi kearifan lokal yang mampu diarahkan pada mitigasi bencana, melihat fakta bahwa Indonesia menjadi negara yang rawan akan bencana.” Tim PKM.

Kajian ini diharapkan berkontribusi pada mitigasi bencana non-struktural yang ditujukan kepada lembaga kebencanaan dan kebudayaan, sehingga Upacara Ngertakeun Bumi Lamba lebih diberi perhatian dalam ruang formal. Selain itu, langkah awal akademis ini dapat memperkuat partisipasi pemerintah dan masyarakat dalam merawat alam, sehingga mengurangi potensi bencana Sesar Lembang yang mungkin terjadi di masa depan.
Ngajiwa Buana Sareng Bumi Lamba!
Contact us at: @pkmrsh_bumilamba (Instagram), [email protected] (Email)
