Antropologi Kiwari: Menggali Isu Masyarakat Adat dan Memperluas Kiprah Antropolog di Era Modern

Program Studi Sarjana Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, menyelenggarakan Antropologi Kiwari, sebuah kegiatan akademik yang menghadirkan ruang dialog mengenai perkembangan keilmuan antropologi sekaligus memperkenalkan beragam kiprah antropolog di tengah dinamika masyarakat modern. Antropologi Kiwari: Menggali Isu Masyarakat Adat dan Memperluas Kiprah Antropolog di Era Modern
Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid pada Selasa, 18 Agustus 2026, pukul 09.00–13.00 WIB di Bale Santika Unpad, Jatinangor, ini dikemas dalam dua sesi utama, yaitu Kuliah Perdana dan Sharing Session Alumni.
Dukungan Pimpinan untuk Penguatan Keilmuan Antropologi

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua Program Studi Sarjana Antropologi FISIP Unpad, Dr. Dede Tresna Wiyanti, S.Sos., M.Si. Sambutan tersebut menjadi bagian penting dalam membuka rangkaian Antropologi Kiwari sekaligus menegaskan komitmen Program Studi Sarjana Antropologi dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang relevan dengan perkembangan masyarakat dan tantangan zaman.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Sumberdaya & Organisasi FISIP Unpad, Dr. Muhammad Fedryansyah, S.Sos., M.Si. Kehadiran pimpinan fakultas menunjukkan dukungan terhadap penguatan ekosistem akademik yang mendorong mahasiswa untuk mengembangkan wawasan keilmuan sekaligus memahami berbagai peluang penerapan ilmu antropologi dalam kehidupan profesional dan masyarakat.
Antropologi Kiwari juga mendapat perhatian dari tingkat universitas melalui sambutan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, S.Si., S.IP., MT., M.Han. Kehadiran Wakil Rektor semakin memperkuat pesan bahwa pengembangan keilmuan di lingkungan Unpad perlu berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat, perubahan lingkungan strategis, serta perkembangan dunia profesional.
Antropologi, Masyarakat Adat, dan Ekstraksi Sumber Daya Alam
Sesi pertama menghadirkan Kuliah Perdana bertajuk “Antropologi, Masyarakat Adat, dan Ekstraksi Sumber Daya Alam” dengan narasumber Cipryanus Jehan Paju Dale, Ph.D., antropolog sekaligus pembuat film yang memiliki fokus penelitian lapangan di Papua, Flores, dan Komodo.

Kuliah ini memberikan pemahaman mengenai persoalan lingkungan, kebudayaan, dan masyarakat adat dalam pusaran industri ekstraktif. Pendekatan antropologi menjadi penting untuk melihat persoalan tersebut secara kritis dan holistik, khususnya dalam memahami relasi antara manusia, lingkungan, kebudayaan, serta struktur kekuasaan.
Melalui perspektif antropologi, aktivitas ekstraksi sumber daya alam tidak semata-mata dipahami dari aspek teknis dan ekonomi. Lebih jauh, aktivitas tersebut memiliki konsekuensi terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat, hak-hak masyarakat adat, perubahan struktur sosial, hingga munculnya berbagai bentuk resistensi dan strategi adaptasi.
Perspektif tersebut sekaligus menegaskan peran antropologi dalam membaca persoalan sosial secara lebih utuh dan menempatkan pengalaman serta kehidupan masyarakat sebagai bagian penting dalam memahami berbagai perubahan yang terjadi.
Memperluas Perspektif tentang Kiprah Antropolog

Sesi kedua menghadirkan Sharing Session Alumni dengan tema “Kiprah Antropolog Masa Kini: Peluang, Tantangan, dan Kontribusi di Era Modern”.
Sesi ini mempertemukan alumni Program Studi Sarjana Antropologi Unpad dari berbagai angkatan dan bidang keahlian untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan karier, tantangan profesi, serta peluang penerapan ilmu antropologi di berbagai sektor.
Lima alumni yang hadir sebagai narasumber, yaitu:
- Dra. Dessy Ruhati, MM.Par. – Antropolog, Sekretaris Utama Kementerian Ekonomi Kreatif;
- Nugraha Bratakusumah, S.Ant., S.H., M.H. – Antropolog, Intellectual Property Lawyer;
- Yudi Febrianda, S.Sos. – Antropolog, Community Engagement Supervisor;
- Niki Nugraha, S.Ant., MBA. – Antropolog, Direktur PT Vaganza Solusi Internasional; dan
- Yulita Ambarsari, S.Ant. – Antropolog, Digital Data Analyst.
Keberagaman profesi para alumni menunjukkan bahwa kompetensi antropologi memiliki ruang penerapan yang luas. Kemampuan memahami manusia, kebudayaan, perilaku, relasi sosial, serta konteks masyarakat menjadi modal penting yang dapat diterapkan dalam berbagai lingkungan profesional.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan globalisasi, kebutuhan terhadap perspektif antropologi semakin terbuka di berbagai bidang, seperti riset pasar, user experience (UX) research, pembangunan berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, kebijakan publik, media, hingga industri kreatif.

Sharing session ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat bahwa perjalanan seorang antropolog tidak berhenti pada ruang akademik. Pengetahuan antropologi dapat diterjemahkan menjadi kompetensi profesional yang relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Melalui Antropologi Kiwari, Program Studi Sarjana Antropologi FISIP Unpad menegaskan pentingnya pengembangan keilmuan antropologi yang responsif terhadap perubahan zaman. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara keilmuan, pengalaman profesional, dan kebermanfaatan sosial, serta mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan perspektif antropologis dalam membaca berbagai persoalan dan peluang di masa depan.
(Co-Writing : DTW)