Skip to main content

Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Dini, Mahasiswi FISIP Unpad yang Mengubah Privilege Menjadi Gerakan Sosial Lewat Kolaboraksi 

Dini, Mahasiswi FISIP Unpad yang Mengubah Privilege Menjadi Gerakan Sosial Lewat Kolaboraksi 

Dini pada kegiatan Kolaboraksi

Satu Perjumpaan yang Mengubah Segalanya

Dini, mahasiswi FISIP Unpad ini mengawali perjalanannya bukan dari ruang kelas, melainkan dari ruang tunggu klinik. Tahun 2023, matanya tertuju pada seorang ibu dan anaknya yang menyandang Down Syndrome. Mereka pun bermain dan berbincang sejenak. Momen kecil itu membekas dalam.

Dini mengaku sadar akan privilege yang ia miliki. Namun pertemuan itu mengingatkan Dini bahwa privilege yang ia miliki adalah tanggung jawab yang perlu ia salurkan ke masyarakat.

“Aku merasa bersalah kalau punya sesuatu yang sempurna, tapi ada kelompok yang tidak punya kesempatan yang sama,” ungkapnya. Dari keresahan itu, Dini mulai mengenal diri dan memaknai hidupnya lebih dalam. Lalu lahirlah Kolaboraksi — platform social event planner inklusif yang menghubungkan anak muda, komunitas sosial, dan kelompok termarginalkan.

Anak-anak pada kegiatan Kolaboraksi

Ilmu FISIP yang Hidup di Lapangan

Sebagai mahasiswi FISIP Unpad, Dini tidak memulai Kolaboraksi dari nol pengetahuan. Teori sosial, komunikasi, dan pemahaman lain yang ia pelajari di kampus menjadi fondasi di lapangan.

“Ilmu yang aku dapat di kampus itu relevan, dan Kolaboraksi adalah bentuk mengaplikasikan ilmu yang aku dapat,” kata Dini. Dini merasa bahwa pendidikan dari dosen-dosen FISIP Unpad adalah privilege tersendiri yang harus ia kembalikan ke masyarakat.

Rasa ragu di awal memang ada karena ia masih mahasiswa, merasa belum berpengalaman dalam hal ini. Berhubungan dengan pihak eksternal adalah hal yang benar-benar baru baginya. Namun dukungan orang-orang di sekitar memberinya keyakinan untuk melangkah. 

Cara Kolaboraksi Membangun Dampak Sosial

Langkah Kolaboraksi pertama Dini adalah membuat acara yang melibatkan ibu dan anak Down Syndrome. Acara itu bermakna besar bagi para ibu, para volunteer, dan terutama bagi Dini sendiri. Kepuasan peserta menjadi bahan bakar untuk terus bergerak, sehingga Kolaboraksi tumbuh menjadi platform kegiatan sosial inklusif yang semakin berdampak. 

Acara Pertama Kolaboraksi

Dari sana, banyak momen bermakna yang lahir. Salah satunya ketika Kolaboraksi membantu Rumah Kreasi Anak Spesial, yaitu komunitas yang mewadahi anak-anak Down Syndrome putus sekolah. Kolaboraksi membuatkan kaos seragam untuk kegiatan Sabtu Ceria. “Aku senang karena mereka senang punya seragam,” kata Dini. Sesederhana itu yang ia butuhkan untuk terus melanjutkan Kolaboraksi. 

Sabtu Ceria bersama Rumah Kreasi Anak Spesial

Kolaborun: Bukti Kolaboraksi Sudah Dipercaya Pemerintah Kabupaten Bogor 

Tak berhenti di situ, Kolaboraksi kini sudah bermitra berbagai komunitas dan mendapat dukungan dari pemerintah Kabupaten Bogor. Salah satu wujud nyatanya adalah Kolaborun — ajang lari amal dan fun run inklusif yang Kolaboraksi gagas. Acara ini menyatukan masyarakat umum, penyandang disabilitas, dan penyintas kanker dalam satu kegiatan. Bupati Bogor Rudy Susmanto bahkan sudah menyepakati Kolaborun sebagai acara tahunan Kabupaten Bogor.

Kolaborun 2026

Mimpi yang Lebih Besar 

Dini berharap Kolaboraksi sebagai platform kegiatan sosial inklusif bisa menjangkau seluruh Indonesia. Selain itu, ia ingin masyarakat tumbuh menjadi lebih menerima. Bukan hanya bertoleransi, tapi benar-benar hidup berdampingan dan saling mendukung.

“Harapannya, Kolaboraksi bisa jadi wadah bagi mahasiswa untuk berinisiatif dan menyuarakan isu kelompok termarginalkan,” pungkasnya.

Dini tidak menyebut dirinya aktivis atau penggerak sosial. Ia hanya merasa punya lebih, dan memilih untuk tidak menyimpannya sendiri.

Penulis: Nadine Syahira PermanaDeskripsi Meta: Dirikan Kolaboraksi, Dini mahasiswi FISIP Unpad ini buktikan ilmunya bisa berdampak nyata bagi kelompok termarginalkan Frasa Kunci Utama: FISIP; Unpad; Kolaboraksi; Inklusif; Gerakan SosialFoto ArtikelFoto untuk Artikel “Dini, Mahasiswi FISIP Unpad Ubah Privilege Lewat Kolaboraksi”