Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Understanding Regional Rural and Urban Development Policy and Governance, Lesson learn from the Global South

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran kembali menyelenggarakan kegiatan International Lecture Series yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 7 Februari 2024 dengan tema Understanding Regional Rural and Urban Development Policy and Governance, Lesson learn from the Global South. Pembicara pada seri ini  menghadirkan 3 (tiga) orang narasumber yang berasal dari praktisi dan akademisi yaitu Asisten Deputi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Kemenkomarves RI) yaitu Dr. Ir. Djoko Hartoyo, M.Mar.S;  Assc. Prof. Riela Provi Diandra dari The Transnational and Interdisciplinary Studies in Social Innovation Program (TAISI), Waseda University; dan Prof. Ida Widianingsih, S.IP., MA., Ph.D yang merupakan guru besar FISIP Unpad dengan kepakaran dalam bidang administrasi Pembangunan internasional. Kegiatan ini terkait dengan penguatan Kerjasama Fisip Unpad dengan KemenkoMarves dan Waseda University, khususnya implementasi Perpres 87/2021 tentang Percepatan pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan yang telah dilakukan sejak tahun 2022 melalui Program Social Design 1.0 (kabupaten Kuningan), Social Design 2.0. (Kabupaten Majalengka), dan Social Design 3.0  (Kabupaten Garut). Kolaborasi  KemenkoMarves, Waseda Unversity dan Fisip Unpad tersebut merupakan respon atas kebijakan Kampus Merdeka Merdeka Belajar (MBKM).   Pada kesempatan kali  ini  beberapa Program Studi (Prodi) dan Pusat Studi (Pusdi) di lingkungan FISIP Unpad turut  berpartisipasi, seperti Program Studi Sarjana Terapan Administrasi Pemerintahan; Program Studi Sarjana Terapan Administrasi Keuangan Publik; Program Studi Sarjana Administrasi Publik; Program Studi Pascasarjana Administrasi Publik; dan Pusat Studi Desentralisasi dan Pembangunan Partisipatif, FISIP Unpad.

Pada kesempatan ini, pemaparan materi dimulai dari Prof. Ida Widianingsih. Karena diskusi hari ini sangatlah beragam, dengan dimulai dari pembahasan mengenai pembangunan regional hingga isu perkotaan dan pedesaan. Dalam konteks “Lesson Learn from Global South,” banyak peserta yang mungkin belum familiar dengan konsep tersebut. Global South merujuk pada negara-negara di wilayah selatan dunia, terutama yang masih berkembang seperti beberapa negara di Asia dan Afrika. Meskipun tidak secara keseluruhan negara di wilayah selatan itu dalam kategori belum maju, karena istilah ini sering digunakan pada konteks politik global untuk membedakan dengan negara-negara di wilayah utara yang umumnya dianggap maju.

Konsep pembangunan ini juga mencerminkan bagaimana dunia sekarang terhubung secara global. Teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan, dari cara kita berinteraksi hingga bagaimana pembangunan dilakukan di berbagai negara. Meskipun demikian, perbedaan antara negara maju dan berkembang masih relevan dalam konteks pembangunan. Indonesia sendiri telah naik kelas dari negara berkembang ke negara dengan pendapatan menengah, dan hal ini memengaruhi bagaimana pembangunan dijalankan di tingkat nasional serta regional.

Pembangunan regional menjadi penting karena setiap wilayah memiliki kebutuhan dan tantangan tersendiri. Di Indonesia, terutama di Provinsi Jawa Barat ada perbedaan signifikan antara bagian utara dan selatan. Meskipun Jawa Barat secara keseluruhan dianggap maju, pertumbuhan ekonominya mayoritas didorong oleh wilayah utara, sementara wilayah selatan masih menghadapi banyak masalah kemiskinan.

Pemerintah pusat berperan penting dalam akselerasi pembangunan regional seperti di Jawa Barat. Hal ini membutuhkan kebijakan inovatif yang berfokus pada pengentasan kemiskinan dan pemerataan pembangunan. Kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah, serta partisipasi masyarakat, menjadi kunci dalam mencapai tujuan tersebut.

Terkait hubungan antara Universitas Padjadjaran dengan Waseda University, hal ini terjalin karena kedua belah pihak melakukan kerja sama antarbangsa dalam bidang pendidikan dan pertukaran mahasiswa dan memiliki dampak yang signifikan. Mahasiswa dari berbagai negara belajar satu sama lain serta mendapatkan wawasan baru yang tidak hanya dari teori tetapi juga dari pengalaman langsung. Hal ini memperkaya pemahaman mereka tentang pembangunan dan mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin masa depan yang dapat berkontribusi secara positif dalam konteks global.

Program-program seperti kelas Social Design memungkinkan mahasiswa untuk memahami permasalahan nyata di Indonesia dan Jepang, serta merumuskan solusi yang inovatif. Ini adalah contoh konkret bagaimana pendidikan dapat berperan dalam mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan pembangunan di masa depan.

Secara keseluruhan, diskusi hari ini menggarisbawahi pentingnya pembangunan regional yang inklusif dan berkelanjutan, serta keterlibatan aktif dari berbagai pihak termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat umum. Dengan pemahaman yang mendalam tentang konteks global dan lokal, Indonesia dapat terus maju menuju pembangunan yang lebih baik dan lebih merata bagi semua warganya.

Kemudian, Dr. Djoko Hartoyo memaparkan terkait dengan “Pengembangan Wilayah Rebana dan Jawa Barat Bagian Selatan”. Pada dasarnya pemerintah telah merancang berbagai program pemerataan pembangunan dan salah satunya dituangkan dalam kebijakan Perpres Nomor 87 tahun 2021, terdapat kesamaan peraturan untuk Jawa Tengah (79) dan Jawa Timur (80) pada tahun 2019. Meskipun demikian, ada perbedaan dalam penerapannya yang bisa dipengaruhi oleh faktor politik dan kebutuhan wilayah yang berbeda.

Proses mendapatkan dana untuk pembangunan tidaklah mudah meskipun telah tersedia anggaran. Di sisi lain, keberhasilan pembangunan wilayah di Majalengka merupakan contoh kesuksesan yang dihasilkan dari pendampingan yang intensif. Begitu juga dengan pembangunan infrastruktur lainnya, seperti jalan tol Cisumdawu dan Pelabuhan Patimban yang telah berhasil diselesaikan.

Selain itu, terdapat upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui berbagai program, termasuk melalui kegiatan KKN di desa-desa. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk akademisi dan mahasiswa serta pemanfaatan sumber daya lokal menjadi kunci dalam pencapaian ini. Selain fokus pada pengembangan wilayah, upaya juga dilakukan dalam mencapai keberlanjutan (sustainability) melalui berbagai inisiatif, seperti National Logistic Ecosystem, peningkatan konektivitas, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kemudian, upaya untuk mempertahankan lingkungan sebagai elemen utama dalam pembangunan juga ditekankan.

Sehingga, dalam upaya pengembangan wilayah dan pembangunan ekonomi, kita harus meningkatkan kesadaran akan pentingnya mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan secara seimbang untuk mencapai keberlanjutan. Hal ini memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta. Dengan sinergi yang baik, diharapkan pembangunan wilayah dapat dilakukan secara holistik dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

Assc. Prof. Riela Provi Diandra membahas ketertarikannya meneliti mengenai urban history yang menjadi passion khusus bagi seseorang untuk menggali lebih dalam tentang perjalanan sejarah perkotaan. Awalnya, ketertarikan ini muncul saat melihat kawasan historis di Kota Bandung yang kaya akan bangunan bersejarah, terutama pada tahun 1997 ketika banyak bangunan sejarah tiba-tiba hilang. Bersama dengan teman-teman di Bandung Heritage, minat ini berkembang menjadi kepedulian terhadap pelestarian warisan sejarah.

Ketertarikan semakin berkembang saat beliau mengunjungi Jepang dan kagum dengan fakta bahwa anak-anak usia 7 tahun sudah bisa naik kereta sendiri. Hal ini merupakan pengalaman pertama yang kontras dengan kondisi di Indonesia, sehingga mendorongnya untuk melakukan riset tentang lingkungan perkotaan yang ramah bagi anak dan keluarga.

Saat ini, ia tengah mengeksplorasi dua topik riset. Pertama, tentang kota-kota sejarah yang berkelanjutan secara lingkungan, dan kedua, tentang hubungan antara budaya pop dan kota. Salah satu penelitiannya berfokus pada situs-situs bersejarah Jomon di Jepang, di mana ditemukan bahwa masyarakat Jomong hidup secara berkelompok dengan tatanan sosial dan ekonomi yang maju, bahkan pada masa prasejarah.

Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa situs-situs bersejarah ini memiliki peran ganda sebagai tempat wisata sekaligus taman dan ruang hijau untuk masyarakat setempat. Mereka bukan hanya menjadi tempat untuk memahami sejarah, tetapi juga tempat untuk berinteraksi, belajar, dan bersantai.

Melalui riset ini, diharapkan bahwa infrastruktur dan kebijakan kota dapat dikembangkan untuk mempertahankan dan mempromosikan situs-situs bersejarah sebagai bagian integral dari kehidupan perkotaan. Hal ini juga akan memungkinkan lebih banyak orang untuk terlibat dalam pengalaman sejarah dan budaya, sehingga meningkatkan apresiasi dan pemahaman terhadap warisan sejarah kota

Kesimpulannya, para narasumber pada hari ini mulai dari Dr. Ir. Djoko Hartoyo, M.Mar.S;  Assc. Prof. Riela Provi Diandra, dan Prof. Ida Widianingsih, S.IP., MA., Ph.D menekankan pembahasan mengenai pengembangan wilayah, pelestarian warisan sejarah, dan peran perguruan tinggi dalam pembangunan. Mereka menyoroti pentingnya kolaborasi berbagai pihak dan pendekatan yang seimbang dalam mencapai keberlanjutan. Diskusi juga melibatkan topik global seperti pembangunan di wilayah Global South dan menekankan perlunya inovasi kebijakan dan kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi, serta masyarakat untuk pembangunan yang merata dan inklusif.