Lompat ke konten utama

Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Dosen Departemen Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad Siapkan Tenaga Penyuluh Pengasuhan di Desa Sagara Cipta

Bandung, Juli 2026 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Departemen Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) menyelenggarakan Program Penyiapan Tenaga Penyuluh Pengasuhan Tingkat Pra-Dasar bagi kader PKK dan Posyandu Desa Sagara Cipta, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Program yang berlangsung selama tiga bulan, mulai Mei hingga Juli 2026 ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas masyarakat dalam membangun keluarga yang lebih sehat, tangguh, dan berdaya.

Program dipimpin oleh Dr. Hery Wibowo, S.Psi., M.M. dengan anggota tim Dr. Hadiyanto A. R., S.Sos., M.I.Kom. dan Dr. Gigin G.K.B., S.Sos., M.Si. Sebanyak sekitar 50–60 kader PKK dan Posyandu mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat kemampuan mereka sebagai garda terdepan dalam edukasi pengasuhan di tingkat desa.

Menurut Ketua Tim Pengabdian, Dr. Hery Wibowo, keluarga merupakan lingkungan pertama sekaligus paling menentukan dalam pembentukan karakter, perkembangan sosial, dan kesejahteraan anak. Oleh karena itu, penguatan kapasitas kader-kader masyarakat yang selama ini aktif melayani keluarga melalui Posyandu dan PKK menjadi langkah strategis dalam membangun sistem dukungan pengasuhan berbasis komunitas.

“Kader Posyandu dan PKK merupakan aset sosial desa yang setiap hari berinteraksi langsung dengan keluarga. Ketika mereka dibekali pemahaman mengenai pengasuhan positif berbasis keberfungsian spiritual, mereka tidak hanya menjalankan pelayanan kesehatan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi agen edukasi keluarga yang berkelanjutan,” jelas Dr. Hery.

Menggunakan Model Pembelajaran Hybrid

Berbeda dengan pelatihan konvensional yang umumnya berlangsung hanya beberapa hari, program ini dikembangkan menggunakan pendekatan hybrid learning, yaitu mengombinasikan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring secara berkelanjutan.

Selama program berlangsung, peserta mengikuti tiga kali pelatihan luring yang diselenggarakan di Balai Desa Sagara Cipta dengan interval satu bulan. Di antara sesi tatap muka tersebut, proses belajar tetap berlangsung melalui komunitas WhatsApp Group, tempat peserta menerima materi harian dalam bentuk Kartu Belajar Parenting (KBP).

KBP merupakan paket edukasi singkat yang berisi berbagai materi dasar mengenai hubungan orang tua dan anak, komunikasi keluarga, pembentukan karakter, penguatan spiritual keluarga, hingga praktik pengasuhan positif yang mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini memungkinkan proses belajar berlangsung secara bertahap sehingga peserta memiliki kesempatan untuk mempraktikkan materi, merefleksikan pengalaman, kemudian mendiskusikannya kembali pada pertemuan berikutnya.

Penguatan Keberfungsian Keluarga sebagai Strategi Promotif dan Preventif

Dalam perspektif pekerjaan sosial, program ini merupakan bentuk intervensi promotif untuk memperkuat keberfungsian keluarga sekaligus preventif dalam mencegah berbagai persoalan sosial seperti disfungsi keluarga, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pengasuhan yang kurang tepat, hingga kenakalan anak dan remaja.

Materi yang diberikan tidak hanya membahas teknik pengasuhan, tetapi juga mengembangkan pendekatan aktivasi keberfungsian spiritual, tujuan global pengasuhan, serta pengenalan potensi fitrah anak sebagai fondasi pembentukan keluarga yang lebih harmonis.

Tim pengabdian meyakini bahwa penguatan keluarga perlu dimulai dari meningkatnya kesadaran orang tua mengenai peran mereka dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Menyiapkan Agen Penggerak Pengasuhan Positif

Program ini tidak berhenti pada penyelenggaraan pelatihan. Sebagai tindak lanjut, peserta yang telah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dipersiapkan menjadi Tenaga Penyuluh Pengasuhan Tingkat Pra-Dasar (Certified Parenting Facilitator – Pre-Basic Level).

Mereka diharapkan mampu menjalankan berbagai peran di masyarakat, antara lain:

  • menjadi agen sosialisasi pengasuhan positif di lingkungan masing-masing;
  • memfasilitasi penyebaran Kartu Belajar Parenting melalui media sosial dan komunitas warga;
  • menginisiasi forum-forum diskusi pengasuhan di tingkat RT, RW, Posyandu, maupun PKK;
  • serta menjadi mitra pemerintah desa dalam memperkuat edukasi keluarga secara berkelanjutan.

Model ini diharapkan membentuk spiral pembelajaran masyarakat, di mana kader yang telah memperoleh pelatihan kemudian berbagi pengetahuan kepada keluarga lain sehingga proses belajar berkembang dari rumah ke rumah, dari keluarga ke keluarga, dan dari desa ke desa.

Bagian dari Pengembangan Model Berbasis Masyarakat

Selain sebagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, program ini juga menjadi bagian dari pengembangan model pemberdayaan berbasis komunitas yang terus dikaji oleh Departemen Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad.

Melalui pendekatan living laboratory, berbagai pengalaman, refleksi, serta praktik yang dilakukan bersama masyarakat menjadi bahan pembelajaran untuk mengembangkan model intervensi sosial yang lebih kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan.

Tim berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, kader masyarakat, dan keluarga dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam memperkuat ketahanan keluarga Indonesia melalui pendekatan pendidikan sosial yang berakar pada kehidupan masyarakat.


Penutup

Salah satu inovasi program ini adalah penggunaan model hybrid community learning yang mengombinasikan pelatihan tatap muka, pembelajaran mikro melalui Kartu Belajar Parenting, refleksi berkelanjutan di komunitas WhatsApp, serta penyiapan kader sebagai fasilitator lokal. Pendekatan ini memungkinkan proses belajar tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi terus berlanjut di tengah kehidupan masyarakat sebagai bagian dari penguatan keberfungsian keluarga berbasis komunitas.

Program ini menunjukkan bahwa penguatan keluarga tidak selalu harus dimulai dari intervensi yang besar. Ketika kader-kader masyarakat memperoleh kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan kemudian berbagi kepada keluarga lain, maka proses perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Sejalan dengan semangat Universitas Padjadjaran untuk menghadirkan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat, program ini menjadi contoh bagaimana kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat menghasilkan model pemberdayaan yang tidak hanya menyelesaikan persoalan saat ini, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat untuk terus belajar dan saling menguatkan di masa depan.