Laporan Kusman Rusmana, Humas FISIP Unpad
[pps.fisip.unpad.ac.id, 04-08-2023] Bandung – Jumat,4 Agustus 2023 (09.00), , Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Hendra Manurung yang merupakan mahasiswa Doktoral Program Studi Hubungan Internasional resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi.
Promovendus dilahirkan di Semarang pada tanggal 13 Oktober 1973 dari pasangan Bapak Drs. Mangara Manurung (Alm) dan Ibu Marlyn Butar-Butar, sebagai anak pertama dari lima bersaudara. Pernikahannya dengan Rohaya Sinabariba, S.K.M dikaruniai 3 (tiga) orang anak yaitu Natasya Manurung, Rebecca Manurung, dan Michael Manurung. Riwayat Pendidikan : Pendidikan SD diselesaikan pada tahun 1986 di SDK Gergaji Semarang, SMP diselesaikan pada tahun 1989 di SMP YKM Bandung, SMA diselesaikan pada tahun 1992 di SMAN 8 Bandung, Jenjang pendidikan Sarjana Hubungan Internasional lulus pada tahun 1997 di Universitas Katolik Parahyangan, Program Magister diselesaikan pada tahun 2002 di Universitas Negara Sankt Petersburg Federasi Russia, dan pada semester ganjil tahun akademik 2019/2020 masuk kuliah Program Doktor Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung. Riwayat Jabatan/Pekerjaan, pada saat ini Promovendus menjabat sebagai Dosen pada Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Profesor Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta.
Disertasi yang diujikan menurut Hendra Manurung Kompetisi dan kontestasi power Amerika Serikat dan Cina berlangsung selama 10 tahun terakhir di Laut Cina Selatan telah memicu eskalasi ketegangan akibat gesekan kepentingan major-powers. Hal tersebut menjadi persoalan bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Dampak situasi geopolitik internasional terhadap hubungan bilateral antar negara menyebabkan kebijakan luar negeri bebas aktif Indonesia semakin relevan untuk memperjuangkan kepentingan nasional di Asia-Pasifik. Diplomasi Indonesia berkontribusi dalam pencapaian kepentingan nasional di tingkat regional maupun global.
Lingkungan eksternal memiliki kekhasan identitas, keunikan budaya, keanekaragaman masyarakat, dan interdependensi ekonomi. Bagi pengambil keputusan, pertimbangan kondisi internal maupun eksternal akan menjadi penentu berubah atau tidaknya kebijakan luar negeri sebuah negara.
Politik internasional dibentuk oleh lingkungan masyarakat dan sistem global yang dilakukan oleh sejumlah aktor, seperti: negara-bangsa, kelompok supranasional, transnasional dan subnasional dalam hubungan internasional yang dinamis (Octavian, 2021). Modernisasi dan upaya meningkatkan kapabilitas tempur Tentara Rakyat Cina dalam merespons perluasan kepentingan strategis Amerika Serikat untuk mempertahankan Taiwan (Taylor, 2017: 43). Pemerintah Indonesia juga menyambut positif inisiatif Jalan Sutra Maritim Cina (China’s Maritime Silk Road) yang dikemukakan Presiden Xi Jinping di depan Parlemen Indonesia November 2013 (Damuri, 2014: 5). Asia Tenggara memasuki periode ketidakpastian berkelanjutan lainnya saat kawasan ini sedang bertransisi dari tatanan unipolar era pasca- Perang Dingin menuju dunia multipolar, ditandai meningkatnya persaingan strategis diantara major powers (Syailendra, 2023).
Dalam menyikapi rivalitas Amerika Serikat dan Cina pada lingkungan strategis di Asia Pasifik, perilaku Indonesia sebagai actor negara menunjukan adanya realitas yang bertolak belakang atau berubah. Bila merujuk pada Ball (1996: 2), kerja sama keamanan multilateral merupakan aspek integral yang terus berkembang menuju terbentuknya arsitektur keamanan Asia-Pasifik. Secara dinamis, Indonesia mengadopsi penyesuaian yakni perubahan terhadap cara yang dilakukan dengan melibatkan instrumen baru, namun dengan tujuan yang tetap sama. Di Asia Pasifik, dengan Rusia Indonesia mengimplementasikan kebijakan luar negeri bebas aktif dalam implementasinya melalui instrumen kemitraan strategis dengan salah satu major power dengan tujuan agar Indonesia mampu mengimbangi rivalitas Amerika Serikat dan Cina sehingga Asia Pasifik tidak dijadikan sebagai zona konflik terbuka instrument karena potensi ancaman konflik terbuka. Sementara kebijakan yang diterapkan oleh Indonesia pada tahun 2014-2022 terhadap rivalitas Amerika Serikat-Cina lebih kepada upaya mengubah posisi dan sikap untuk mengedepankan kepentingan nasional Indonesia, dan bukan merupakan ancaman yang perlu dihadapi oleh global major powers dengan tujuan mengembangkan diplomasi pertahanan dalam Kawasan.
Pada periode tahun 2014-2019 menandai perubahan dalam kepemimpinan nasional dengan kepemimpinan Presiden Joko Widodo (2019-2022) menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun secara kondisi domestik tidak terdapat perubahan mendasar khususnya pada level institusi politik maupun kondisi sosial ekonomi.
Demikian dengan perubahan yang terjadi pada level internasional khususnya terkait kerja sama pertahanan, sistem internasional maupun aspek ekonomi internasional. Rolfe (2008: 99) menyebut sejumlah negara Asia Pasifik berkeinginan mengembangkan dan mewujudkan rejim keamanan regional. Oleh karena itu penelitian ini mencoba untuk melihat implementasi kerja sama pertahanan Indonesia bersama Rusia dalam kerangka stabilitas keamanan, yang dikonstruksikan pada diplomasi pertahanan.
Dengan memberikan penekanan pada analisis keterkaitan antara input, proses dan output kebijakan luar negeri dan kebijakan luar negeri Indonesia dalam merespon rivalitas Amerika Serikat dan Cina, penelitian ini mencoba menjawab permasalahan yang ada pada bagaimana diplomasi pertahanan Indonesia dalam kerangka implementasi kebijakan luar negeri bebas aktif diwujudkan melalui kerja sama pertahanan dengan salah satu major power menghadapi ancaman instabilitas regional walaupun tidak mengalami perubahan signifikan. namun menghasilkan output berupa keputusan Indonesia sebagai alternatif pemecahan masalah.
Penelitian yang secara spesifik mengangkat kerja sama pertahanan Indonesia dengan Rusia masih sangat terbatas. Salah satu isu terkait pencapaian stabilitas keamanan di level internasional adalah diplomasi pertahanan. Ancaman akan terjadinya konflik di kawasan dihasilkan dari ketidakmampuan organisasi regional bersama negara anggotanya dalam mengelola kepentingan global major powers berdampak pada multisektor. Di Asia Pasifik dan Asia Tenggara, Indonesia adalah mitra strategis Rusia. Namun, kerja sama pertahanan sejauh ini belum dianggap sebagai urgensi dan prioritas memajukan hubungan pertahanan bilateral.
Efektivitas strategis pertahanan merupakan kemampuan organisasi militer untuk memenuhi tujuan damai dan perang dalam mendukung kepentingan nasional negara. Penelitian Manurung dan Bainus (2021: 80) menunjukkan hubungan bilateral Indonesia- Rusia di Asia-Pasifik semakin dekat setelah kedua pemimpin negara sepakat untuk mempercepat draf perjanjian kemitraan strategis yang baru.
Terdapat beberapa kajian yang terkait diplomasi pertahanan, antara lain hubungan bilateral pertahanan dua negara di Asia Tenggara maupun dalam hubungan negara anggota ASEAN dengan negara lain di Asia-Pasifik serta elaborasi eksistensi diplomasi pertahanan juga ditemukan melalui hubungan pertahanan Kamboja dan AS (bilateral defense relations) seperti Stern, 2009; hegemoni regional dan penggunaan kekuatan oleh Indonesia dan Vietnam sebagai negara hegemoni di Asia Tenggara seperti Emmers (2005: 645).
Penelitian terkait diplomasi dan kerjasama pertahanan telah banyak dilakukan sebelumnya. Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya terletak pada dimensi keamanan regional yang terpolarisasi akibat rivalitas Amerika Serikat dan Cina dan terus berlangsung di Asia Pasifik, terkait kontestasi power dan persaingan hegemoni diantara kekuatan besar dunia. Namun, Indonesia dipersepsikan bukan sebagai ancaman melalui mekanisme diplomasi pertahanan. Berbeda dengan penelitian yang telah ada sebelumnya, penelitian ini melihat permasalahan adanya perubahan strategi sebagai bagian kebijakan luar negeri untuk menghadapi rivalitas kekuatan dunia dengan melihat pada konstruksi diplomasi pertahanan. Dalam proses pengambilan kebijakan pertahanan, pertimbangan faktor internal dan eksternal akan berkontribusi terhadap keputusan Indonesia untuk merespon rivalitas major power dengan tidak didasarkan pada mekanisme perimbangan kekuatan (balance of power) yang terjadi selama Perang Dingin. Strategi diplomasi pertahanan menjadi keniscayaan bagi aktor negara, menjadi potensi, dan peluang, serta kesempatan negara untuk memprioritaskan kerja sama internasional.
Penelitian ini mencoba melihat bagaimana proses diplomasi pertahanan terhadap kerja sama pertahanan antar negara untuk menjadi bagian dari penguatan kerja sama pertahanan dari perspektif Indonesia. Penelitian ini juga menyajikan kerangka pemikiran yang disusun dengan melakukan modifikasi terhadap proses kerja sama pertahanan yang mengikutsertakan faktor eksternal sebagai penentu dalam implementasi strategi pertahanan terkait terjadinya perubahan sifat perang, sifat dan bentuk ancaman digerakkan oleh perkembangan teknologi dan informasi (Bainus, 2018: 303). Dalam memahami hubungan bilateral pertahanan di Asia Tenggara, kebijakan luar negeri Indonesia menekankan sistem simbol, sistem kepentingan, dan sistem peran dalam memelihara keeratan hubungan bilateral, bahkan pada wilayah perairan yang tidak stabil (Kantaprawira, dkk., 2019: 155). Indrawan (2018: 94) menyebut pembangunan pertahanan negara seharusnya dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan sehingga menimbulkan efek penangkalan (deterence effect) mengacu pada pertimbangan strategi pertahanan dan kemunculan jenis ancaman masa mendatang.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini mengidentifikasi pattern dan kemudian dianalisis menggunakan critical discourse analysis. Kerja sama internasional dielaborasi dengan menggunakan teori diplomasi pertahanan. Informan dalam penelitian ini adalah para narasumber terkait dengan perumusan, pelaksanaan maupun pengamat kebijakan pertahanan dan luar negeri baik dari Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, Tentara Nasional Indonesia (TNI), maupun akademisi.
Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Dr. Wawan Budi Darmawan, SIP.,M.Si, Ketua Promotor . Prof. Dr. Arry Bainus, M.A. Anggota Tim Promotor Prof. Rusadi Kantaprawira. Drs Teuku Rezasyah, M.A., Ph.D serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata. Dr. Wawan Budi Darmawan, SIP.,M.Si. Dr. Arfin Sudirman,S.IP, MIR Representasi Guru Besar Prof. Dr. H. Nandang Alamsah D., S.H., M.Hum.Disertasi yang disusun berjudul “KERJA SAMA PERTAHANAN INDONESIA DAN RUSIA DALAM KERANGKA STABILITAS KEAMANAN REGIONAL DI ASIA- PASIFIK (2014–2022): STUDI TENTANG DIPLOMASI PERTAHANAN INDONESIA DI ASIA-PASIFIK” yang dinyatakan lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan”
Selamat atas diraihnya gelar Doktor kepada Dr. Hendra Manurung Semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan Intansi tempat bekerja.
Sumber : pps.fisip.unpad.ac.id