JATINANGOR, 26 Agustus 2026 — Departemen Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) melanjutkan rangkaian kegiatan Program Diaspora Berdampak Batch 1 yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan. Pertemuan yang dilaksanakan secara Hybrid pada Rabu, 26 Agustus 2026 di Gedung E Program Pascasarjana FISIP Unpad kampus Dago, kegiatan ini berfokus pada penyusunan peta jalan penelitian (research roadmap) berbasis kerangka Adaptive Governance and Complex Systems (AGCS), sekaligus membahas berbagai skema pendanaan riset eksternal dan internasional.
Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Kepala Departemen Administrasi Publik FISIP Unpad, Prof. Ida Widianingsih, Ph.D. Diskusi ini menghadirkan profesor tamu dari Flinders University, Australia, yaitu Prof. Indra Gunawan (Professor in Project Management and Innovation). Pertemuan ini dihadiri secara daring dan luring oleh lebih dari 30 orang dosen dan peneliti di lingkungan Fisip Unpad. Setidaknya ada dua Kepala Pusdi, yaitu Prof. Caroline Paskarina (Pusat Studi Desentralisasi dan Pembangunan Partisipatif, CDPD) serta Dr. John Fresley sebagai Pusat Studi Administrasi dan Kebijakan Publik. Prof Heru Nurasa dan Prof Budiman Rusli yang saat ini memimpin hibah penugasan skema ALG turut hadir dan berkontribusi dalam mematangkan Roadmap Riset Kolaboratif antara Fisip Unpad dan Flinders University. Kegiatan ini juga dihadiri beberapa dosen dari departemen administrasi publik, ilmu politik, kesejahteraan sosial, dan hubungan internasional.

Penyusunan Roadmap Riset AGCS dan Pentingnya Akses Pendanaan Eksternal
Diskusi diawali dengan merangkum ide-ide penelitian dari para dosen untuk melengkapi dokumen Roadmap Riset Kolaboratif Unpad–Flinders 2027–2029. Prof. Ida Widianingsih menyampaikan bahwa penyusunan topik riset ini bertujuan agar peneliti Unpad dapat menerapkan pendekatan pemikiran sistem (systems thinking) dan tata kelola adaptif untuk memahami masalah tata kelola publik di tingkat daerah maupun nasional.
Selain membahas topik riset, pertemuan ini mendiskusikan berbagai opsi pendanaan penelitian yang dapat diakses oleh peneliti. Prof. Ida Widianingsih menjelaskan bahwa dosen-dosen di FISIP Unpad umumnya sudah terbiasa mengajukan hibah riset internal Unpad atau Hibah Riset Unpad (HRU), yang sekarang dikenal dengan Hibah Penugasan, seperti skema Academic Leadership Grant (ALG), Riset Disertasi Dosen Unpad (RDDU), dan sebagainya. Padahal, aturanbaru terkait usulan kenaikan jabatan fungsional menekankan pentingnya rekam jejak penelitian yang menunjukkan tingkat kompetisi dari dosen pengusul. Oleh karena itu, Program Diaspora Berdampak ini diharapkan dapat mendukung dosen dalam menguatkan rekam jejak akademiknya. Khususnya terkait dengan kepemimpinan dalam riset melalui penulisan proposal dengan sumber pendanaan eksternal, baik dari lembaga-lembaga nasional, maupun internasional.
Kerjasama dengan akademisi diaspora membantu pembukaan akses ke jejaring riset internasional. Melalui kolaborasi ini, peneliti tidak hanya mendapat dukungan biaya riset lapangan, tetapi juga memiliki peluang untuk meningkatkan mobilitas akademik, memperluas jangkauan publikasi ilmiah, serta mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas.
Peluang dan Opsi Skema Pendanaan Riset dari Australia
Dalam pemaparannya, Prof. Indra Gunawan menjelaskan berbagai jenis pendanaan riset di Australia yang bisa dimanfaatkan melalui penelitian bersama (joint research). Pendanaan tersebut mencakup hibah internal kampus, hibah dari asosiasi profesi, hingga hibah skala nasional dari pemerintah Australia.
Prof. Indra Gunawan dan Prof. Ida Widianingsih memberikan gambaran mengenai beberapa skema pendanaan internasional yang relevan untuk dikembangkan bersama:
- ARC Discovery Projects: Skema hibah penelitian dari Australian Research Council (ARC) untuk penelitian dasar berskala internasional. Skema ini memungkinkan peneliti dari luar Australia bergabung dalam tim riset. Di dalamnya terdapat sub-skema Discovery Early Career Research Award (DECRA) yang ditujukan bagi peneliti muda dalam jangka waktu lima tahun setelah menyelesaikan studi doktoral.
- ARC Linkage Projects: Skema pendanaan yang mendorong kerja sama riset antara perguruan tinggi dengan mitra industri, pemerintah, atau lembaga publik untuk menyelesaikan masalah praktis di lapangan.
- Australia Awards Alumni Grant Scheme (AGS): Hibah pendanaan bernilai AUD $ 80.000 hingga AUD $100.000 yang ditargetkan bagi alumni perguruan tinggi Australia di Indonesia untuk menjalankan proyek riset maupun pengabdian masyarakat.
- KONEKSI Grant: Skema pendanaan kemitraan antara Australia dan Indonesia yang berfokus pada riset terapan untuk menghasilkan solusi nyata di bidang tata kelola lingkungan, kesetaraan sosial, dan inklusi.
Pengalaman Riset DAS Citarum, Pengelolaan Anggaran, dan Etika Penelitian
Sebagai contoh penerapan riset internasional, Prof. Ida Widianingsih membagikan pengalamannya saat menjalankan riset kolaboratif mengenai tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum berjangka waktu 16 bulan dengan pendanaan sebesar AUD $ 50.000 bersama Dr. Michaela Prescott dari Monash University melalui skema DECRA. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Tarumajaya sebagai wilayah hulu DAS Citarum dan kawasan terdampak banjir di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, untuk melihat hinteraksi sosial dan ekonomi masyarakat dengan fungsi sungai.
Dari pengalaman tersebut, Prof. Ida menjelaskan bahwa struktur anggaran hibah dari Australia memiliki aturan yang berbeda dengan hibah domestik. Pendanaan dari Australia tidak menyediakan alokasi honorarium untuk peneliti utama, melainkan dialokasikan untuk membiayai kebutuhan operasional riset secara fleksibel, seperti perekrutan asisten peneliti, biaya survei lapangan, analisis data, perangkat lunak pendukung, perjalanan konferensi internasional, serta akomodasi.
Prof. Ida Widianingsih juga mengingatkan pentingnya mematuhi aturan etika penelitian internasional. Penelitian yang melibatkan lembaga pendana luar negeri membutuhkan persetujuan etika (Ethical Clearance) dari komite etika di Australia dan di Indonesia. Selain itu, apabila pengumpulan data lapangan melibatkan peneliti asing, tim riset wajib melaporkan dan mengurus izin peneliti asing resmi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Data hasil riset juga perlu disimpan dengan aman selama minimal empat tahun sesuai standar etika yang berlaku.

Penggunaan Metodologi Pemodelan dan Penjagaan Integritas Publikasi
Mengenai aspek metodologi, Prof. Indra Gunawan menguraikan penggunaan metode System Dynamics dalam penelitian ilmu sosial. Pada tahap awal yang bersifat kualitatif, penggunaan Causal Loop Diagram (CLD) sudah cukup memadai untuk menganalisis akar masalah dan memetakan hubungan antarfaktor. Banyak jurnal internasional bereputasi menerima artikel riset yang analisisnya menggunakan tahap CLD ini. Namun, apabila peneliti memiliki data kuantitatif yang lengkap, pemodelan dapat dilanjutkan ke tahap simulasi Stock and Flow Diagram (SFD) menggunakan software seperti Vensim atau Powersim.
Di akhir sesi, Prof. Ida Widianingsih menekankan pentingnya menjaga integritas dan kualitas publikasi ilmiah. Para peneliti disarankan untuk cermat memilih jurnal tujuan, seperti jurnal yang terindeks Scopus (Q1 atau Q2), Unpad menyediaakan bantuan APC bagi mahasiswa dan dosen yang melakukan publikasi pada jurnal internasional bereputasi. Di Australia penerbitan artiklel juga memiliki standarisasi, misalnya jurnal harus terdaftar dalam Australian Business Deans Council (ABDC), serta menghindari jurnal yang berpotensi predator atau tidak dipubliksikan (discontinued).
Prof. Ida juga mengingatkan agar etika kepenulisan, termasuk co-authorship diterapkan secara wajar dan jujur tanpa adanya penulisan nama pihak yang tidak berkontribusi (free-rider). Hanya peneliti dan asisten yang betul-betul terlibat dalam perencanaan, pengumpulan data, dan penulisan artikel yang dicantumkan sebagai penulis.
Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan Tim Diaspora Berdampak Departemen Adminnistrai Publik FISIP Unpad selama 14 hari (24 Agustus – 5 September 2026). Agenda tersebut meliputi pembentukan Working Group Complex Systems and Adaptive Governance, pelaksanaan International Grant Proposal Bootcamp, Paper Sprint & Writing Clinic, serta sesi mentoring bagi mahasiswa program Magister dan Doktoral demi mendukung penyediaan kebijakan publik berbasis bukti. (RNI/HFR).
Oleh: Rafliza Nabil Imansyah & Hanna Fasya Ramadhani
