BANDUNG, 12 Agustus 2026 — Pusat Studi Desentralisasi dan Pembangunan Partisipatif, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran, memperkuat komitmennya dalam mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Berdampak di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.
Mengusung tema “Transformasi Desa Tarumajaya sebagai Desa Konservasi Berkelanjutan: Integrasi Ekonomi Sirkular, Digitalisasi Berbasis Komunitas, dan Pelestarian DAS Citarum”, kegiatan ini dipimpin oleh Prof. Ida Widianingsih, S.IP., M.A., Ph.D. Program tersebut dirancang sebagai pendampingan jangka panjang untuk memperkuat kapasitas masyarakat, kelembagaan desa, ekonomi lokal, serta pengelolaan lingkungan di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Desa Tarumajaya memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di kawasan titik nol (KM 0) DAS Citarum. Kondisi ekologis wilayah hulu memiliki keterkaitan erat dengan keberlanjutan ekosistem dan kualitas lingkungan di sepanjang aliran Citarum. Pada saat yang sama, desa masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain pengelolaan sampah dan limbah, keterbatasan akses terhadap lahan produktif, penguatan ekonomi masyarakat, kesenjangan akses digital, serta kebutuhan penguatan tata kelola pembangunan berbasis masyarakat.
Konsolidasi Program dan Penggalian Data Partisipatif
Sebagai bagian dari rangkaian PKM Berdampak, tim FISIP Unpad melaksanakan kegiatan lapangan pada Kamis–Minggu, 6–9 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh 11 dosen dan mahasiswa dan difokuskan pada persiapan, penggalian data, konsolidasi, serta pematangan program PKM yang akan dilaksanakan secara bertahap hingga 1 November 2026.

Selama kegiatan lapangan, tim melakukan penggalian informasi secara partisipatif dengan berbagai pemangku kepentingan di Desa Tarumajaya. Diskusi dan konsultasi dilakukan bersama Kepala Desa beserta jajaran Pemerintah Desa, kelompok masyarakat, serta pihak-pihak terkait lainnya untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kebutuhan, potensi, serta prioritas pembangunan desa.
Pendekatan tersebut sejalan dengan desain PKM Desa Binaan FISIP Unpad yang menempatkan masyarakat dan Pemerintah Desa Tarumajaya sebagai mitra strategis, bukan sekadar penerima program. Kegiatan dirancang dengan pendekatan Transformative Research dan Participatory Action Research (PAR), sehingga proses identifikasi persoalan, penentuan prioritas, hingga pengembangan solusi dilakukan melalui proses pembelajaran bersama.
“Program ini tidak dimaksudkan untuk membawa program dari luar desa, tetapi membangun proses bersama dengan masyarakat dan Pemerintah Desa. Karena itu, suara masyarakat, pengalaman lokal, dan kebutuhan desa menjadi dasar penting dalam menentukan arah pendampingan,” ujar Prof. Ida Widianingsih.
Menurutnya, transformasi Desa Tarumajaya perlu dilakukan secara terpadu. Persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari persoalan ekonomi masyarakat, demikian pula digitalisasi tidak akan berdampak optimal tanpa penguatan kapasitas kelembagaan dan partisipasi warga.
Tiga Pilar Transformasi Desa
Berdasarkan proses observasi, wawancara, diskusi, dan komunikasi intensif dengan Pemerintah Desa serta kelompok masyarakat, tim mengidentifikasi tiga bidang utama yang saling berkaitan, yaitu Green Circular Economy, Digital Economy, dan Konservasi. Ketiganya dirancang bukan sebagai program yang berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan dengan berbagai inisiatif yang telah berjalan di Desa Tarumajaya.
Pilar pertama adalah Green Circular Economy (GCE). Tim melihat adanya peluang besar untuk mengembangkan ekonomi lokal dengan memanfaatkan sumber daya dan limbah yang tersedia di desa. Limbah pertanian dan peternakan, misalnya, dapat dikembangkan menjadi kompos, pupuk organik, biogas, maupun produk lain yang memiliki nilai ekonomi.
Photo: Aktivitas GCE di desa Tarumajaya, pegolahan sampah domestic di TPS3R (sumber: kajian lapangan tim PKM Fisip Unpad 2026)
Di Desa Tarumajaya telah terdapat berbagai modal awal untuk pengembangan ekonomi sirkular, termasuk TPS3R di Dusun Lembangsari, kegiatan Jumat Bersih, serta IPAL Komunal Limbah Ternak di Dusun Lodaya yang berpotensi menghasilkan pupuk cair dan pupuk padat. Pemerintah Desa juga telah memiliki regulasi mengenai pengelolaan sampah serta pelestarian sumber mata air.
Pilar kedua adalah digitalisasi berbasis komunitas. Program ini akan memperkuat peran Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Cerdas Tarumajaya sebagai bagian dari ekosistem informasi, komunikasi, promosi produk lokal, edukasi lingkungan, dan pengembangan ekonomi digital. Penguatan digitalisasi juga akan diintegrasikan dengan kegiatan PKK dan Posyandu yang memiliki jaringan luas di masyarakat.
Pilar ketiga adalah konservasi DAS Citarum. Upaya konservasi diarahkan pada penguatan kesadaran masyarakat, perlindungan mata air, rehabilitasi lingkungan, serta pengelolaan sampah dan limbah agar tidak menjadi sumber pencemaran di kawasan hulu Citarum.
Ketiga pilar tersebut kemudian dikembangkan melalui kerangka kolaborasi Penta Helix, yang mempertemukan pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, dan media. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat jejaring, mobilisasi sumber daya, inovasi, serta keberlanjutan program.
Memperkuat Peran PKK, Posyandu, dan Masyarakat
Dalam proses penggalian data dan diskusi, tim juga melihat potensi besar PKK dan Posyandu sebagai modal sosial pembangunan Desa Tarumajaya. Kedua kelembagaan tersebut memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan dapat menjadi kanal partisipasi sekaligus penghubung antara Pemerintah Desa dan warga.
Karena itu, penguatan PKK dan Posyandu tidak hanya diarahkan pada pelayanan sosial, tetapi juga dapat dikembangkan untuk mendukung ekonomi lokal, digitalisasi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan. Ke depan, tim merencanakan penguatan kelembagaan melalui implementasi 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) Posyandu, penguatan administrasi dan data, serta pengembangan inovasi pelayanan berbasis kebutuhan masyarakat.

Selain itu, tim juga akan mengembangkan gagasan pilot project usaha bersama yang menghubungkan kapasitas kader PKK dan Posyandu dan kelompok masyarakat dengan potensi ekonomi lokal. Model ini akan memperhatikan aspek produksi, kelembagaan, pemasaran, akses pasar, teknologi digital, dan keberlanjutan pembiayaan agar usaha masyarakat tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata.
Menuju Model Desa Konservasi Berkelanjutan
Kegiatan 6–9 Agustus 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi program sebelum memasuki tahapan implementasi yang lebih konkret. Hasil sementara PKM menunjukkan telah terbentuk integrasi antara Green Circular Economy, Digital Economy, dan Konservasi, penguatan koordinasi multipihak dalam pengelolaan sampah dan limbah domestik, persiapan integrasi ekonomi digital dengan agenda PKK, serta identifikasi kebutuhan penguatan kelembagaan PKK dan Posyandu.
Pada tahap selanjutnya, Tim PKM FISIP Unpad bersama Pemerintah Desa Tarumajaya akan memprioritaskan penguatan ekonomi lokal melalui digitalisasi, pengembangan ekonomi sirkular, pengelolaan sampah dan limbah domestik terpadu, serta penguatan konservasi DAS Citarum. Seluruh proses akan tetap menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif.
Program ini merupakan bagian dari desain Desa Binaan FISIP Unpad 2026–2028, dengan tahun pertama difokuskan pada persiapan, pemetaan potensi, penguatan kapasitas, dan konsolidasi kemitraan; tahun kedua pada implementasi program ekonomi sirkular dan digitalisasi; serta tahun ketiga pada perluasan usaha, penguatan pembiayaan berkelanjutan, evaluasi dampak, dan penyusunan kebijakan untuk menjamin keberlanjutan program.
Tim PKM Fisip Unpad terdiri dari anggota dengan latar belakang keilmuan yang berbeda, diantaranya Dra. Mudiyati Rahmatunnisa, MA., PhD (Departemen Ilmu Politik), Dr. Rd. Ahmad Buchari, S.IP., M.Si. (Departemen Administrasi Publik), Anggia Utami Dewi, S.IP., MIS., PhD (Departemen Hubungan Internasional), Dr. John Fresley, S.H., LL.M. (Departemen Administrasi Publik), Dr. Ir. Andre Rivianda Daud, S.Pt., M.Si., IPM. (Fakultas Peternakan), dan Dian Permata Puspita, S.A.P., M.A.P. (Departemen Administrasi Publik). Tim ini juga didukung oleh mahassisa S1, S2 dan S3 dari Fisip unpad dan Fakultas Peternakan.
Melalui PKM Berdampak ini, FISIP Unpad menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi merupakan proses co-creation untuk menghasilkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan. Desa Tarumajaya diharapkan dapat berkembang menjadi model desa konservasi yang mampu mengintegrasikan perlindungan ekosistem, penguatan ekonomi masyarakat, transformasi digital, dan tata kelola kolaboratif. Dengan demikian, upaya menjaga DAS Citarum sejak hulu tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi membangun masyarakat desa yang lebih mandiri, inovatif, inklusif, dan berdaya tahan. (IW)