Meta Deskripsi: Kisah Rayna Nafiza Nurfadilah, mahasiswa Administrasi Publik Universitas Padjadjaran peraih Beasiswa VDMI yang menginspirasi

JATINANGOR, 25 Mei 2026 — Di tengah persaingan ketat memperebutkan beasiswa, Rayna Nafiza Nurfadilah, mahasiswa Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran angkatan 2025, membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir. Ia berhasil meraih Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia (VDMI) pada tahun 2026. Bagi mahasiswa asal Bandung ini, pencapaian tersebut bukan hanya sekadar prestasi akademik, melainkan juga hasil dari perjalanan panjang yang dipenuhi kegagalan, usaha, dan keteguhan hati.
Langkah Awal Yang Penuh Target
Sejak semester pertama, Rayna sudah menargetkan diri untuk mendapatkan beasiswa. Baginya, lolos beasiswa adalah pencapaian besar yang dapat meringankan beban orang tuanya. Namun, perjalanannya tidak mudah. Dari memasuki dunia perkuliahan, ia telah mendaftar beberapa beasiswa. Sayangnya, semuanya belum membuahkan hasil.
“Banyak banget beasiswa yang saya apply, tapi baru tembus di percobaan kelima,” ujar Rayna.
Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Ia justru menjadikannya bahan belajar untuk terus memperbaiki diri.
Dalam mengatasi rasa frustrasinya, Rayna memilih mengingat kembali motivasi dan target yang sudah ia tetapkan sejak awal tahun. Ia juga beruntung memiliki keluarga dan teman yang suportif. Dukungan emosional seperti semangat dan motivasi baru yang diberikan oleh lingkungannya membuat Rayna lebih kuat ketika harus menghadapi hasil yang belum sesuai harapan.
Makna Beasiswa VDMI
Beasiswa VDMI (Van Deventer-Maas Indonesia) adalah program bantuan pendidikan untuk mahasiswa D3/D4/S1 yang berprestasi dengan keterbatasan finansial. Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia mempunyai sejarah yang unik. Yayasan ini berasal dari pasangan Belanda yang pernah memiliki kekayaan di Indonesia. Karena tidak memiliki anak, mereka menghibahkan hartanya untuk pendidikan anak-anak di
Indonesia. Beasiswa ini juga tidak terbuka untuk semua kampus, melainkan hanya untuk universitas mitra, dan Universitas Padjadjaran Merupakan salah satunya.
Pada 2026, pendaftar dari Unpad mencapai 180 orang. Hanya 26 yang lolos ke tahap dua, dan akhirnya hanya 8 orang yang menjadi awardee, termasuk Rayna.
Kebanggaan dan Harapan

Bagi Rayna, lolos VDMI bukan hanya soal bantuan dana. Melainkan pencapaian pribadi yang sangat besar, sekaligus bukti bahwa perjuangan panjangnya tidak sia-sia. Statusnya sebagai orang pertama yang lolos beasiswa di keluarga besar juga menambah rasa bangga itu.
“Perasaan aku jujur sangat senang sih. Aku bisa meringankan beban orang tuaku, apalagi aku orang pertama yang lolos beasiswa di keluarga besar, jadi aku sangat bangga mengingat struggleku dalam mencapai hal tersebut cukup banyak,” katanya.
Rayna berharap beasiswa ini dapat ia pertahankan hingga lulus sarjana. Ia juga ingin terus berkembang, meningkatkan diri, dan mengeksplorasi hal-hal baru selama menempuh perkuliahan. Harapan itu menunjukkan bahwa baginya beasiswa bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Tips Bagi Mahasiswa Yang Ingin Meraih Pencapaian Serupa
Dari pengalamannya, Rayna memberi pesan agar mahasiswa tidak mudah menyerah setelah gagal di satu beasiswa. Menurutnya, kesempatan beasiswa di Indonesia masih sangat banyak, baik dari negara, perusahaan, maupun yayasan. Kuncinya adalah aktif mencari informasi dan tidak berhenti mencoba. Ia juga menyarankan mahasiswa Unpad memanfaatkan laman beasiswa.unpad.ac.id untuk mencari informasi beasiswa secara optimal. Dengan kebiasaan mencari info secara rutin, peluang untuk menemukan beasiswa yang tepat akan jauh lebih besar.
Kisah Rayna Nafiza Nurfadilah menunjukkan bahwa keberhasilan bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga soal ketekunan, kesabaran, dan kemauan untuk terus mencoba. Di balik satu pencapaian besar, selalu ada proses panjang yang membentuknya menjadi lebih kuat.
Davina Fadiyah Anindita