Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Endah Ratna Sonya Raih Gelar Doktor di Program Studi Antropologi

Laporan Kusman Rusmana, Humas FISIP Unpad

[pps.fisip.unpad.ac.id, 111/01/2024] Bandung – Kamis, 11 Januari 2024 (13.30), Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Endah Ratna Sonya yang merupakan mahasiswa Doktoral Program Studi Antropologi resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi.

Promovenda dilahirkan di Bandung pada tanggal 10 Februari 1977 dari pasangan     Bapak Drs. H. Ade Solihin, MM. dan Ibu Almh Hj. Eni Ratna Suminar, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Pernikahannya dengan Mochamad Ramdhan Firmansjah, S.E., M.Si., dikaruniai 2 (dua) orang anak yaitu Arkan Daffa Firmansyah dan Hannan Ghaziya Firmansyah. Riwayat Pendidikan: Pendidikan SD di SDN Tilil II Bandung, SD Inpres Oetete II Kupang, dan diselesaikan pada tahun 1989 di SDN Cibeunying I Bandung, SMP diselesaikan pada tahun 1992 di SMPN 16 Bandung, SMA diselesaikan pada tahun 1995  di SMAN 10 Medan, Jenjang pendidikan Diploma Akuntansi lulus pada tahun 1996 di Politeknik ITB, Jenjang pendidikan Sarjana Antropologi lulus pada tahun 2002                      di Universitas Padjadjaran, Program Magister Sosiologi dan Antropologi diselesaikan tahun 2006 di Universitas Padjadjaran, dan pada semester ganjil tahun akademik 2017/2018 masuk kuliah Program Doktor Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung. Riwayat Jabatan/Pekerjaan, pada saat ini Promovendus bekerja sebagai Dosen Tetap di Prodi Sosiologi FISIP Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, dengan jabatan sekertaris Komite Penjaminan Mutu FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung (periode 2019-2027) dan Anggota Senat UIN Sunan Gunung Djati Bandung (periode 2023-2027)..

Disertasi yang diujikan menurut Endah Ratna Sonya Aspek sosial ekonomi dan budaya, dalam hal ini jumlah penduduk yang tergusur pada pembangunan waduk lebih besar dari pembangunan lainnya dan hal ini berdampak terhadap perpindahan, mata pencaharian/pendapatan dan sistem nilai yang berlaku dalam kehidupannya, karena itu isu utama (main issue) pada pembangunan bendungan adalah aspek sosial (Suwartapradja, 2017).

Penduduk yang terkena pembangunan waduk yang tergusur dan harus pindah, akan mengalami perubahan yang mendasar karena mereka harus menyesuaikan diri (adaptation) di tempat yang baru (Abdoellah, 2017). Terdampak pembangunan yang jumlahnya cukup besar adalah pada pembangunan waduk. Jumlah penduduk yang harus pindah karena pembangunan waduk baik untuk pengadaan listrik, irigasi maupun pengadaan air minum disetiap negara jumlahnya cukup besar yaitu berkisar antara 40.000 jiwa sampai dengan 1,2 juta jiwa (Goldsmith, Edward dan Nicholas Hildiyard, 1993). Pembangunan waduk PLTA sangat mempengaruhi mata pencaharian masyarakat dan masyarakat yang dipindahkan secara paksa. Meskipun beberapa studi mengakui perkembangan positif dalam komunitas pengungsi setelah dipindahkan (Agnes et al., 2009; Nakayama et al., 1999; Scudder, 2005).

Secara universal penduduk yang terkena pembangunan baik pembangunan yang tidak tersendat, maupun pembangunan yang tersendat langsung melakukan perpindahan/migrasi terhadap daerah tujuan yang menjadi ilihannya. Pada pembangunan yang tidak tersendat penduduk yang berpindah  langsung menetap di tempatnya yang baru. Pada pembangunan yang tersendat sekalipun terjadi perpindahan secara permanen (migrasi) akan tetapi juga terjadi sirkulasi antara daerahnya yang baru dengan daerah asalnya untuk menggarap lahan yang telah dibebaskan dan tidak sedikit yang kembali lagi dan menetap ke daerah asalnya untuk menggarap lahannya yang telah diganti rugi (Suwartapradja, 2017).

Pada penelitian ini, karakteristik penduduk yang melakukan mobilitas sirkuler terdiri dari kondisi sosial yang meliputi pendidikan, pekerjaan, jarak dengan daerah asal dan kekerabatan dengan teman atau sanak keluarga; kondisi ekonomi yang meliputi pendapatan dan beban tanggungan keluarga; kondisi demografi yang meliputi jenis kelamin, usia dan status kawin; fasilitas transportasi yang menghubungkan daerah asal dengan daerah tujuan; serta kondisi daerah asal. Seseorang melakukan mobilitas karena adanya dorongan dari daerah asal (push factors) dan daya tarik dari daerah tujuan (pull factors), yang oleh  Lee (1987) disebut teori dorong Tarik atau  teori push factiors dan pull factors.

Kondisi sosial dalam penelitian ini adalah keadaan penduduk itu sendiri baik yang dikaitkan dengan lingkup keluarga maupun lingkup masyarakat sekitarnya yang lebih luas. Tingkat pendidikan terakhir dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan mobilitas. Itulah temuan dari penelitian ini. Mobilitas ulang-alik merupakan fenomena sosial, ekonomi, dan geografi. Adanya hubungan spasial antara tempat bekerja dan tempat tinggal pada waktu tertentu merupakan bagian dari mobilitas ulang-alik. Keputusan rasional individu untuk melakukan ulang-alik didasarkan pada preferensi dan pilihan untuk mendapatkan keuntungan maksimum yang diharapkan. Terbukanya kesempatan kerja dan tingkat upah yang tinggi berdampak positif terhadap peningkatan peluang ulang-alik, di mana pekerja cenderung mencari kesempatan kerja yang menguntungkan untuk para pekerja (Renkow, 2003).

Penelitian-penelitian terdahulu terkait pembangunan bendungan di negara-negara lain di dunia maupun di Indonesia dengan topik persoalannya mengenai dampak sosial ekonomi dan budaya, adapun topik mengenai mobilitas non permanen/sirkulasi Orang Terkena Dampak (OTD) belum banyak diteliti.

Hasil-hasil penelitian sebelumnya pada waduk di dunia berdasarkan uraian di atas, topik yang menjadi isu utama penelitian adalah mengenai mobilitas penduduk OTD pembangunan Waduk Jatigede Kabupaten Sumedang yang melakukan strategi adaptasi dikaitkan dengan fenomena mobilitas non permanen/sirkulasi yang terjadi.

Kajian yang diteliti, adanya pembangunan Waduk Jatigede, mengakibatkan Orang Terkena Dampak (OTD) pindah di sekitar genangan. Entry pointnya, bagaimana OTD yang pindah itu (migran) mempertahankan kelangsungan hidupnya. Migran yang berlatar petani dan tidak mempunyai lahan, bagaimana mempertahankan kelangsungan hidupnya, ini yang di kaji.

Penelitian-penelitian lainnya tidak memasukkan analisis tentang perpindahan yang tidak permanen, sensus dan data survei nasional hanya meliputi perpindahan jarak jauh dan permanen. Berbeda dengan penelitian ini, yang mengkaji mengenai mobilitas non permanen/sirkulasi OTD pembangunan Waduk Jatigede. Oleh karena itu, penelitian ini menyajikan kerangka pemikiran, perpindahan Orang Terkena Dampak (OTD) pembangunan Waduk Jatigede dari bawah genangan ke tepian waduk menyebabkan adaptasi penduduk Orang Terkena Dampak (OTD), karena asset terbatas, menyebabkan mobilitas tidak hanya di daerah tempat tinggalnya yang sekarang ini, akan tetapi juga berusaha ke luar daerah dan atau ke kota, sehingga mencerminkan dan atau terkait dengan kajian yaitu adanya mobilitas non-permanen (sirkulasi) dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Kepindahan penduduk atas pilihan sendiri pada pembangunan yang terwujudkan langsung pindah ke daerah yang menjadi pilihannya. Mereka merintis kehidupannya ditempat yang baru baik dengan cara bertani kembali, berdagang ataupun usaha lainnya. Pada fase sesudah penggenangan terdapat OTD yang berhasil beradaptasi di daerah setempat dan menggarap lahan hasil ganti rugi, ada pula OTD yang tidak berhasil melakukan adaptasi didaerah setempat karena keterbatasan asset, sehingga melakukan mobilitas non permanen.

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan metode kuantitatif (mixed method). Penggunaan metode yang dominan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. kuantitatif dipergunakan untuk mengkuantifikasikan data dalam penentuan jumlah sampel Orang Terkena Dampak (OTD) terdampak pembangunan Waduk Jatigede dari seluruh populasi OTD yang berpindah ke Desa Wado. Selanjutnya, lebih dominan dipergunakan metode penelitian kualitatif untuk menggali informasi lebih mendalam terkait dengan strategi penghidupan mereka. Alasan pemilihan tempat penelitian  (locus) di Desa Wado, adalah karena Desa Wado merupakan Desa yang tergenang sebagian dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) paling banyak. Objek sosial penelitian adalah OTD di Desa Wado yang melakukan mobilitas penduduk, terdiri dari informan pangkal yaitu perangkat Desa Wado dan ketua-ketua RT Dusun Kampung Baru, sedangkan informan kunci adalah OTD di Desa Wado, Dusun Kampung Baru.

Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Prof. Ida Widianingsih, S.IP, M.A, Ph.D. Ketua Promotor . Prof. Dr. Drs. H. Opan Suhendi Suwartapradja, M.Si. Anggota Tim Promotor, Rini Soemarwoto, S. Psi, M.A.,Ph.D, Drs. Budhi Gunawan, M.A., Ph.D serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Drs. H. Haryo S. Martodirdjo, Prof. Dr. Drs. H. Opan S. Suwartapradja, M.Si, Prof. Johan Iskandar, Ph.D, Dr. Drs. Budi Rajab, M.Si. Representasi Guru Besar Prof. Dr. Drs. H. Budiman Rusli, M.S.Disertasi yang disusun berjudul MOBILITAS PENDUDUK TERDAMPAK PEMBANGUNAN WADUK JATIGEDE SUMEDANG JAWA BARAT (Studi Kasus Adaptasi Budaya Mobilitas Non-Permanen Di Desa Wado Kecamatan Wado). yang dinyatakan lulus dengan predikat “Memuaskan”

Selamat atas diraihnya gelar Doktor kepada Dr. Endah Ratna Sonya Semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan Intansi tempat bekerja.

 

Sumber : pps.fisip.unpad.ac.id