Bandung, 14 April 2022

Prof Emmanuel Gerard berbincang bersama Dekan FISIP Unpad Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, M.T., M.Si., Wakil Dekan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan & Riset Ida Widianingsih, S.IP., M.A., Ph.D juga Mudiyanti Rahmatunnisa, M.A.,Ph.D ( Kepala Prodi Pascasarjana Ilmu Politik Unpad ) selaku moderator

Kamis,  14 April 2022 telah terselenggara kuliah umum bersama Prof Emmanuel Gerard ( Penulis Buku “ Death in the Congo – Murdering Patrice Lumumba” dari Centre for Political Research Katholieke Universiteit Leuven – Belgium ). Dilaksanakan secara hybrid kegiatan ini bertempat di Gedung E FISIP Unpad Dago. Dibersamai oleh Mudiyanti Rahmatunnisa, M.A.,Ph.D ( Kepala Prodi Pascasarjana Ilmu Politik Unpad ) selaku moderator, kuliah ini mengupas terkait dengan buku yang ditulis oleh pembicara.

Professor Emmanuel Gerard (Centre for Political Research Katholieke Universiteit Leuven – Belgium) berkesempatan untuk membahas buku berjudul “Death in the Congo – Murdering Patrice Lumumba” yang ditulisnya secara detail dan atentif. Patrice Lumuba yang namanya tertera pada judul buku ini merupakan perdana menteri Congo yang menjabat pada tahun 1960. Sayangnya, Ia hanya memiliki masa jabatan seumur jagung. Pembunuhannya yang tragis pada tahun 1961 menyebabkan bencana bagi Congo. Terjadi krisis yang melibatkan pihak internasional hingga akhirnya Congo jatuh ke tangan pemerintahan diktatorial di tangan Mobutu yang berkuasa selama lebih dari 30 tahun.

Sebelumnya, terdapat serangkaian peristiwa yang mengarah kepada pembunuhan Sang nasionalis tersebut. Serangkaian perlawanan terhadap Lumumba dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari oposisi, yaitu Kasa-Vubu, Pemerintah Belgium, hingga PBB. Pertumpahan darah terjadi ketika setiap pihak yang terlibat berusaha untuk memperjuangkan kepentingannya masing-masing. Tewasnya sekretaris jenderal PBB saat itu, yaitu Dag Hammarskjöld dalam kecelakaan pesawat saat berusaha melakukan negosiasi bahkan dianggap sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan suatu kepentingan tertentu.

Kolonialisme Belgium di Congo telah dimulai sejak pemerintahan Leopold II pada tahun 1885. Akhirnya, pada tahun 1956, serangkaian aksi protes dan demonstrasi dilakukan oleh rakyat Congo untuk menuntut kemerdekaan. Pada akhir tahun 1950-an, muncullah dua nasionalis Congo yang berada pada sisi yang berbeda dengan menganut idealisme mereka masing-masing. Kedua nasionalis tersebut adalah Patrice Lumumba dan Joseph Kasa-Vubu. Keduanya sama-sama menginginkan kemerdekaan, hanya saja mereka memaknai kemerdekaan dengan cara yang berbeda. Akhirnya, pada tahun 1960, melalui konferensi meja bundar yang diadakan di Brussels, Congo berhasil memperoleh kemerdekaannya.

Konflik yang sebenarnya baru dimulai setelah diberikannya kemerdekaan kepada Congo oleh Belgium. Segera setelah itu, terjadi perebutan kekuasaan di antara Lumumba dan Kasa-Vubu. Kasa-Vubu menginginkan kemerdekaan yang tidak jauh berbeda dari masa kolonialisme, sementara Lumumba menginginkan kemerdekaan yang disertai oleh perubahan sosial. Konflik tersebut berakhir dengan menjabatnya Kasa-Vubu sebagai presiden, sedangkan Lumumba menjadi perdana menterinya. Terjadi peristiwa fenomenal setelah keduanya menjabat. Dalam pidato kepresidenannya,  Kasa-Vubu menganggap bahwa Leopold II yang memulai kolonialisme di negaranya sebagai seorang bapak pembawa perubahan yang mengenalkan peradaban kepada Congo. Sementara itu, dalam pidato Lumumba di hari yang sama, Ia mengecam kolonialisme selama lebih dari 70 tahun tersebut sebagai tidak lebih dari bentuk perbudakan dan penindasan.

Posisi perdana menteri yang didapatkan Lumumba ternyata berbalik kepada Kasa-Vubu karena sebagai perdana menteri, Lumumba justru memiliki kontrol yang kuat atas pemerintahan. Dilancarkannya agresi militer Belgium terhadap Congo meski sebelumnya telah terjadi penandatangan perjanjian persahabatan membuat Lumumba marah. Ia berusaha untuk menyingkirkan Belgium dari Congo dan bahkan meminta bantuan dari dunia internasional. Tentunya hal tersebut membahayakan kepentingan Belgium di Congo. Seperti yang diketahui, Congo merupakan negara yang kaya akan bahan tambang, salah satunya adalah uranium. Kekuasaan Lumumba dianggap dapat membahayakan bisnis Belgium. Provinsi terkaya di Kongo, yaitu Katanga, dengan dukungan dari Kasa-Vubu dan pemerintah Belgium berusaha untuk memisahkan diri dari Congo. Kekacauan pun dimulai ketika tentara melakukan penolakan terhadap perintah (mutiny) dan Lumumba kehilangan kendali atas kekuasaan.

Krisis yang terjadi kemudian menarik perhatian dunia internasional sampai-sampai Dewan Keamanan PBB turun tangan untuk menyelesaikannya. Sebanyak 11 anggotanya dan 20.000 “tentara helm biru” dikirim ke Congo. Upaya ini didukung oleh Presiden Amerika, Eisenhower, yang berusaha untuk menjauhkan Uni Soviet dari Afrika. Pada masa perang dingin, posisi Congo di Benua Afrika memang sangat strategis. NATO mempunyai ketakutan jika jatuhnya Congo ke tangan Uni Soviet akan membuat seluruh Afrika berada di dalam kekuasaan komunis. Sementara itu, Lumumba sendiri tidak menginginkan adanya intervensi dari PBB dan mulai beraliansi dengan Uni Soviet dalam pengadaan senjata. Ia dan orang-orangnya berjuang untuk melawan aliansi PBB dan Belgia dengan dukungan dari negara-negara di Asia dan Afrika juga pihak Komunis.

Kelompok nasionalis Congo yang menentang Lumumba, Belgium, Amerika, serta PBB membuat aliansi untuk mencopot Lumumba dari kekuasaan. Bersamaan dengan itu, situasi Congo yang terpecah-belah menjadi beberapa sisi kemudian berujung kepada terjadinya perang saudara. Nyawa dan kekuasaan Lumumba menjadi terancam hingga Ia perlu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Terjadi upaya untuk saling mengkudeta yang dilakukan oleh baik Lumumba maupun Kasa-Vubu. Hal tersebut akhirnya berakibat pada terjadinya kekacauan yang lebih parah. Kasa-Vubu, dengan intervensi dari PBB melakukan pemblokiran terhadap Lumumba dari media Congo. Meskipun begitu, tetap saja PBB memberikan pernyataan bahwa mereka tidak memihak siapapun. Khrushchev, pemimpin Uni Soviet yang menjabat saat itu, bahkan turut menyatakan bahwa PBB memberikan dukungan kepada salah satu pihak. Gizenga, yang merupakan salah satu petinggi dari partai yang dipimpin Lumumba, berusaha untuk mempertahankan posisi Lumumba dalam kekuasaan. Upaya tersebut ternyata gagal dan berujung kepada penangkapan Lumumba oleh tentara yang diperintahkan oleh Kasa-Vubu. Setelah penangkapannya itu, Lumumba sempat ditahan sebelum akhirnya dieksekusi pada 17 Januari 1961.

Bahkan setelah eksekusi Lumumba dengan cara ditembaki di hutan pun, masih terjadi peredaran disinformasi mengenai kematiannya. Munongo yang saat itu memimpin Provinsi Katanga menyatakan bahwa Lumumba dibunuh oleh warga desa. Ia membantah tuduhan pembunuhan Lumumba dan menantang adanya pembuktian.

Setelah kematiannya yang tragis itu, hingga kini, Patrice Lumumba masih terus dikenang. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh perjuangan penting dalam sejarah pembebasan Afrika. Sementara itu, di dalam sejarah Indonesia sendiri, Lumumba dikenal sebagai seorang yang mendukung “Bandung Spirit”.

Laporan : KUI Fisip Unpad Nadia Tiana Nazeeya