Little Hope: Akselerasi Pembelajaran Daring untuk Anak-anak Disabilitas

PROFIL PESERTA PEMILIHAN MAHASISWA BERPRESTASI FISIP UNPAD 2021

Yasmin Nur Habibah Hubungan Internasioanl Fisip UnpadNama: Yasmin Nur Habibah

Prodi: Hubungan Internasional

Angkatan: 2018

Motto Hidup: Vouloir, c’est Pouvoir (If you want something, you can get it.)

Topik Gagasan Tertulis: : Little Hope: Akselerasi Pembelajaran Daring untuk Anak-anak Disabilitas

EXECUTIVE SUMMARY

Mengapa Inovasi ini Diperlukan Masyarakat Indonesia: Berbicara mengenai kesetaraan pendidikan tidak luput dari banyaknya tantangan yang dialami anak-anak disabilitas. The Little Hope akan memfasilitasi anak-anak disabilitas melalui pemberian paket pembelajaran interaktif yang akan membantu proses akselerasi dan improvisasi pembelajaran daring anak-anak disabilitas dengan meningkatkan peran orangtua dan guru.

1. Informasi Program

Judul Program :

Little Hope: Your Tangible Solution in Supporting Equality Education for Disabled Children

Donatur :

Bank CIMB Niaga, Telkom University, PT. XL Axiata Tbk., PT. Pertamina, PT. BPD Jawa Barat dan Banten, Tbk., Urun Dana melalui KitaBisa.com (WNI) dan Gofundme (WNA).

Tujuan Pembangunan :

Untuk meningkatkan kapabilitas dan mempermudah guru dan orang tua dalam mengaplikasikan metode pembelajaran yang baik sekaligus menyenangkan bagi anak disabilitas melalui metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (SCL) selama di rumah. Selain itu, program ini berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait eksistensi pelajar disabilitas sebagai kelompok yang paling signifikan terkena dampak pandemi.

Cakupan Geografis/Kelompok :

Anak-anak disabilitas berusia 3-17 tahun yang berlokasi di Provinsi Jawa Barat.

Nama Mitra Implementasi (Organisasi/Stakeholder) :

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, UNICEF in Indonesia, Save The Children Indonesia, Biruku Indonesia, Kojo Creative House, DCI Visual, Raiment Indonesia

Status Hukum Organisasi :

Organisasi nonpartai, nonprofit, dan semiotonom

Periode Program :

13 Bulan

Jumlah Pengajuan Anggaran :

Rp340.400.000

Nama Program Terkait di SDGs :

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 4 – Pendidikan Bermutu (Quality Education)

 

2. Ringkasan Proyek

Setiap manusia berhak atas pendidikan yang berkualitas, tidak terkecuali bagi anak-anak disabilitas. Anak-anak penyandang disabilitas selalu menghadapi berbagai bentuk diskriminasi yang menyebabkan mereka dikucilkan dari masyarakat dan sekolah. Sikap terhadap anak-anak penyandang disabilitas, serta kurangnya sumber daya untuk menampung mereka, menambah tantangan yang mereka hadapi dalam mengakses pendidikan.

Meskipun kurangnya akses ke sekolah merupakan masalah, ketidakmampuan sistem pendidikan untuk memastikan pendidikan berkualitas bagi anak-anak penyandang disabilitas masih dinyatakan sebagai masalah besar di hampir seluruh negara. UNICEF telah menyatakan komitmennya mengikuti hukum internasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) nomor 4 terkait masalah ini.

Untuk mencapai SDG nomor 4, Konvensi Hak Anak (CRC) adalah hukum dasar yang digunakan UNICEF untuk mengusulkan kerangka kerja Pendidikan untuk Semua (Education for All) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar semua anak tanpa terkecuali. Ada juga Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD) yang menetapkan kewajiban bagi semua negara untuk memastikan pemenuhan anak-anak penyandang disabilitas atas semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental atas dasar kesetaraan dengan anak-anak lain, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan formal dan pengalaman belajar seumur hidup.

Sementara itu, situasi pandemi ini telah memberikan dampak signifikan bagi anak-anak penyandang disabilitas. Kebutuhan mereka untuk berkomunikasi dengan praktisi ahli, lingkungan yang spesifik, dan peralatan khusus sulit terpenuhi karena keterbatasan alat dan kemampuan orang tua dalam menangani perilaku anak-anak mereka yang istimewa.

Oleh karena itu, banyak sekolah memilih berinovasi secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Upaya ini sejalan dengan sistem yang sedang diusung dunia, yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student-Centered Learning), yang dalam konteks ini, efektivitasnya harus dianalisis lebih dalam lagi. Situasi yang mendesak ini telah membuat anak-anak penyandang disabilitas menjadi lebih rentan terhadap pendidikan dan penerimaan secara sosial.

Hal ini dapat dikatakan karena gerakan mandiri oleh sekolah berpotensi tidak berkelanjutan, jika masyarakat umum tidak mendukung dan menyadari keadaan tersebut. Joachim Theis (2018) menyatakan bahwa pemajuan hak anak harus dilakukan melalui dua cara, yaitu pengarusutamaan pendekatan pembangunan yang berbasis hak asasi manusia serta penerapan akuntabilitas dan partisipasi publik. Ia juga mengatakan bahwa tindakan ini dapat diaplikasikan dalam situasi krisis, di mana inovasi dan kepercayaan masyarakat diperlukan untuk mendukung lebih banyak aksi-aksi kolaboratif.

Teori dasar ini berkorelasi iv dengan data pemerintah Indonesia terkait kemunculan banyak gerakan sosial di tengah pandemi COVID-19. Disebutkan, hingga November 2020 telah dilakukan 1400 gerakan dengan berbagai target untuk mendukung kesejahteraan masyarakat di tengah pandemi.

Oleh karena itu, mendukung hak asasi manusia (khususnya anak penyandang disabilitas) dengan melakukan gerakan sosial dapat menjadi solusi yang nyata dan berpotensi menarik dukungan pemerintah dalam jangka panjang. Solusinya, Little Hope hadir sebagai proyek sosial dari pemuda untuk mendukung anakanak penyandang disabilitas dengan memberikan sarana interaktif dalam meningkatkan kualitas SCL yang berbasis di rumah.

Sesuai dengan standar kebutuhan belajar disabilitas (UNICEF, 2017), yaitu kegiatan berunsur nyanyian, tarian, dan gerakan; permainan rias; dan permainan sensorik, proyek ini terdiri dari sebuah paket harapan yang dibungkus dengan cover yang lucu dan menarik untuk dikirimkan kepada anak-anak.

Berikut fasilitas yang disediakan dalam paket Little Hope: buku panduan sebagai panduan umum tantangan dan daftar tugas yang dijalankan selama satu bulan (dapat diulang untuk jumlah yang tidak terbatas), pengeras suara berukuran mikro yang terdiri dari lagu-lagu bahasa asing untuk menemani siswa melakukan kegiatan olah tubuh; sebuah diska lepas yang berisi tutorial menyanyi, menari, dan kegiatan pembelajaran menggunakan bahasa isyarat; lima paket pasir dan lilin buatan yang akan mendukung keterampilan berpikir kreatif anak; dan lima paket mainan sensorik yang terdiri dari mainan dan peralatan sensorik tematik, seperti gunting, kertas origami, dan lem.

Sebagai rencana jangka pendek, Little Hope akan diujicoba di seluruh Jawa Barat karena jumlah anak difabel sudah mencapai lebih dari 50.000 orang pada tahun 2020. Dengan mengajak dan mendukung gerakan pemuda untuk melakukan pendekatan langsung, penelitian, dan pendistribusian ke beberapa sekolah disabilitas, tujuan lain dari proyek ini – yaitu meningkatkan kesadaran untuk mendukung pendidikan berkualitas bagi anak-anak penyandang disabilitas – dapat dicapai secara bertahap.

Dalam jangka panjang, penulis berharap dapat memperluas cakupan distribusi Little Hope ke skala nasional, sehingga banyak anak penyandang disabilitas yang akan terdukung proses pembelajarannya dengan menggunakan alat bantu belajar ini. Tentunya dengan mitra masyarakat yang lebih luas dan dukungan pemerintah, Little Hope dapat dianggap sebagai salah satu solusi jangka panjang untuk melibatkan masyarakat dalam mencapai kualitas pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Link Video : GAGASAN KREATIF PILMAPRES FISIP UNPAD ATAS NAMA YASMIN NUR HABIBAH #SatuFisipBangga