Butet Manurung Antropologi dan Sokola Rimba

Antropologi adalah ilmu krusial yang mendukung keberagaman dan jatidiri Indonesia.

Salam Fisip, nama saya Saur Marlina Manurung, saya angkatan 1991 dari Antropologi, IPK saya sedang sedang saja 2,89, lulus dalam 7 tahun.

butet manurung fisip unpad sokola rimba

Saya biasanya dipanggil “butet”. Betul, saya orang Batak, biasanya nama butet diberikan pada  bayi perempuan sebelum ia punya nama, tapi nama itu selalu jadi panggilan saya sejak kecil.

Perjodohan saya dengan Antropologi itu tidak lazim. Waktu SMA, jurusan saya adalah fisika (dulu disebutnya A1), karena saya mahir matematika, pelajaran yang paling saya tidak sukai adalah Sejarah, nilainya merah di ijazah SMA saya. Lucu, karena antropologi adalah cabang dari ilmu sejarah. Di sisi lain, saya sudah mencintai alam bebas sejak kecil, saya mengidolakan tokoh dalam film Indiana Jones, profesor arkeolog yang gemar bertualang ke alam bebas, membantu komunitas adat mempertahankan diri. Sejak kecil saya bercita-cita ingin bekerja di tengah hutan, gunung atau apa saja yang penting di tengah alam. Saya sangat takut bekerja di dalam kantor dan duduk melulu.

Saya rasa saya tahu apa yang saya inginkan sejak kecil. Waktu kecil, saya sangat mencintai buku, ini efek dari ayah saya yang melarang saya pergi ke rumah teman dan tidak boleh mengikuti extra kurikuler apapun saking ia takut saya celaka dan tidak fokus belajar. Oleh sebab itu, pelarian saya adalah membaca buku, saya punya banyak sekali buku. Umur 9 tahun, saya sudah membuka perpustakaan berbayar. Tetangga meminjam dan membayar sewa, uangnya saya belikan buku lagi. Bukunya banyak yang hilang tentu saja.

Saya juga gemar menulis jurnal, sudah saya lakukan sejak umur 10 tahun, awalnya untuk mencatat PR karena saya sering lupa. Saya sering menulis cerpen dalam pelajaran mengarang, pernah dimuat di majalah Bobo dan menghiasi mading sekolah, juga menulis puisi, dan membaca sastra. Akhirnya di tahun ketiga kuliah antropologi, saya ikut ujian UMPTN lagi dan lolos masuk jurusan sastra Indonesia, di Unpad juga. Jadi sejak itu saya kuliah di dua jurusan. Keduanya lulus, walaupun terseok. Saya lulus Antropologi ditahun ke-7, hampir mendapat surat teguran. Ini juga disebabkan karena saya sangat aktif dalam kegiatan di perhimpunan Pecinta Alam Palawa Unpad. Saya melakukan banyak ekspedisi sepanjang kuliah, mulai dari penelusuran dan pemetaan gua bersama tim putri di Sulawesi Selatan, pendakian di jayawijaya Papua, arung jeram, panjat tebing, dan berorganisasi serta melatih angkatan baru, sayasering terlibat.

Ketiga kegiatan saya ini (kuliah di dua jurusan dan aktif di ekstrakurikuler), betul-betul berkontribusi membentuk kepribadian dan kompetensi saya. Saya selalu tahu apa yang saya mau, tetapi tidak tahu mencarinya dimana. Selepas lulus S1 Antropologi (dan masih skripsi Sastra Indonesia) di tahun 1998, saya pernah bekerja menjadi asisten peneliti di Pusat Studi Wanita Unpad, saya juga pernah menjadi pemandu di taman nasional, lebih untuk mendampingi biolog ataupun ilmuwan yang datang ke hutan, namun saya merasa tidak sreg. Ketika saya melihat lowongan di koran oleh sebuah lembaga (LSM) konservasi di Jambi tentang dibutuhkannya seorang antropolog untuk menjadi fasilitator pendidikan pada komunitas Orang Rimba (komunitas peburu-peramu yang nomaden/berpindah-pindah, saya langsung jatuh hati dan berkata pada diri saya “ini pekerjaan sempurna!”. Buat saya pekerjaan sempurna itu melibatkan otot, otak dan hati, tidak boleh ada yang ketinggalan. Saya pun diterima bekerja disana di tahun 1999.

Pekerjaan ini membuat saya seakan menemukan perasaan yang saya cari-cari, berada di hutan serta membuat saya merasa dibutuhkan dan berguna. Saya melakukan banyak pendekatan dan penelitian untuk lebih memahami kebutuhan mereka. Dibutuhkan waktu 7 bulan, hingga akhirnya mereka mau menerima dan berteman dengan saya. Hutan ini luasnya 60,000 hejtar, butuh 4 hari untuk jalan dari satu sisi ke sisi lain, ada 12 kelompok adat yang tersebar didalamnya, saya mengunjungi satu-persatu, dan satu-persatu pun menolak saya. Pengalaman saya di Palawa Unpad memberi kemampuan tinggi dalam beradaptasi di rimba dan tidak mudah menyerah. Saya belajar keras bahasa mereka agar hisa berkomunikasi, saya ikut memakai sarung berkemban, ikut berburu dan memakan apa saja yang mereka makan, seperti kancil, landak, ular piton, kelelawar, saya juga dikejar beruang, berhadapan dengan ular kobra, dihardik Orang Rimba disuruh pulang, diancam pencuri kayu karena takut dilaporkan, sementara keluarga besar saya menyuruh saya berhenti bekerja. Singkat cerita, saya berhasil mendekati Orang Rimba. Sejatinya saya hanya merekomendasikan model pendidikan yang pas buat masyarakat seperti mereka kepada stakeholder setempat, namun hubungan dengan komunitas adat adalah berdasar kepercayaan. Mereka tidak mau diajar orang lain, hanya mau diajar oleh saya. Tanpa latar belakang guru, saya nekat mengajar, untunglah saat di sastra Indonesia saya belajar linguistik dan menulis, sangat berguna buat saya menyusun bahan mengajar membaca dan menulis di rimba. Saya bahkan menemukan metode baca-tulis, yang saya sebut metode Silabel, yang memungkinkan seorang anak bisa membaca dalam 2 minggu. Metode ini sudah kami terapkan di seluruh Indonesia, dengan mengalami penyesuaian sejakan dengan fonologi setempat.

Setelah empat tahun di LSM tersebut, ditahun 2003 saya dan beberapa teman mengundurkan diri dan membentuk sendiri program kerja kami yang mengkhususkan diri pada pendidikan bagi masyarakat adat, namanya Sokola Rimba yang kemudian menjadi Sokola Institute.

Selama di rimba, khususnya di tahun-tahun awal, saya menulis buku harian, yang 7 tahun kemudian tak disangka, menjadi buku (Sokola Rimba, 2007), buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa inggris (the Jungle School). Pada tahun 2013, Mira Lesmana dan Riri Riza memfilmkannya dengan judul yang sama.

Film Sokola Rimba Mira Lesmana

Sejak berdiri hingga sekarang, Sokola Institute sudah merintis 17 program di seluruh Indonesia, dan memberi dampak kepada lebih dari 15,000 orang mulai dari Aceh, hingga ke Asmat papua, termasuk di Flores Sumba, Halmahera, dsb, kebanyakan program bersama masyarakat adat. Lembaga ini menjadi lembaga pertama di Indonesia yang memfokuskan diri pada pendidikan bagi masyarakat adat. Di lembaga kami, para relawan guru kami sangat menjunjung tinggi keahlian antropolog dalam berkegiatan di lapangan. Pendekatan etnografi kritis adalah salah satu ilmu wajib yang harus dimiliki para guru. Kami sadar bahwa tidak ada satu budaya yang lebih baik dari budaya lain, setiap budaya adalah yang terbaik bagi pemiliknya, dan bahwa kebudayaan itu adalah penentu kebertahanan hidup satu masyarakat. Kemampuan untuk memahami suatu budaya itu ternyata ada ukurannya cultural quotient (CQ), tidak seperti IQ yang sudah distandarkan cara ukurnya, CQ itu adalah kemampuan seseorang dalam bekerjasama dengan budaya yang berbeda, biasanya dipakai dalam bisnis, tetapi dalam mendampingi masyarakat adat, kemampuan ini samai vital.

Antropologi inilah yang menjadi kultur utama dalam etos kerja kami di lapangan, warna Sokola sangat kental, setiap guru harus live in (tinggal menetap) di lapangan minimal 2 tahun, berbahasa, makan, berpakaian sama seperti komunitas setempat. Saya sangat mencintai Antropologi,  menurut saya upaya kita mengenal budaya orang lain, justru membantu kita lebih mengenal diri sendiri. Ibarat kita kalau ke luar negeri, malahan kita semakin cinta tanah air kita, begitu kira-kira.

Tahun 2009 saya mendapat beasiswa kuliah S2 Antropologi di Australia, jurusannya bernama Master of Applied Anthropology and Participatory Development di Australian National University. Saya semakin menyadari bahwa Antropologi itu adalah ilmu yang krusial untuk Indonesia sebagai negara yang paling beragam kebudayaannya di dunia.Setiap pendekatan ataupun pembangunan yang datang ke suatu masyarakat, haruslah berbasis budaya. Karena dalam kebudayaan tersimpan filosofi kehidupan yang hakiki dari suatu masyarakat. Apa makna sukses, makna bahagia, definisi cantik, kaya, marah, rumah, dsb, itu berbeda-beda satu sama lain, dan selayaknya dihargai sebagai suatu entitas, seperti kita sebagai NKRI ingin dihargai oleh negara lain.

Saya tidak setuju dengan mengeluh atau memprotes pemerintah, orang tua, guru atau apapun, saat menemui fakta ketidakadilan di tengah kehidupan masyarakat di pelosok. Saya lebih suka mengubah diri saya, mengubah cara pandang saya, daripada memaksa pihak lain berubah. Karena itulah saya memilih kata mutiara ini. Antropologi membantu kita melihat sesuatu dalam banyak sisi. Antropologi adalah satu-satunya ilmu yang meneliti menggunakan tolak ukur orang yang ditelitinya. Tidak seperti orang ekonomi misalnya, ukuran miskin adalah yang hidupnya di bawah 2 dollar, tapi ukuran itu yang buat kita, atau bahkan negara barat, bagaimana dengan masyarakat itu sendiri, apakah hidup dengan 2 dollar sehari dianggap miskin? Siapa Tahu bahkan dibawah 1 dollar mereka anggap berkecukupan? Atau siapa tahu justru harus di atas 10 dollar. Nah, antropologi akan menguak dan memakai ukuran-ukuran lokal tersebut agar dapat menilai mereka dengan arif.

Bagi teman-teman dan adik-adik yang kuliah atau mau kuliah Antropologi, ini adalah ilmu keren. Pesan saya, kalau mau jadi antropolog, jangan di perpustakaan terus, keluarlah dari gedung, turun ke lapangan, setiap manusia menarik dan berharga. Antropologi adalah ilmu fleksibel, ada banyak sekali cabangnya, bisa dipadu dengan kesehatan, pendidikan, film, politik, dll. Karena itu, jika kamu mendalami ilmu antropologi, dalami juga satu peminatanmu di bidang lain (misalnya seperti yang saya lakukan dengan sastra indonesia dan pecinta alam), sehingga kamu istimewa karena punya spesialisasi!