Orasi Ilmiah Menko PMK Muhadjir Effendy pada acara Dies Natalis ke-62

13 Oct 2020 | Lia Elita

orasi-ilmiah-menko-PMK-dies-62-fisip-unpad
Kegiatan Orasi Ilmiah oleh Menko PMK Muhadjir Effendy Via Zoom pada Rangkaian Kegiatan Dies – 62 Tahun FISIP Unpad

KETIKUNPAD – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memberi orasi ilmiah pada acara

“Dies Natalis ke-62 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran”

yang dilaksanakan hari Selasa, 13 Oktober 2020.

Dalam orasinya Muhajir menjelaskan, dari Sembilan misi Presiden Joko Widodo, tiga di antaranya menjadi bagian terpenting dari tugas pokok Menko PMK, yaitu peningkatan kualitas manusia Indonesia, pembangunan yang merata dan berkeadilan, dan kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa.

Penanganan tiga misi itu, kata Muhadjir, melibatkan sekitar 70 persen ilmu-ilmu sosial. “Karena di situlah kita bicara tentang angka pengangguran, tingkat kemiskinan, ketimpangan, dan seterusnya,” ucapnya.

Sesuai dengan siklus pembangunan manusia dan kebudayaan, pada fase perguruan tinggi setelah fase sekolah SMA atau SMK, mahasiswa termasuk angkatan kerja yang tertunda. “Ini sebetulnya adalah angkatan kerja tetapi yang tertunda dengan harapan nanti akan ada kelipatan pendapatan, kelipatan kualitas SDM setelah tamat dari perguruan tinggi masuk dunia kerja,” jelas Muhadjir.

Menurutnya, jika perguruan tinggi yang tidak menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul adalah perguruan tinggi yang gagal. “Karena itu kalau sudah jadi mahasiswa, ketika tamat ternyata kualitasnya dan pendapatannya kurang lebih sama saja dengan seandainya dia tamat dari SMA/SMK, maka perguruan tinggi gagal menyiapakan SDM yang lebih unggul, yang lebih memiliki nilai tambah,” ungkap Muhadjir.

Dengan begitu, Muhadjir berharap hal ini menjadi pertimbangan semua perguruan tinggi termasuk FISIP Unpad untuk dapat benar-benar menyiapkan mahasiswanya. Persiapan yang membuat mahasiswa setelah lulus menjadi tenaga kerja yang memiliki kualitas, kualifikasi, kemampuan. “Dan kalau perlu juga penghasilan yang beberapa kali lipat dibanding seandainya dia hanya tamat SMA atau SMK,” terangnya.

“Jangan sampai tamat dari FISIP kemudian hanya jadi misalnya supir ojek. Karena supir ojek itu tidak perlu tamat perguruan tinggi, tamat SMP sudah cukup. Ini untuk menunjukkan bahwa setiap perguruan tinggi menuntut adanya keterampilan, kemahiran yang meningkat, juga jenis pekerjaan yang memiliki nilai tambah yang sesuai dengan waktu yang digunakan untuk studi di tempat itu,” tambah Muhadjir.