PROGRAM PENDIDIKAN

Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran saat ini meski masih merujuk pada sistem pembelajaran konvensional (faculty of  teaching), yang cenderung bernuasa instruksional, namun  dalam prakteknya sebagian dosen telah mengembangkan proses pembelajaran yang menjurus pada dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sistem pembelajaran yang fleksibel dalam mengakomodasi perkembangan materi perkuliahan yang menuntut seorang dosen intensif menyesuaikan materi dengan perkembangan teknologi.

 

Atas dasar itu,  pada Tahun Akademik 2010/2011, fakultas merancang proses pembelajaran berdasarkan student centered learning dengan competency based curriculum yang mengkombinasikan keseimbangan hard skill dengan soft skill akan terus diintensifkan, sehingga kompetensi minimum mahasiswa tercapai. Dalam proses pembelajaran serupa ini, memiliki potensi untuk mendorong mahasiswa belajar lebih aktif, mandiri, sesuai dengan irama belajarnya masing-masing.

 

Dalam pembelajaran seperti itu mahasiswa dirangsang agar terus dinamis dan mempunyai tingkat kompetensi yang tinggi, dibantu oleh pendekatan brain based learning, quantum learning, project based learning, problem-based learning dll. Dalam pengertian itu, proses pembelajaran bukanlah student-centered learning dalam arti harfiah ‘mahasiswa belajar sendiri’ namun sebuah proses belajar yang mengoptimalkan kemandirian mahasiswa sebagai manusia dewasa (andragogy) dengan menyeimbangkan kemampuan kognisi dan emosi.

 

Dengan metode pembelajaran yang mendalam (deep learning) diharapkan mahasiswa mempunyai kemampuan untuk:  (1) meningkatkan kemampuan lama mengingat (retention) dan kemampuan memanggil kembali pengetahuan yang telah dipelajari (memory recall); (2) meningkatkan kemampuan memperoleh dan membentuk pengetahuan secara efisien dan terintegrasi; dan (3) mengembangkan generic skill dan attitudes yang diperlukan dikemudian hari.

 

Untuk mengembangkan metode pembelajaran mendalam sedikitnya terikat oleh lima pilar pembelajaran, yaitu:

 

Kerja Kelompok

Interaksi sosial yang positif dapat dibentuk melalui kerja berkelompok. Perasaan senasib sepenanggungan antarsesama teman dalam kelompok dan keunggulan dari belajar dalam peer dan cohort (teman seangkatan) adalah faktor positif yang akan dimanfaatkan untuk memperoleh hasil pembelajaran yang optimal. Interakasi yang terjalin dalam kerja kelompok seringkali membentuk sikap yang utuh, jujur, dan terbuka. Dengan mengembangkan nilai-nilai sosial dalam kerja berkelompok yang mencerminkan perilakunya yang percaya diri, kritis, penuh perhatian, dan mampu memberikan alternatif solusi sebagai upaya capaian kerja kelompok.

 

Diskusi

Mahasiswa akan lebih mudah untuk menyerap dan memahami suatu hal atau fenomena yang dijelaskan oleh temannya dengan gaya bahasa dan pendekatan komunikasi dari mahasiswa lain pada usianya. Dari sisi mahasiswa yang menjelaskan, hal ini merupakan kesempatan untuk menggali, mengkomunikasikan, dan menguji pengetahuan atau pemahaman yang telah didapatkannya walaupun hal itu didapat secara tidak langsung dari aktivitas saat berargumentasi dengan temannya yang mendapat kesulitan tersebut. Mekanisme yang tertib dan teratur dalam berdiskusi akan dikembangkan sehingga diskusi dan debat menjamin setiap mahasiswa dapat kesempatan yang sama untuk mengungkapkan pendapat, dalam suasana keilmuan, dan jiwa kedewasaan.

 

Presentasi

Pemahaman, konsep dan hasil pemikiran kreatif yang dimiliki dan merupakan potensi kemampuan akademis maupun potensi ekonomis akan kurang nilai kemanfaatannya jika tidak ditunjang dengan keterampilan dalam presentasi dan pemanfaatan LCD, baik dalam hal kemampuan membuat bahan presentasi melalui power point, maupun flash. Dalam proses pembelajaran seperti itu, teknik presentasi yang baik sangat menunjang penyampaian informasi pengetahuan, baik dari sisi kecepatan maupun bobotnya. Untuk menyampaikan gagasan Kegiatan itu memerlukan teknik presentasi yang baik dalam rangka menunjukkan keunggulan yang dimiliki setiap mahasiswa. Penguasaan teknik presentasi yang baik dapat dilatihkan kepada para mahasiswa dengan cara learning by doing dalam aktivitas student-centered learning.

 

Menulis

Untuk mencapai kemampuan menulis, penggalakkan kebiasaan membaca menjadi prioritas utama dalam pencapaian kemampuan menulis. Dalam konteks itu, sebagai metode pembelajaran capaian kemampuan menulis lebih diperhatikan, baik berupa penulisan laporan, ulasan buku sampai bentuk tulisan karya ilmiah melalui baik pelatihan maupun penugasan yang terikat oleh mata kuliah.

 

Berpikir Kritis

Berpikir kritis atau critical thinking, yang dihasilkan  melalui suatu kegiatan berpikir yang mempunyai suatu tujuan (purposefull thinking), bukan “asal” berpikir yang sifatnya tidak diketahui apa yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Artinya, walau dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa sering melakukan proses berpikir yang terjadi secara “otomatis”, tetapi banyak pula situasi yang memaksa mahasiswa untuk melakukan kegiatan berpikir yang memang direncanakan atau ditinjau dari pelbagai sudut apa,  bagaimana, dan mengapa, bila dihadapkan dengan situasi atau masalah. Kegiatan berpikir serupa inilah yang dimaksud sebagai disengaja dan bertujuan untuk mencapai hasil pemikiran yang mendalam. Berlangsungnya pemikiran yang mendalam atau pemikiran yang kritis akan menyebabkan tercapainya suatu kualitas pemecahan masalah atau jalan keluar (solusi) dari masalah yang ingin dipecahkan (problem solving). Jadi, kegiatan pemecahan masalah sebagai suatu bentuk berpikir akan mendapatkan hasil yang berkualitas apabila didasari oleh berpikir yang kritis.

 

Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, menggunakan metode brainstorming, role play, simulasi, diskusi, praktikum, kerja lapangan atau penelitian lapangan dan penyusunan tugas dengan pengaturannya merujuk pada Sistem Kredit Semester (SKS), sebagaimana diberlakukan di Universitas Padjadjaran.