DISKUSI NASIONAL : “BERSAMA MEMBANGUN NEGERI MELALUI PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN KORUPSI”

Di Indonesia Korupsi Sungguh sangat merusak elemen bangsa, begitu banyak kerugian yang ditimbulkan jika korupsi terus saja ada dan dibiarkan hidup dan berkembang di Negara Tercinta ini. Menjadi sebuah kewajiban, memberantas korupsi dengan tak membiarkannya bernapas di tengah masyarakat. Korupsi merupakan salah satu isu yang paling rumit dalam sejarah kehidupan manusia. Ia memberikan implikasi negatif dan buruk terhadap kehidupan manusia secara khusus dan terhadah keberlangsungan suatu wilayah. Ia dapat dikategorikan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, sebab mempengaruhi aspek kehidupan ekonomi, politik, ketahanan, sosial-budaya, dan agama.

Di Indonesia sendiri korupsi sangat gencar diberantas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, selain itu saat ini banyak pihak yang ikut gencar membantu dalam sosialisasi pencegahan tindak pidana korupsi ke berbagai pihak salah satunya adalah Civitas Akademika. Untuk memperluas pemahaman tentang bahaya laten Korupsi, Kementrian Pendidikan dan Penalaran Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad bekerjasama dengan Panitia Government Art Show (GAS) dalam pelaksanaan Pre-event melakukan sebuah Diskusi Nasional yang bertajuk : “Bersama Membangun Negeri Melalui Pemberantasan Dan Pencegahan Korupsi” yang dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 2017 di Bale Santika Kampus Universitas Padjadjaran. Pembicara yang hadir dalam Diskusi Nasional tersebut adalah Peneliti Hukum Indonesia Corruption Watch (ICW) Lalola Easter Kaban S.H dan Peneliti Unpad yang juga Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad yaitu Antik Bintari S.IP., M.T.

Disksui Nasional ini diawali dengan pemutaran film pendek tentang korupsi dan  dibuka oleh sambutan dari Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan yang diwakili oleh Sekertaris Program Studi Ilmu Pemerintahan Rudiana S.IP., M.SI. yang dimoderatori oleh Danu Yanuar Saputra yang merupakan Mahasiswa Aktif Ilmu Pemerintahan Angkatan 2013. Diskusi Nasional in juga dihadiri oleh Perangkat Kecamatan Jatinangor, Aparatur Desa di Wilayah Jatinangor serta anggota DPRD Kabupaten Sumedang. Dalam Diskusi Nasional ini Para Narasumber memberikan pandangan dari berbagai prespektif yaitu Prespektif Isu Gender dalam Korupsi dan Prespektif Bagaimana anak muda mengetahui lebih jauh apa itu korupsi dan bagaimana generasi muda mencegah korupsi.

Korupsi bisa berpedoman pada undang-undang, tetapi bisa juga berdasrkan konsep sosial. Korupsi dilihat dari konsep sosial merupakan kejahatan manusia. Karena yang melakukannya manusia, bisa memiskinkan manusia dan lain-lain. Korupsi juga berdampak terhadap keluarga, terutama anak, dilabeli “anak koruptor”. Korupsi juga merupakan penyebab kegagalan negara. “Apakah benar laki-laki itu dominan pelaku korupsi?, “ ujar Dosen IP FISIP Unpad tersebut.

Menurut Antik Bintari pemberitaan media cenderung memberitakan bahwa perempuan merupakan salah satu penyebab laki-laki melakukan korupsi. Kemudian berdasarkan data KPK tercatat 11 orang perempuan melakukan korupsi. Statement dari Dollar: “Perempuan melakukan korupsi karena kurangnya jumlah perempuan di parlemen dalam proses pembuatan kebijakan”. Yang menjadi pertanyaan: “Apakah korupsi selalu berhubungan dengan perempuan? Apakah hasil dari korupsi itu selalu diberikan kepada perempuan?” Statement Anne-Marie: “Kecenderungan perempuan untuk korupsi lebih kecil daripada laki-laki (women tend to be less corrupt than men)” Kalau semakin banyak perempuan yang terjebak dalam korupsi, itu tidak berarti terjadi feminisasi korupsi. “Ini merupakan suatu perubahan sosiologis”. ujarnya

Selanjutnya Antik Bintari S.IP., M.T juga memaparkan mengenai Gender dan Dampak Korupsi. Berbicara mengenai Korupsi dan Gender ada tiga hal yang menjadi poin, yaitu:

  1. Ada kecenderungan perempuan tidak mampu melakukan korupsi, tetapi melakukan korupsi.
  2. Media jangan terlalu menyudutkan perempuan
  3. Perempuan sebagai pelaku, perempuan sebagai korban, perempuan yang dikorbankan, atau perempuan merupakan bagian dari pelaku (bukan pelaku utama).

Di balik kesuksesan laki-laki, ada perempuan hebat di sampingnya bukan di belakangnya.” Maka dari itu, perempuan mempunyai peran penting dalam melawan korupsi”, tutupnya.

Selanjutnya Lalola Easter Kaban yang juga salah satu Peneliti Hukum ICW (Indonesia Corruption Watch)  mengemukakan  mengenai relevansi korupsi dan anak muda menjadi isu yang dibahas. Pada dasarnya, korupsi adalah penyalahgunaan kewenangan untuk memperoleh keuntungan.  Terdapat tujuh tindak pidana korupsi seperti yang diatur dalam UU Tipikor, yaitu kerugian keuangan negara, suap, gratifikasi, perbuatancurang, penggelapan jabatan, pemerasan, dan konflik kepentingan dalam pengadaan. “Banyak orang yang belum familiar mengenai tidak pidana korupsi”.  Ujarnya. Korupsi rentan terjadi saat adanya kebijakan yang bisa diambil serta merta dan dibarengi monopoli tanpa pertanggung jawaban.

Buku-buku pelajaran sekolah hingga Al-Quran menjadi objek korupsi. Tentu saja ini merugikan banyak orang, termasuk mereka yang menggunakan fasilitas/layanan publik. Publik perlu menyadari bahwa korupsi adalah sesuatu yang dapat dan harus dilaporkan. Hukuman bagi para koruptor di Indonesia masih tergolong ringan. Bandingkan denga pencuri ayam yang dihukum berpuluh-puluh tahun. Nyatanya, tren korupsi pada 2013-2016 paling banyak dilakukan oleh pegawai negeri sipil.  Penyelesaian kasus korupsi yang di dalamnya terdapat petinggi sering mendapat intervensi dan ancaman dari pihak lain. Sehingga, banyak orang-orang baik yang justru diredam oleh sekelompok orang yang ingin melanggengkan perilaku korupsi. Kalau sudah begitu, negara tidak bisa menjalankan pembangunan secara optimal.

Kita bisa melakukan berbagai cara dalam upaya mencegah dan mengatasi korupsi seperti meminta transparansi dana, membuat kajian korupsi, serta turut aktif merespon isu korupsi.  Mahasiswa perlu aktif dalam membahas isu strategis. Mahasiswa juga perlu memahami bahwa mereka tergolong ke dalam privileged community sehingga bisa mengubah arah kebijakan. “Kampus sebagai laboratorium sosial dapat dijadikan sebagai platform yang relevan untuk mengaktualisasikan diri. Tentunya dalam menyebarkan pesan anti-korupsi pada sesama”. tutupnya. Diskusi Nasional ini lalu ditutup oleh Moderator Danu Yanuar Saputra dengan Kesimpulan  : “Korupsi bukan hanya bicara motif ekonomi, tetapi mengakibatkan tragedi mahadahsyat dalam aspek politik dan sosial. Kemunculan – kemunculan makelar-makelar ”upeti” tersebut juga sindrom kekuasaan dimana demokrasi berkedok oligarki. ”  Akhirnya, apapun Sistem yang digunakan selama manusia yang menjalankan buta Nurani dan Culas, negara akan tetap bertahan dalam kenistaan.

Setelah itu Diskusi Nasional yang bertajuk Bersama Membangun Negeri Melalui Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi ditutup dengan Penyerahan Sertifikat dan Plakat serta Foto bersama para peserta Seminar dan juga Penampilan Seni Monolog Oleh Teater Hejo yang merupakan KKM HIMA IP FISIP Unpad.

(Dilaporkan oleh Kementrian Pendidikan dan Penalaran Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Padjadjaran)

 

Diskusi Nasional “BERSAMA MEMBANGUN NEGERI MELALUI PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN KORUPSI” / Google Photos