DISABILITAS GOES TO UNIVERSITAS PADJADJARAN

Setiap manusia berhak untuk mendapatkan pendidikan dari mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, tak terkecuali bagi para penyandang disabilitas. Namun demikian, akses bagi para penyandang disabilitas di perguruan tinggi masih sangat terbatas dan hal tersebut menjadi faktor penghambat bagi para penyandang disabilitas untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Untuk mengadvokasi hak para penyandang disabilitas tersebut, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) dan Komunitas Disabilitas Bergerak menyelenggarakan kegiatan “Disabilitas Goes to Campus” untuk mendorong kampus-kampus menjadi penyelenggara pendidikan tinggi yang inklusif. Kegiatan “Disabilitas Goes to Campus” di Unpad ini mengambil tema Unpad Menuju Universitas yang Inklusif. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara mata kuliah Pekerjaan Sosial dan Disabilitas Program Studi Kesejahteraan Sosial Fisip Unpad daH Departemen Pengembangan Keilmuan HIMA Kesejahteraan Sosial bekerja sama dengan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) dan Komunitas Disabilitas Bergerak. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 24 November 2017 di Ruang Seminar  Fisip Unpad.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial Dr. Risna Resnawaty. Materi awal kegiatan ini adalah “Menuju Universitas yang Inklusif, dipaparkan secara simultan oleh Bapak Irpan dari Komunitas Disabilitas Bergerak dan Ibu Kustini dari HWDI. Sebagai Aktifis disabilitas, Ibu Kustini menyampaikan bahwa Rehabilitasi Sosial Berbasis Panti di Indonesia sangat memprihatikan, maka pilihan terbaik adalah Rehabilitasi Sosial Berbasis Masyarakat. Namun demikian, pada kenyataannya banyak masyarakat yang belum memahami tentang disabilitas. Bahkan Peraturan Pemerintah terkait dengan kebutuhan  penyandang disabilitas pun tidak melibatkan penyandang disabilitas dalam proses perencanaannya. Untuk itu perlu adanya gerakan sosial.

Gerakan ini menyasar pada kegiatan Disability Goes To Campus, Disability Goes to Parliament, hingga ke Disability Goes To Community. Tujuannya agar semakin banyak lapisan masyarakat yang memahami disability. Karena menurutnya  bahwa pendidikan inklusi lebih pada perubahan pola pikir. Tidak hanya akses sarana prasana atau infrastruktur. Jika pola pikir sudah berubah, maka kebutuhan sarana dan prasarana akan mengikutinya yang disesuaikan dengan kebutuhan para penyandang disabilitas  atau disebut dengan istilah Reasonable Accomodation.

Menurut para aktifis tersebut, Unpad adalah salah satu kampus yang siap menerima mahasiswa disabilitas. Pengamatan mereka, beberapa lokasi gedung sudah terlihat ‘berusaha’ ramah disabilitas. Namun jika segala fasilitas tersebut tidak melibatkan pihak penyandang disabilitas, maka tidak akan memberi manfaat bagi mereka. Seperti halnya fasilitas yang ada di salah satu gedung di  Fisip Unpad. Terdapat akses masuk gedung dengan membuat ramp (jalan yang tidak beranak tangga), tetapi akses jalan tersebut terlalu curam bagi mereka yang menggunakan kursi roda, kalaupun bisa dilalui, masih perlu bantuan orang lain dan artinya masih belum accessable. Terlebih jika mengacu pada Undang-Undang Penyandang Kecacatan Tahun 2007 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah memberikan jaminan sepenuhnya kepada difabel dalam memperoleh pendidikan layaknya orang lain tanpa disabilitas. Untuk itu, perlu menjadi prioritas pertimbangan jika Unpad ingin mengejar standardisasi kelas internasional.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan melakukan simulasi. Setelah simulasi kegiatan dilanjutkan dengan presentasi kelompok peserta berdasarkan jenis disabilitas (netra, rungu, daksa, dan grahita).

(oleh: Maulana Irfan 2017)