Orasi Ilmiah Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dalam rangka memperingati Dies 59 FISIP unpad

[Unpad.ac.id, 19/10/2017] Pembangunan perdesaan tidak cukup terfokus pada level desa. Sangat penting membangun kolaborasi di antara para pemangku kepentingan. Melalui colaborative governance, diharapkan tujuan pembangunan desa dapat lebih cepat tercapai.

Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Prof. Ahmad Erani Yustika saat membacakan Orasi Ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-59 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Kamis (19/10). (Foto: Tedi Yusup)*

Hal tersebut disampaikan Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Prof. Ahmad Erani Yustika saat membacakan Orasi Ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-59 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Kamis (19/10).

Dikatakan Prof. Erani, salah satu kolaborasi yang perlu dibangun adalah dengan sesama desa. Jangan sampai pembangunan di satu desa mematikan desa yang lain. Selain itu, unsur penting pembangunan desa lainnya adalah pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan perguruan tinggi.

“Tanpa itu, hanya menyerahkan kepada desa atau kawasan, percepatan (pembangunan) akan lambat. Oleh karena itu, demikian jelas pentingnya collaborative governance pada isu desa dan kawasan perdesaan,” ujar Prof. Erani.

Diakui Prof. Erani, collaborative governance indah pada teori namun tidak mudah untuk dilaksanakan. Salah satu dilema yang muncul adalah terkait hubungan kepercayaan dan kapasitas antar pemangku kepentingan yang terlibat.

Prof. Erani menjelaskan, level kepercayaan antar pemangku kepentingan dapat berbeda. Perbedaan kepercayaan ini juga bisa terjadi di dalam maupun antar institusi.

“Koordinasi di atas meja itu mudah. Tapi membawa kesepakatan di atas meja tadi menjadi eksekusi bersama-sama, itu tergantung level of trust-nya,” ujar Prof. Erani.

Selain itu, menyamakan level kepercayaan dengan kapasitas pun sulit. Misalnya, ada institusi yang memiliki level kepercayaan yang tinggi namun kapasitasnya rendah, atau sebaliknya. Komitmen untuk berkolaborasi biasanya muncul pada level kepercayaan dan kapasitas yang tinggi.

“Kalau kita punya komitmen untuk kolaborasi, kita bisa mendefinisikan bentuk kolaborasi diantara para pemangku kepentingan yang terlibat. Setelah itu, baru kita mendesain prosesnya,” ujar Prof. Erani.

Sementara itu, Dekan FISIP Unpad Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, SIP., SSi., MT., MSi (Han), mengatakan bahwa perdesaan merupakan bagian terbesar dari masyarakat Indonesia. Untuk itu, masalah  perdesaan ini memerlukan perhatian serius agar dapat meningkatkan kekuatan bangsa.

Orasi Ilmiah Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dalam rangka memperingati Dies 59 FISIP unpad / Google Photos

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am

 

 

Kunjungan SMAT Penabur Harapan Indah Bekasi

Pada hari Rabu, 18 Oktober 2017, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menerima kunjungan dari SMAT Penabur Harapan Indah yang beralamat di Jalan Raya Harapan Indah Kav. 21, Medan Satria,Kota Bekasi, Jawa Barat.

Rombongan diterima oleh Dosen Antropologi FISIP Unpad  Bapak Hadian Nurseto, S.Sos., M.Si. bapak Hadian Nurseto memberikan penjelasan tentang gambaran umum program studi, kegiatan kemahasiswaan dan kegiatan representative yang dapat di ikuti oleh mahasiswa yang ada diFISIP, selain itu dijelaskan juga bagaimana Pintu Masuk ke Universitas Padjadjaran yaitu dengan dua cara melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)

Siswa SMAT Penabur Harapan Indah SMA Al-Azhar 4 Bekasi  tampak antusias dalam mengikuti sesi tersebut, dan banyak mengajukan pertanyaan terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan proses kegiatan belajar mengajar di Universitas Padjadjaran.

Diujung acara siswa-siswa dari berkeliling untuk melihat langsung kegiatan-kegiatan akademik maupun kemahasiswaan yang sedang berlangsung di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

(Hery W dan Imam S/Humas FISIP Unpad)

Kunjungan SMA Al-Azhar 4 Bekasi

Pada hari Rabu, 18 Oktober 2017, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menerima kunjungan dari SMA Al-Azhar 4 Bekasi yang beralamat di Jl. Kemang Pratama Raya Blok Ab No.7, Bojong Rawalumbu, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat 17116.

Rombongan diterima oleh Manajer Akademik dan Kemahasiswaan FISIP Unpad  Bapak Dr. Hery Wibowo, S.Psi., M.M. bapak Dr. Hery Wibowo memberikan penjelasan tentang gambaran umum program studi, kegiatan kemahasiswaan dan kegiatan representative yang dapat di ikuti oleh mahasiswa yang ada diFISIP, selain itu dijelaskan juga bagaimana Pintu Masuk ke Universitas Padjadjaran yaitu dengan dua cara melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)

Siswa SMA Al-Azhar 4 Bekasi  tampak antusias dalam mengikuti sesi tersebut, dan banyak mengajukan pertanyaan terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan proses kegiatan belajar mengajar di Universitas Padjadjaran.

Diujung acara siswa-siswa dari berkeliling untuk melihat langsung kegiatan-kegiatan akademik maupun kemahasiswaan yang sedang berlangsung di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

(Hery W dan Imam S/Humas FISIP Unpad)

Sosialisasi Pemberdayaan KAT (Komunitas Adat terpencil) Kementerian Sosial Republik Indonesia

Universitas Padjajaran Bandung,  18 Oktober 2017

 

Populasi persebaran Komunitas Adat Terpencil di Indonesia berdasarkan data tahun 2017 sejumlah 231.268  KK dengan rincian; KAT yang sudah diberdayakan 103.336 KK, sedang diberdayakan 3.955 KK dan yang belum diberdayakan sebanyak 123.977 KK. Pemberdayaan KAT bukanlah upaya penurunan angka persebaran lokasi KAT semata, namun yang lebih mendasar adalah bagaimana aspirasi warga KAT terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan layanan publik dapat terjangkau sebagaimana warga masyarakat Indonesia pada umumnya. Basis formal yang melandasi pentingnya pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil tersebut dengan jelas diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 : “Negara mengakui eksistensi masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya dan negara menjamin setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian”.

Selanjutnya melalui penetapan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial Pasal 5 ayat 2 huruf d menyebutkan dengan tegas penyelenggaraan kesejahteraan sosial salah satunya diprioritaskan kepada permasalahan keterpencilan, yang kemudian dioperasionalkan melalui Paraturan Menteri Sosial RI Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Peraturan Presiden RI Nomor 186 Tahun 2014 tentang Pemberdayaan Sosial Terhadap Komunitas Adat Terpencil. Sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 186 Tahun 2014 tentang Pemberdayaan Sosial terhadap KAT pada Pasal 9 Pemberdayaan Sosial terhadap KAT menyebutkan bahwa pemberdayaan  dilaksanakan dalam bidang: a. permukiman, b. administrasi kependudukan, c. kehidupan beragama, d. kesehatan,  e. Pendidikan,  f. ketahanan pangan, g. penyediaan akses kesempatan kerja,  h. penyediaan akses lahan,  i. advokasi dan bantuan hukum,  j. pelayanan sosial; dan/atau, k. lingkungan hidup.

Fokus Kementerian Sosial dalam pemberdayaan KAT adalah aspek keterpencilan yang menyebabkan terbatasnya aksesibilitas pelayanan sosial dasar di lokasi, dengan tetap berpegang pada prinsip utama pemberdayaan yaitu menempatkan warga KAT sebagai subjek pemberdayaan (human centered development). Kebijakan Teknis Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil secara terus menerus dikembangkan dan diarahkan pada empat pilar yaitu 1) Peningkatan Jangkauan dan Kualitas Pemberdayaan Sosial KAT, 2) Peningkatan dan penguatan Sumber Daya Manusia, Sosial dan Budaya, Ekonomi dan Lingkungan Komunitas Adat Terpencil, 3) Peningkatan  Peran Pemerintah Daerah, Kelembagaan masyarakat dan perangkat pelayanan sosial tingkat lokal, 4) Peningkatan Peran Aktif Masyarakat dan Kemitraan Dunia Usaha.

Komitmen pemerintah menempatkan pemberdayaan KAT sebagai target prioritas nasional. Alasan mendasar pemberdayaan terhadap komunitas ini menjadi prioritas ialah kedudukan dan hak setiap warga negara, khususnya di daerah-daerah terpencil, tertinggal dan mengalami hambatan dalam akses agar mendapatkan pelayanan kesejahteraan sosial yang sama, berkeadilan dan merata. Semangat ini tertuang dalam Visi – Misi pembangunan nasional, sembilan agenda Nawa Cita Presiden Joko Widodo. Kementerian Sosial melaksanakan Tiga dari Sembilan  Agenda Prioritas, yaitu : (3) Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan; (5) Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia; (9) Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui penguatan kebhinekaan dan menciptakan ruang dialog.

Permasalahan yang dialami warga KAT terutama terkait dengan keterbatasan akses pelayanan sosial dasar; tertutup, homogen, dan penghidupannya yang masih tergantung pada sumber daya alam. Kondisi ini sehingga menyebabkan komunitas tersebut menjadi marjinal di pedesaan, juga miskin dan rentan secara sosial ekonomi. Konstribusi Pemberdayaan KAT terhadap komunitas adat terpencil yaitu dalam hal penyediaan aksesibilitas pelayanan sosial dasar terhadap komunitas adat terpencil tersebut melalui : bimbingan sosial motivasi, penyiapan lahan permukiman, pembangunan rumah sederhana, sarana dan prasarana lingkungan sosial, bantuan permakanan dan bibit tanaman, pengembangan ekonomi lokal dan persiapan terminasi/ bina purna. Pengembangan ekonomi lokal produktif perlu mendapatkan sentuhan khusus dalam pemberdayaan guna mewujudkan KAT yang mandiri dan produktif, mengingat potensi dan sumber daya di lokasi KAT yang sangat  berpotensi jika dikembangkan dengan benar dan tepat.

One village one product (OVOP) menjadi semangat yang diimplementasikan untuk merintis satiap lokasi KAT produktif melahirkan satu produk unggulan yang bernilai ekonomis dan berciri khas. Pengembangan ekonomi lokal KAT (One Community One Product) akan didukung akses terhadap stimulan modal, peralatan usaha dan pemasaran hasil usaha, berikut peningkatan keterampilan warga melalui bimbingan keterampilan sesuai dengan potensi dan sumber daya ekonomi di lokasi. Upaya mengkampanyekan Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) juga dilakukan melalui kunjungan ke lokasi KAT dan ke perguruan tinggi. Kegiatan ini dilaksanakan guna memperkuat keterpaduan dan sinergitas dalam program pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil, dimana dalam pemberdayaan KAT terdapat peran – peran masyarakat sebagai tanggung jawab dan kepedulian sosial bersama. Kunjungan Duta KAT ke perguruan tinggi dilaksanakan ke 3 (tiga) Perguruan Tinggi, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Tangerang Selatan, Universitas Padjadjaran (UNPAD) Jatinangor dan Universitas Indonesia (UI) Depok.  Peserta dalam kegiatan ini sebanyak 100 orang dari unsur Dosen dan Mahasiswa dari masing – masing universitas dengan tema “Kenali & Jelajahi Kekayaan Bangsa, Mencintai Indonesia dari Daerah Terpencil”. Kegiatan ini dilaksanakan dengan maksud dan tujuan :1) Mempromosikan program pemberdayaan KAT melalui peran Duta KAT terhadap unsur stakeholder dari perguruan tinggi (Praktisi, Peneliti dan Akademisi), 2) Terwujudnya kepedulian sosial stakeholder perguruan tinggi terhadap Komunitas Adat Terpencil, 3) Menguatnya kerjasama dan partisipasi dalam pemberdayaan KAT melalui peningkatan riset (policy by research) dan pengabdian kepada masyarakat khususnya KAT.

Sosialisasi Pemberdayaan KAT (Komunitas Adat terpencil) Kementerian Sosial Republik Indonesia / Google Photos

(Photo by: ImamS, Press Release by: Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia)

Kuliah Umum Duta Besar Austria dan Slovenia

[unpad.ac.id, 17/10/2017] Pemerintah Indonesia selalu aktif berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di satu atau antar negara. Peran diplomasi yang dilakukan Indonesia selalu mengedepankan upaya-upaya negosiatif.

Duta besar RI untuk Austria dan Slovenia Dr. Darmansjah Djumala mengatakan, proses diplomasi yang dilakukan Indonesia selalu mengacu pada etika yang telah ditetapkan. Ada tiga komponen utama yang harus dilakukan diplomat dalam melakukan diplomasi, yaitu dialog, kompromi, dan nonkekerasan.

“Ini yang sering dilupakan seorang diplomat, kalau mau menyampaikan pendapat maunya ribut, ujung-ujungnya berantem,” ujar Darmansjah saat memberikan kuliah umum bertajuk “Membumikan Diplomasi Multilateral” di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Selasa (17/10).

Tiga etika ini menjadikan Indonesia selalu diterima negara yang sedang memiliki masalah. Berkaca pada penyelesaian kasus pelanggaran HAM di Rohingya, Myanmar, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diterima baik oleh Myanmar. Di saat negara lain banyak mengecam tindakan Myanmar, Indonesia mengedepankan pendekatan kemanusiaan untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Darmasjah menceritakan, delegasi Indonesia yang diwakili Menteri Luar Negeri Retno Marsudi merupakan satu-satunya pejabat tinggi negara yang diterima secara resmi oleh pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi. Pasca pertemuan ini, Indonesia didaulat menjadi satu-satunya negara yang dimintai nasihat oleh Myanmar pascapenanganan konflik Rohingya.

Penerimaan ini, lanjut Dosen program Doktor Hubungan Internasional FISIP Unpad tersebut, jauh bertolak belakang dengan sikap Myanmar terhadap negara pengecam, diantaranya Malaysia dan Turki. Di saat dua negara itu mengecam keras tindak Myanmar dengan dalih kekerasan terhadap agama dan HAM, pendekatan kemanusiaan Indonesia justru jauh lebih efektif.

Untuk itu, Darmansjah menepis persepsi bahwa pemerintah Indonesia abai terhadap kekerasan di Myanmar. “Kalau kita tidak peduli, tentu kita tidak akan diterima dengan baik oleh Myanmar,” kilahnya.

Pada kuliah umum itu, Darmansjah juga menjelaskan mengenai proses diplomasi multilateral. Banyak kalangan menilai, diplomasi yang melibatkan banyak negara kerap tidak menghasilkan manfaat signifikan. Diplomasi ini hanya sekadar menghasilkan deklarasi di atas kertas.

Namun, Darmansjah kembali menepis pendapat tersebut. Diplomasi multilateral dapat memberikan manfaat langsung ke masyarakat. Syaratnya, diplomasi ini harus dapat menetapkan program prioritas yang bisa dibumikan.

Salah satu wujud membumikan diplomasi multilateral sudah dilakukan Darmansjah sebagai Ketua Dewan Gubernur International Atomic Energy Agency (IAEA) atau Badan Tenaga Atom Internasional. Dalam forum tersebut, diplomasi multilateral berhasil menggulirkan program kerja implementasi nuklir bagi kepentingan masyarakat di beberapa negara.*

Laporan oleh Arief Maulana

Kuliah Umum HI dari Duta Besar Austria dan Slovenia / Google Photos

Studi Keprotokolan Protokol FISIP Unpad (PFU) ke Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia

Studi Keprotokolan dilaksanakan dengan tujuan untuk
Memfasilitasi keingintahuan dan kebutuhan para anggota PFU mengenai dunia keprotokolan, Menstimulasi Kreatifitas anggota PFU dalam mengembangkan kemampuan keprotkolan,
Memperluas wawasan mengenai Keprotokolan dilevel pemerintahan
dan Meningkatkan pengetahuan mengenai Event Organizer pada dunia kerja yang sesungguhnya

Studi Keprotokolan kali ini, PFU berkujung ke Direktorat Protokol dan Konsuler Kementrian Luar Negri pada hari Kamis, 5 Oktober 2017. Materi disampaikan oleh Bapal Fiki Oktanio sebagai pembina, IV/A Kasubdit Kunjungan Direktorat Protokol Kemenlu dengan tema Etiket Internsasional dalam Keprotokolan. Materi yang disampaikan sangat bermanfaat untuk keberlangsungan PFU selanjutnya. apalagi studi kali ini tidak hanya penyampaian materi saja tapi diadakan simulasi juga

(laporan oleh: Lulu Khoerunnisa)

Kunjungan PFU ke Kemenlu / Google Photos

UKM ESU Unpad Raih Juara Pertama Perbanas Marketing Debate Competition 2017

[unpad.ac.id, 2/10/2017] Tiga mahasiswa Universitas Padjadjaran yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Speaking Union (ESU) berhasil menjadi juara 1 dalam lomba PMDC (Perbanas Marketing Debate Competition) 2017 tingkat Nasional pada tanggal 24-26 September lalu di Perbanas Institute, Jakarta.

Anggota UKM ESU Unpad berhasil menjadi juara 1 dalam lomba PMDC (Perbanas Marketing Debate Competition) 2017 tingkat Nasional di Perbanas Institute, Jakarta, 24 – 26 September lalu.*

Tiga mahasiswa tersebut, Rita Nurhasanah (Antropologi), Giovanni Nickson (Manajemen Komunikasi), dan Nabila Putri Zasa (Kehumasan), berhasil meraih juara 1 setelah mengalahkan tim debat dari UI dan London School of Public Relations di babak final. Unpad juga berhasil menyisihkan Telkom, juara bertahan dua tahun berturut-turut, pada babak semifinal.

Dalam rilis yang diterima Humas Unpad, Salah seorang anggota tim, Rita Nurhasanah, bahkan berhasil menyabet penghargaan sebagai Best Speaker pada ajang kompetisi yang telah berjalan selama 13 tahun ini.

“Kami sangat senang dengan hasil ini. Hasil kerja keras research dan latihan kami selama berhari-hari serta kerja sama tim yang kami lakukan tidak sia-sia,” ucap Nabila.

“Ya, kami sangat senang dengan pencapaian ini, apalagi teman kami menjadi Best Speaker. Di kompetisi ini kami bertiga jadi belajar banyak tentang marketing,” Giovanni menambahkan.

PMDC 2017 mengangkat tema “Using Marketing to Fully Reach Global Market Access”. Tahun ini, ada 30 universitas yang berkompetisi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.*

Rilis: ESU Unpad/am

sumber: http://www.unpad.ac.id/2017/10/ukm-esu-unpad-raih-juara-pertama-perbanas-marketing-debate-competition-2017/

Tiga Mahasiswa Administrasi Publik FISIP menjadi juara III dalam Konferensi Internasional di Universitas Airlangga Surabaya

Tiga mahasiswa Program Studi Administrasi Publik FISIP Unpad berhasil menjadi juara III dalam konferensi Tingkat Nasional di Surabaya, mereka adalah Regi Pratama Putra angkatan 2017, Rashif Shiddiq angkatan 2017 dan Puspa Dwiputri angkatan 2017.

Mereka mengikuti acara konferensi Indonesian Association For Publik Administration (IAPA) Student Competition “Innovation in Public Sector”, awal keterlibatan mereka di kompetisi tersebut: “kita mendapatkan informasi dari Program Studi yang memberitahukan bahwa IAPA mengadakan kompetisi, dan kebetulan dari tema kompetisi tersebut sangat cocok dengan penelitian yang pernah kami lakukan, dan akhirnya kami tertarik dan akhirnya kami submit penelitian kami yang telah kami buat sebelumnya dan akhirnya setelah 1 minggu kita mendapatkan pengumuman bahwa kita lolos untuk mengikuti rangkaian kompetisi berikutnya di Universitas Airlangga Surabaya”.

“Jadi pada waktu itu kami mengirimkan artikel yang berbasis penelitian, artikel ini merupakan tugas mata kuliah kami yang kami kembangkan menjadi penelitian.”

Waktu di Surabaya yang lolos ada 8 tim dengan format kita presentasi di ruang tertutup langsung di depan peserta lainnya dan juri dimana setelah kita presentasi juri dan pesertanya lainnya memberikan pertanyaan-pertanyaan bagi presenter. Acara tersebut dibagi 2, ada yang student dan ada yang Pasca. Dan Alhamdulillah akhirnya kami berhasil mendapatkan juara III

Judul dari penelitian/presentasi mereka adalah “Bandung Command Center, Cihampelas Skywalk sebagi Inovasi dalam mengatasi kemacetan Kota”. mereka melakukan penelitian Bandung Command Centre sebagai  Decision Support System, sebagai support untuk mendukung keputusan dari Bapak Walikota Bandung, “karena bapak Walikota melihat di jalan Cihampelas itu macet, dari BCC itu akhirnya beliau mempunyai inovasi untuk membuat Cihampelas Skywalk. Data-data dari BCC itulah yang akhirnya membuat ide untuk membangun Cihampelas Skywalk.”

Menurut Manajer Kemahasiswaan Dr. Hery Wibowo, S.Psi., M.M. beliau mengatakan “inilah contoh dari mahasiswa, yang mempunyai prestasi dimana prestasinya itu didukung dari kegiatan perkuliahannya.”

(oleh: HeryW dan ImamS Humas FISIP Unpad)

Pengumuman Beasiswa Paragon Technology and Innovation 2017/2018

BEASISWA YANG DIADAKAN OLEH PARAGON TECHNOLOGY AND INNOVATION 2017/2018

 

BEASISWA PRESTASI

PERSYARATAN:

  1. Pendaftaran Online ke alamat Students.unpad.ac.id
  2. Mahasiswa Semester 5 Program Sarjana (T.A. 2017/2018)
  3. IPK 3,30
  4. Fotokopi KTM
  5. Fotokopi KTP
  6. Fotokopi Buku Tabungan
  7. Form Pengajuan Beasiswa (download di http/tinyurl.com/beasiswaprestasi)
  8. Transkrip Nilai Semester 4
  9. Sertipikat Prestasi Akademik/Non Akademik
  10. Essay dengan tema “Kontribusi untuk Indonesia

 

Keterangan: Seleksi Berkas >

Wawancara > Tes Tertulis

 

BEASISWA PEMBERDAYAAN

PERSYARATAN:

  1. Pendaftaran Online ke alamat Student.unpad.ac.id
  2. Mahasiswa Semester 3 Program Sarjana (T.A. 2017/2018)
  3. IPK2.80
  4. Fotokopi KTM
  5. Fotokopi KTP
  6. Fotokopi Buku Tabungan
  7. Form Pengajuan Beasiswa (download di http/tinyurl.com/beasiswapemberdayaan)
  8. Transkrip Nilai Semester 4
  9. Surat Keterangan Tidak Mampu
  10. Bukti Penghasilan Orang Tua (Slip gaji/pernyataan penghasilan orang tua bermaterai

 

Keterangan: Seleksi Berkas dan

Wawancara

 

BEASISWA PEMBERDAYAAN

PERSYARATAN:

  1. Pendaftaran Online ke alamat Student.unpad.ac.id
  2. Mahasiswa Semester 7 Program Sarjana (T.A. 2017/2018)
  3. IPK Minimal 3.00
  4. Fotokopi KTM
  5. Fotokopi KTP
  6. Fotokopi Buku Tabungan
  7. Form Pengajuan Beasiswa (download di http/tinyurl.com/beasiswaTA)
  8. Lampiran Transkrip Nilai Kumulatif s.d Semester 6
  9. Surat Pernyataan sedang mengerjakan Tugas Akhir
  10. Proposal Tugas Akhir (hanya BAB I dan BAB III.

 

Keterangan: Seleksi Berkas >

Wawancara dan Tes Tertulis

 

BERKAS BEASISWA DISERAHKAN KE URUSAN KEMAHASISWAAN FISIP UNPAD PALING LAMBAT TANGGAL 20 SEPTEMBER 2017.

ATAS PERHATIANNYA DIUCAPKAN TERIMA KASIH

Sahabat dari kecil, senang Catur dan bersama-sama menjadi Atlet Catur, akhirnya dipertemukan di FISIP Unpad

Pada Acara Ootrad (Olimpiade Olahraga Tradisional) Unpad FISIP Unpad mengirimkan Kontingen untuk mewakili FISIP dalam cabang olahraga U-Camaintian (Catur Beregu) salah satu wakil dari dua wakil FISIP Unpad adalah mahasiswi yang kebetulan mereka adalah Atlet catur dari masing-masing daerahnya.

Ketiga Mahasiswi  yang bernama Dewi Fortuna KS angkatan 2017, Fania Vindi AP angkatan 2017, dan Arlisa Sepfita AP angkatan 2015  dulunya berasal dari Bogor, mereka merupakan sudah bersahabat dari kecil dan bersama-sama  berhasil menjadi Atlet Catur di daerahnya.

Tanpa direncanakan terlebih dahulu, walaupun pada saat SMA mereka berbeda-beda sekolah tapi pada akhirnya mereka bertemu kembali di FISIP Unpad. Arlisa Sepfita lebih dahulu masuk Program Studi Administrasi FISIP Unpad angkatan 2015, dan disusul juniornya yang lebih muda Dewi Fortuna yang masuk ke Program Studi Kesejahteraan Sosial dan Fania Vindi masuk ke Program Studi Administrasi Publik FISIP Unpad pada tahun 2017

“kami tidak ada rencana masuk FISIP padahal dari kami ada anak IPA, tapi pada akhirnya Kebetulan banget kami dipertemukan kembali di FISIP Unpad, ”,

Dewi Fortuna, yang merupakan Atlet catur dari Bandung, “saya dulu melihat kakak saya yang sering memenangkan kejuaraan dari catur sehingga saya tertarik pada catur, sehingga makin lama makin tekun dan saya akhirnya merasa bahwa catur ini adalah bidang saya, sementara rekannya Fania Vindi yang juga atlet catur dari Bandung“ dari kecil memang sudah latihan karena memang ayah saya pelatih catur”, sedangkan Arlisa Sepfita yang merupakan Atlet Catur dari Bogor tertarik karena catur karena Pamannya dan sepupunya adalah seorang pelatih dan atlet catur, akhirnya saya “Keceplung” dan ikut menjadi Atlet Catur.

Ketiga Atlet tersebut “diutus” sebagai kontingen FISIP Unpad dalam cabang olahraga U-Camaintian (Catur beregu), dan berhasil menjadi juara I pada acara tersebut.

“Kami senang banget dan merasa bangga mewakili FISIP Unpad. Dan Alhamdulillah kami berhasil menjadi juara I”

Mereka Berpesan, “ Sebisa mungkin kita berkontribusi untuk Fakultas, Prestasi bisa dari mana saja bukan saja dari Akademik tapi dari Non Akademik juga bisa Olahraga maupun Kreativitas,“

(Oleh ImamS dan HeryW Humas FISIP Unpad)