FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PADJADJARAN

[Unpad.ac.id, 15/07/2016] Kabar baik bagi civitas academica Unpad yang memerlukan akses e-journal untuk referensi perkuliahan. Terhitung tanggal 1 Juli – 30 Agustus 2016, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Unpad bekerja sama dengan beberapa vendor e-journal memberikan masa free trial access kepada seluruh pengguna di Unpad melalui laman http://cisral.unpad.ac.id/.

cisral2Ada empat vendor e-journal yang bisa diakses secara gratis, yaitu Springer, Sage Journal, Proquest, dan Ebsco. Pengguna bisa mengakses, membaca, hingga mengunduh berbagai jurnal ilmiah di empat vendor tersebut secara gratis di lokasi manapun. Untuk mengaksesnya, pengguna tinggal memasukkan username dan password yang tersedia di Perpustakaan sentral maupun perpustakaan di tiap fakultas.

Kepala UPT Perpustakaan Unpad, Wina Erwina, dra., M.A., mengatakan, penyediaan free trial access ini didasarkan adanya proses pemindahan perpustakaan sentral Unpad dari Bandung ke Jatinangor. Dengan adanya proses pemindahan tersebut, beberapa sistem layanan perpustakaan, termasuk akses e-journal mengalami pembenahan.

“Langkah ini dilakukan sebelum kita membeli akses e-journal-nya setelah sistem selesai. Saat ini kita sedang menyiapkan untuk membeli e-journal. Diharapkan, free trial access ini untuk mengisi kekosongan layanan e-journal,” ujar Wina saat diwawancarai Humas Unpad, Kamis (14/07).

Lebih lanjut Wina mengungkapkan, masa ujicoba yang berlangsung selama Juli hingga Agustus ini diperuntukkan terutama bagi dosen maupun mahasiswa Pascasarjana dalam rangka mempersiapkan pembelajaran di semester depan.

Dengan adanya layanan gratis ini, pengguna dapat menemukan berbagai referensi keilmuan guna menunjang aspek pembelajaran maupun penelitian. Wina mengatakan, penyediaan layanan ini diharapkan tidak hanya konsumtif digunakan, tetapi menjadi penunjang produktivitas pengguna untuk menghasilkan keilmuan baru.

“Ke depan sebetulnya Unpad juga mampu menjadi vendor karya ilmiah, karena beragamnya keilmuan, dosen, dan mahasiswa yang dimiliki,” kata Wina.

Layanan e-journal ini telah mencakup bidang keilmuan umum di Unpad. Wina mengatakan, ke depan pihaknya akan menyiapkan koleksi e-journal untuk bidang keilmuan spesifik yang dimiliki Unpad.

“Dengan layanan ini kita minta masukan dari pengguna atas kebutuhan keilmuannya. Kita tampung dan akan kita petakan terutama untuk pengajuan pembelian di tahun berikutnya,” kata Wina.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

[Unpad.ac.id 13/07/2016] Universitas Padjadjaran menggelar Halal Bihalal Keluarga Besar Unpad di Grha Sanusi Hardjadinata, Rabu (13/07). Kegiatan ini dihadiri oleh para pimpinan, dosen,dan  tenaga kependidikan di lingkungan Unpad, serta sejumlah kolega.

Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, bersilaturahim pada kegiatan Halal Bihalal Keluarga Besar Unpad di Grha Sanusi Hardjadinata, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Rabu (13/07). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, dan jajaran pimpinan Unpad bersilaturahim pada kegiatan Halal Bihalal Keluarga Besar Unpad di Grha Sanusi Hardjadinata, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Rabu (13/07). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

“Kita bersyukur hari ini bersama-sama kita tetap dapat menjaga tradisi baik, kebiasaan baik, untuk dapat bersilaturahim, saling mengingatkan, dan berdoa bersama-sama, yang Insya Allah akan menjadi bekal bagi kita untuk dapat melakukan pengabdian dengan lebih baik lagi,” tutur Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad dalam sambutannya.

Rektor pun berharap, berbagai kegiatan yang telah dilakukan selama bulan Ramadan lalu akan memberikan kekuatan lebih bagi sivitas akademika Unpad untuk dapat menjalankan berbagai aktivitas yang lebih baik lagi kedepannya, terutama sebagai bekal untuk membangun kemaslahatan lebih baik lagi bagi masyarakat.

“Mudah-mudahan berbagai hal yang kita jalani hari ini betul-betul menadi inspirasi dan energi bagi kita untuk dapat menjalankan amanah yang sudah kita pegang ini, bisa memberikan sedikit sumbangsih bagi bangsa ini dalam menjalani tantangan kedepan, untuk dapat berbakti dengan lebih baik lagi,” harap Rektor.

Halal bihalal Unpad kali ini diisi dengan tausyiah dari Prof. Dr. Arief Rahman, M.Pd. Dalam ceramahnya, Prof. Arief mengatakan bahwa produk dari puasa adalah taqwa, dan taqwa itu meliputi iman, ikhlas, sholat, sabar, dan syukur.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Lampiran:
– Tausyaih Prof. Dr. Arief Rahman: Melalui Ramadhan Meningkatkan Integritas dan Profesionalisme

[Unpad.ac.id, 11/07/2016] Dalam rangka peningkatan kapasitas dan pengembangan kolaborasi internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara, dua dosen Universitas Padjadjaran terpilih mengikuti International Dean’s Course – South East Asia di Jerman, pada 20 Juni hingga 1 Juli 2016 lalu. Dua dosen Unpad tersebut adalah Dr. Mudiyati Rahmatunnisa sebagai Wakil Dekan II Sekolah Pascasarjana, dan Dr. med. Setiawan sebagai anggota Staf Khusus Rektor.  Mereka terpilih bersama 28 peserta lainnya dari 8 negara di kawasan Asia Tenggara, meliputi Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam dari sekitar 140 pelamar.

Dr. Mudiyati Rahmatunnisa dan Dr. med. Setiawan saat menerima sertifikat partisipasi dari Prof. Peter Mayer sebagai Course Director International Dean’s Course - South East Asia di Jerman yang dilaksanakan pada 20 Juni - 1 Juli 2016 *

Dr. Mudiyati Rahmatunnisa dan Dr. med. Setiawan saat menerima sertifikat partisipasi dari Prof. Peter Mayer sebagai Course Director International Dean’s Course – South East Asia di Jerman yang dilaksanakan pada 20 Juni – 1 Juli 2016 *

Kegiatan ini dilaksanakan atas kerja sama antara German Academic Exchange Service (Deutscher Akademischer Austausch Dienst – DAAD), German Rektors’ Conference, Hochschule Osnabrueck, Alexander von Humboldt Stiftung, Freie Universitaet Berlin, serta bantuan tenaga ahli regional dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Multimedia Malaysia, dan Philippine Normal University.  Kegiatan di Jerman ini merupakan tahap I dari serangkaian kegiatan yang akan dilanjutkan pada tahap II di Manila, Filipina pada tanggal 23-27 Oktober 2016 dan tahap III di Yogyakarta, Indonesia pada tanggal 5-10 Februari 2017.

Pada tahap I dari kegiatan International Dean’s Course ini, dipelajari dan didiskusikan secara aktif berbagai hal, seperti tentang sistem pendidikan tinggi di Jerman, perbandingan pendidikan tinggi di kawasan ASEAN, tata kelola universitas, kepemimpinan dan komunikasi di pendidikan tinggi, manajemen konflik, manajemen strategik di perguruan tinggi, manajemen keuangan, manajemen penjaminan mutu, dan kerja sama.  Selanjutnya, pada kegiatan tahap II akan dipelajari tentang manajemen perubahan, sementara pada tahap III akan dipelajari tentang manajemen sumber daya manusia.

IMG_7905Untuk memastikan ketercapaian tujuan pelatihan, setiap peserta diminta untuk membuat Project Action Plan (PAP) disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing institusi asal peserta.  Dr. Mudiyati merancang PAP mengenai model penyelenggaraan program S2 dan S3 berbasis kerja sama penelitian dalam rangka mendukung ASUP Jabar.  Sementara Dr. med. Setiawan lebih fokus pada penguatan komersialisasi riset di Unpad menuju universitas entrepreneurial.  Untuk menyusun dan melaksanakan PAP ini, dilakukan peer learning dan juga bantuan dari mentor yang merupakan trainer dari Indonesia, serta alumni IDC angkatan sebelumnya yang berasal dari Malaysia dan Filipina.

“Pola pelatihan yang menekankan pada outcome melalui PAP ini sangat baik dilakukan di Unpad sehingga pencapaian kompetensi dan peningkatan kemampuan peserta pelatihan dapat dibuktikan.  Demikian pula, pola peer learning dan mentorships akan mendukung peserta apabila ada permasalahan yang dihadapi dalam teknis pelaksanaannya.  Selain itu, metode pelatihan diperkaya dengan metode seperti Gallery Walk, Sesi konsultasi antar peserta, penugasan peserta dan presentasi, metode kartu, dan kunjungan langsung ke Freie Universitaet Berlin,” kata Dr. Setiawan.

Keberhasilan Unpad meloloskan dua dosen ini sama dengan capaian dari University Malaya yang meloloskan dua dosen mengikuti kegiatan ini.  “Mengingat manfaat besar dari keikutsertaan pada kegiatan serupa, maka partisipasi dosen Unpad, khususnya para Dekan, Wakil Dekan, dan Kepala Departemen sangat penting untuk terus didorong ke depannya,” harap Dr. Setiawan.*

Rilis / art

Pada tahun akademik 2016/2017 mendatang, Unpad akan meningkatkan jenjang keseluruhan pendidikan Diploma III menjadi Diploma IV. Peningkatan program yang juga diistilahkan dengan program “Sarjana Terapan” ini diharapkan dapat menjembatani lulusannya untuk masuk ke jenjang Pascasarjana Terapan.

Dr. Arry Bainus, MA (Foto oleh: Tedi Yusup) *

Dr. Arry Bainus, MA (Foto oleh: Tedi Yusup) *

Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unpad Dr. Arry Bainus, M.A., jika pendidikan vokasional sebatas Diploma III, maka lulusannya akan mengalami kesulitan jika akan meneruskan ke jenjang Pascasarjana Terapan.

“Kalau hanya D III, dia hanya berhenti, tidak ada jembatan untuk ke Pascasarjana Terapan,” kata Dr. Arry saat ditemui beberapa waktu lalu.

Masa studi Program Diploma IV akan sama dengan program Sarjana, yaitu 4 tahun. Dr. Arry mengatakan, perbedaan program Diploma IV dengan Sarjana ialah program Diploma IV akan terfokus pada pendidikan vokasional. “Kurikulum D IV lebih menitikberatkan pada praksis,” ujarnya.

Metode pendidikan Diploma IV, kata Dr. Arry, akan lebih banyak mengimplementasikan program open extended campus. Staf pengajar Diploma IV lebih banyak praktisi dari luar yang memiliki kepakaran sesuai dengan program studi yang dibuka. Sementara pendidikan di program Sarjana lebih akademis.

Ada empat fakultas yang saat ini menyelenggarakan pendidikan Diploma III, yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Program Ahli Administrasi Perusahaan), Fakultas Ilmu Komunikasi (Kehumasan), FISIP (Administrasi dan Administrasi Pemerintahan), serta FMIPA (Analisis Kimia). Prodi tersebut seluruhnya akan ditingkatkan menjadi Diploma IV.

Pendaftaran Diploma IV

Koordinator SMUP, Muchtaridi, M.Si., PhD., Apt. (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Koordinator SMUP, Muchtaridi, M.Si., PhD., Apt. (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Koordinator Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP), Muchtaridi, M.Si., PhD., Apt., mengatakan, penamaan program studi Diploma IV akan mengalami perubahan berdasarkan kesepakatan masing-masing program studi. Prodi PAAP direncanakan akan diubah menjadi Perpajakan, prodi Administrasi menjadi Administrasi Publik, prodi Kehumasan menjadi Manajemen Produksi Media, serta prodi Analisis Kimia menjadi Kimia Terapan.

Hingga tanggal 17 Juni, ada tiga prodi yang membuka pendaftaran Diploma IV untuk tahun 2016/2017, yaitu Kebidanan, Administrasi Publik, Administrasi Pemerintahan. Prodi lainnya masih dilakukan proses presentasi di hadapan Senat Akademik serta diverifikasi oleh Satuan Penjaminan Mutu Unpad. Proses verifikasi dilakukan untuk mengecek apakah pembukaan prodi tersebut sudah memenuhi syarat kelayakan atau belum.

Sedangkan untuk prodi PAAP masih diproses untuk kemungkinan dibuka pendaftaran pada tahun akademik 2016/2017.

“Keputusannya tanggal 20 Juni mendatang, sementara untuk Diploma Kimia Terapan dan Manajemen Produksi Media akan dibuka pada 2017 mendatang,” kata Muchtaridi.

Pendaftaran seleksi Diploma IV sendiri akan dibuka pada 20 Juni hingga 22 Juli mendatang. Pendaftaran dilakukan secara online di laman https://smup.unpad.ac.id/ lalu klik “Diploma”. Muchtaridi mengungkapkan, proses seleksi Diploma IV sama dengan SNMPTN, yaitu menggunakan basis nilai rapor SMA untuk tiga mata pelajaran utama (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika) dan mata pelajaran pilihan yang ditetapkan prodi, serta seleksi Indeks Sekolah.

“Berbeda dengan SNMPTN dan SBMPTN, pendaftaran Diploma IV tidak dibatasi tahun kelulusan,” kata Muchtaridi.

Untuk tahun ini, lokasi perkuliahan program Diploma IV diselenggarakan di kampus Jatinangor dan Bandung. Muchtaridi sendiri menargetkan, untuk tahun 2017/2018 mendatang, lokasi pendidikan Diploma IV akan dipusatkan di Kampus Arjasari, sesuai dengan konsep Unpad Transformative Triangle. Adapun gelar untuk lulusan Diploma IV adalah Sarjana Terapan (S.Tr).*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

[Unpad.ac.id, 25/05/2016] Hakikat politik sejatinya adalah membangun peradaban yang berangkat dari realitas kehidupan rakyat. Petani adalah gambaran nyata wong cilik dimana seluruh keberpihakan politik seharusnya ditujukan kepadanya. Inilah kesadaran yang muncul ketika Hj. Megawati Soekarnoputri belajar di Universitas Padjadjaran pada tahun 1965-1967.

Hj. Megawati Soekarnoputri saat membacakan orasi ilmiah pada Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Rabu (25/05). (Foto oleh: Dadan T.)*

Hj. Megawati Soekarnoputri saat membacakan orasi ilmiah pada Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Rabu (25/05). (Foto oleh: Dadan T.)*

Hal tersebut terungkap saat Megawati Soekarnoputri membacakan Orasi Ilmiah berjudul “Bernegara dengan Satu Keyakinan Ideologi” dalam Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Politik dan Pemerintahan dari Universitas Padjadjaran di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Rabu (25/05). Upacara penganugerahan dibuka oleh Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad.

“Pada akhirnya, bukan hanya Ilmu Pertanian yang saya dapatkan. Di kampus ini pula mental saya ditempa untuk belajar memahami dan bertahan pada keyakinan terhadap ideologi, dalam arti yang sesungguhnya. Peristiwa yang saya alami di kampus inilah yang kemudian membentuk saya menjadi seorang politisi dan memilih untuk terus mengorganisir rakyat melalui jalan kepartaian,” ujar Megawati.

Selain itu, dalam orasi ilmiahnya Megawati berpesan kepada kaum muda agar tidak menganggap sejarah sebagai barang rongsokan. Sejarah, ujar Megawati, adalah harta karun yang begitu berharga. Mempelajari sejarah bukan berarti sekadar mengingat peristiwa atau periodisasi dalam sejarah. Mempelajari sejarah adalah memahami pemikiran, nilai, keyakinan, dan keseluruhan dialektika yang terjadi di setiap peristiwa penting di masa lalu atas dasar kebenaran sejarah. Megawati juga menyampaikan beberapa hal yang disebutnya sebagai “pertanggungjawaban sejarah” atas berbagai persoalan penting saat dirinya menjadi presiden.

Pertama, betulkah Sipadan – Ligitan serta merta lepas pada saat Megawati menjabat Presiden? Pada dasarnya, Sipadan – Ligitan bukan merupakan wilayah Indonesia jika didasarkan pada UU Nomor 4/Perppu/1960 tentang Negara Kepulauan. Tapi juga bukan merupakan wilayah Malaysia sehingga diperebutkan dengan berbagai argumentasi.

“Bukti sejarah yang diterima Mahkamah Internasional adalah dokumen dari pihak Malaysia yang membuktikan bahwa Inggris, negara yang menjajah Malaysia dan menjadi bagian dari commonwealth, paling awal masuk Sipadan – Ligitan dengan bukti berupa mercusuar dan konservasi penyu. Putusan tersebut kebetulan ditetapkan pada 2002 saat saya menjabat sebagai presiden,” jelas Megawati.

Kedua, tentang Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura. Saat itu pulau Nipah hampir tenggelam karena pengerukan pasir oleh Singapura. Jika pulau itu tenggelam dan hilang, wilayah Singapura akan semakin luas. “Saya segera perintahkan untuk menimbun kembali pulau itu,” ujar Megawati.

Ketiga, proyek LNG Tangguh antara Indonesia dengan Tiongkok. Saat itu, tidak ada satupun negara yang mau membeli gas Indonesia. Bukan hanya Indonesia yang dalam keadaan krisis, tapi dunia pun sedang dilanda resesi. Indonesia pun dalam kondisi harus bersaing dengan Rusia dan Australia yang bertetangga dengan Tiongkok dan sudah berencana membangun pipa gas ke negara tersebut.

“Saya akhirnya memutuskan melakukan lobby diplomatik ‘Lenso Bengawan Solo’ secara langsung dengan Presiden Tiongkok, Jiang Zemin. Akhirnya, Tiongkok membatalkan kerja sama dengan Rusia dan Australia, lalu memilih bekerja sama dengan Indonesia,” papar Megawati.

Catatan sejarah lainnya, ujar Megawati, sedang disusun oleh para menteri Kabinet Gotong Royong. Megawati ingin tekankan sekali lagi betapa penting sejarah bagi kehidupan bangsa ini ke depan, terutama keputusan-keputusan politik untuk mengelola pemerintahan dan negara.

Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Megawati Soekarnoputri diajukan oleh Tim Promotor yang terdiri dari Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, MSi (Ketua), Prof. H. Oekan S. Abdoellah, MA., PhD (Anggota) dan Dr. Arry Bainus, MA (Anggota). Dalam pertanggungjawaban akademiknya, tim promotor menjelaskan serangkaian gagasan yang pernah disampaikan Megawati melalui pidato maupun pernyataan politiknya sejak awal berkiprah hingga saat ini yang dijadikan pertimbangan mengapa Megawati layak memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Politik dan Pemerintahan.

Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Megawati Soekarnoputri ini antara lain dihadiri oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI periode 1983-1998 Try Sutrisno, Wakil Presiden RI periode 2009-2014 Prof. Boediono, sejumlah Guru Besar Tamu, Ketua Majelis Wali Amanat Unpad Rudiantara, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir dan sejumlah sejumlah menteri Kabinet Kerja, sejumlah menteri Kabinet Gotong Royong, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Gubernur Banten Rano Karno, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, sejumlah pimpinan daerah, pengurus PDI Perjuangan, anggota DPR dan DPRD, serta sejumlah tokoh nasional lainnya.

Sebelum memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Unpad, Megawati pernah memperoleh gelar Doktor Honoris Causa bidang Hukum dari Waseda University Tokyo Jepang (2001), bidang Politik dari Moscow State Institute of International Relations Rusia (2003), dan bidang Politik dari Korea Maritime and Ocean University  Korea Selatan (2015).

Jusuf Kalla dalam sambutannya mengatakan, memperoleh gelar Doktor secara akademis bukanlah hal yang mudah. Tetapi mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa itu jauh lebih sulit karena membutuhkan puluhan tahun untuk membuktikan bahwa apa yang dipikirkan dan dikerjakan itu sesuatu yang benar.

“Dan itulah Dr. Megawati hari ini. Puluhan tahun beliau menjadi politisi, memimpin PDIP dengan berbagai tantangan,  merebut kemenangan nasional dua kali sebagai oposisi, menjadi Wakil Presiden dan Presiden, semuta itu adalah prestasi yang memang sangat pantas mendapatkan kehormatan ini,” ujar Jusuf Kalla. *

Laporan oleh: Erman

 

  • S2~Master of Public Administration
  • S3~Doctor in Public Administration

Masa pendaftaran s.d 28 Mei 2016 (perhatikan tanggal keluar sertifikat TKBA dan TKBI!!)

Seleksi dan ujian wawancara dilaksanakan pada 4 Juni 2016.

Pengumuman pada 15 Juni 2016

Biaya saat seleksi:

1. Tes Kemampuan Belajar Advanced (TKBA) Rp 170.000,-

Informasi dan jadwal tes:

https://smup.unpad.ac.id/tkba-pascasarjana

Telepon: 022-2533431

2. Tes Kemampuan Bahasa Inggris (TKBI) Rp 75.000,-

Informasi dan jadwal tes:

https://smup.unpad.ac.id/tkbi-pascasarjana

Telepon: 022-2516693

3.1 Biaya Seleksi Program Magister Rp 600.000

Informasi : https://smup.unpad.ac.id/pendaftaran-s2/

3.2 Biaya Seleksi Program Doktor Rp 750.000,-

Informasi : https://smup.unpad.ac.id/pendaftaran-s3/

 

Informasi lengkap selanjutnya LANGSUNG SAJA KUNJUNGI

https://smup.unpad.ac.id

 

Contact Person Pascasarjana Administrasi Publik FISIP~UNPAD

WA/SMS/LINE:
Ida Widianingsih
081214558454
Heru Nurasa
08161675034

 

E-mail:
ida.widianingsih@unpad.ac.id atau idawd@yahoo.com

 

Pascasarjana Program Studi Administrasi Publik FISIP~UNPAD

Jl. Bukit Dago Utara No. 25, Gedung E lantai 1, Bandung, Jawa Barat.

Sekretariat SMUP UNPAD

Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung

Telp. 022-84288866, 022-2503278 (Hunting)

E-mail: smup@unpad.ac.id

[Unpad.ac.id, 24/05/2016] Berbagai pemikiran dan kebijakan yang dihasilkan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Hj. Megawati Soekarnoputri, dapat memberikan kontribusi berharga bagi kalangan akademik karena memiliki aspek originalitas. Pola pemikiran, kepemimpinan, serta konsistensi Megawati dalam ilmu politik serta pemerintahan, juga memberi inspirasi bagi generasi bangsa berikutnya.

Suasana jumpa pers menjelang Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Politik dan Pemerintahan bagi Hj. Megawati Soekarnoputri di Executive Lounge Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Selasa (24/05). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Suasana jumpa pers menjelang Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Politik dan Pemerintahan bagi Hj. Megawati Soekarnoputri di Executive Lounge Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Selasa (24/05). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Demikian dikatakan Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Tri Hanggono Achmad, saat menggelar jumpa pers terkait penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa bagi Megawati Soekarnoputri di Executive Lounge Unpad, JLn. Dipati Ukur 35 Bandung, Selasa (24/05). Besok, Rabu 25 Mei 2016, Unpad akan memberikan anugerah Gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Politik dan Pemerintahan bagi Hj. Megawati Soekarnoputri di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung.

Hadir sebagai narasumber dalam jumpa pers tersebut Ketua Tim Promotor Penganugerahan Doktor Honoris Causa bagi Megawati, Prof. Dr. Obsatar Sinaga, MSi., teman satu angkatan Megawati di Fakultas Pertanian Unpad, Prof. Dr. Nurpilihan Bafdal dan Iwan Abdurrahman, serta Ketua DPP PDI Perjuangan, Dr. Andreas Pareira.

“Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad melakukan analisis terhadap pemikiran-pemikiran ibu Megawati, dan menemukan nilai-nilai akademik yang original. Besok dalam pertanggungjawaban akademik akan disampaikan oleh tim promotor. Alasan lainnya, ada hubungan emosional antara Unpad dengan ibu Megawati,” ujar Rektor.

Megawati Soekarnoputri tercatat sebagai mahasiswa Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian Unpad pada 1965 hingga 1967. Ketika itu, kampusnya berada di Jln. Maulana Yusuf Bandung. Namun karena situasi politik nasional ketika itu, Megawati tidak bisa melanjutkan studi dan kembali ke Jakarta. Dalam karir politiknya, Megawati Soekarnoputri memimpin PDI Perjuangan hingga saat ini, menjadi Wakil Presiden RI (1999-2001), dan menjadi Presiden RI ke-5 periode 2001-2004.

Narasumber jumpa pers

Narasumber jumpa pers

Prof. Dr. Obsatar Sinaga, MSi., Ketua Tim Promotor yang merupakan Guru Besar FISIP Unpad, memaparkan, timnya menemukan sejumlah pemikiran dan kebijakan Megawati yang memberi nuansa kuat terhadap ilmu politik dan secara nyata memberi pengaruh kuat dalam pemerintahan hingga saat ini. “Kami meyakini sepenuhnya, secara akademik, ibu Megawati layak diberikan gelar Doktor Honoris Causa,” tegas Prof. Obsatar.

Sementara Ketua DPP PDI Perjuangan, Dr. Andreas Pareira mengatakan, pihaknya atas nama Megawati mengucapkan terima kasih kepada Unpad atas anugerah gelar ini. “Ini bukan sekadar sebuah gelar kehormatan, ini adalah pertemuan dunia praksis dengan dunia akademis. Model kepemimpinan yang ibu Mega tampilkan selama ini memperoleh penghargaan yang sepantasnya dari dunia akademik yang terhormat, dari Universitas Padjadjaran, tempat ibu dulu juga mulai menimba ilmu,” ujar Dr. Andreas Pareira.

Sedangkan Iwan Abdurrahman dan Prof. Dr. Nurpilihan Bafdal menceritakan pengalaman mereka saat menjalani kuliah bersama Megawati selama hampir satu semester di tahun 1965. Dalam pandangan mereka, Megawati adalah sosok yang rajin dan cerdas. “Jadi Megawati tidak bisa menyelesaikan kuliahnya bukan karena ketidakmampuannya, tapi karena kondisi politik yang memaksa ketika itu,” ujar Prof. Dr. Nurpilihan yang kini merupakan Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad. *

Laporan oleh: Erman