FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PADJADJARAN

Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar acara pisah sambut rektor dari Rektor Unpad ke-10 Ganjar Kurnia kepada Rektor Unpad periode 2015-2019 Tri Hanggono Achmad di Grha Sanusi Hardjadinata, Bandung pada Selasa (21/4/2015).

Lulusan program studi Kesejahteraan Sosial perlu dibekali kompetensi praktik sebagai pekerja sosial. Dengan demikian, program studi ini tidak hanya terfokus pada pemenuhan kurikulum teori, melainkan juga dibekali praktikum pekerjaan sosial agar mampu menyiapkan lulusan profesional

“Praktikum ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi praktikan untuk mengintegrasikan pengetahuan apa yang didapat dalam kuliah dengan realitasnya,” ujar dosen program studi Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad, Binahayati Rusyidi, PhD., saat menjadi pembicara dalam acara Seminar dan Lokakarya Pedoman Praktikum dan Supervisi untuk Praktikum Makro dan Praktikum Mikro di Ruang Sidang Biro Rektorat Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Rabu (22/04).

Binahayati2015

Acara ini digelar oleh Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial (IPPSI) dan diikuti oleh para anggota IPPSI dari 19 perguruan tinggi di Indonesia. Selain Binahayati, seminar tersebut menghadirkan Erna Dinata, PhD, akademisi dan pekerja sosial Universitas Indonesia, dan Tata Sudrajat, M.Si., Presiden Lembaga Swadaya Masyarakat “Save the Children”.

Dalam aplikasinya, praktikum ini disupervisi oleh praktisi pekerjaan sosial yang memiliki kualifikasi dalam jangka waktu tertentu. Supervisi ini memfasilitasi pembelajaran praktikan melalui latihan praktik dan pengembangan profesi, diantaranya mencakup apa tugas dari pekerjaan sosial, bagaimana pelaksanaannya, hingga bagaimana membangun relasi.

“Fungsi supervisi adalah menjadi role model bagi mahasiswa untuk menjadi seorang pekerja sosial. Bagaimana pekerja sosial itu menyikapi konflik, biodiversity, dan sebagainya,” kata Binahayati.

Fungsi ini menurutnya belum diberi perhatian oleh para praktisi pekerjaan sosial. Padahal, supervisi ini menjadi bagian dari mandat pendidikan pekerjaan sosial. Hal ini juga menjadi jaminan bahwa praktikan atau lulusan dapat memberikan pelayanan yang kompteten, sesuai, dan etis kepada kliennya.

IPPSI sendiri telah menyusun standar praktikum yang terdiri dari 2 jenis, yakni Praktikum Mikro yang menyasar pada individu, keluarga, atau kelompok dengan mandat dari institusi tertentu, serta Praktikum Makro yang menyasar pada masyarakat umum, organisasi, serta berbagai kebijakan. Dua praktikum tersebut juga telah diatur standar kurikulumnya.

Dengan dua jenis praktikum tersebut diharapkan dapat mempraktikkan berbagai pengetahuan, nilai dan keterampilan profesional, hingga mampu mengembangkan kemampuan individu dan masyarakat sesuai dengan sasaran praktikumnya.

Dalam lokakarya tersebut akan kembali dirumuskan mengenai struktur supervisi praktikum pekerjaan sosial. Dengan demikian, tercipta role model supervisi praktikum pekerjaan sosial untuk menghasilkan sarjana pendidikan sosial yang profesional.

“Mikro dan makro menjadi standar yang diatur IPPSI dan dikembalikan kebijakannya kepada masing-masing Perguruan Tinggi. Namun, dua praktikum tersebut harus diikuti oleh mahasiswa,” kata Binahayati.

Ketua Umum IPPSI, Dr. Soni A. Nulhaqim, M.Si., mengatakan, kualitas lulusan menjadi tantangan setiap perguruan tinggi, mengingat saat ini Indonesia akan memasuki era Asean Economic Forum 2015.

“Lulusan kita harus siap memiliki kompetensi,” tegas Dr. Soni yang juga akademisi dari FISIP Unpad.

Selain menggelar seminar, setiap Perguruan Tinggi yang menjadi peserta kegiatan juga akan mempresentasikan model praktikum masing-masing dan dilanjutkan dengan diskusi perumusan pedoman praktikum dan supervisi pekerjaan sosial hingga Kamis (23/04) besok.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

Suku Kamoro di kawasan pesisir barat daya Provinsi Papua, memiliki keunikan tersendiri dalam seni dan budayanya. Kondisi ini tidak terlepas dari hubungan persaudaraan dengan tiga suku lainnya di Papua yaitu suku Asmat (timur), Masyarakat Pegunungan (utara), dan masyarakat Sempan (selatan). Hubungan antar-suku bangsa itu terwujud dalam hubungan saling mengunjungi satu dengan lainnya.
Untuk mengetahui kebudayaan Suku Kamoro itu, Depatermen Antropologi FISIP Unpad bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia menyelenggarakan acara pengenalan kebudayaan pada Selasa (21/4) bertempat di Auditorium Bale Santika, Unpad, Jatinangor. Karenanya, dalam rangka melestarikan dan memromosikan seni dan budaya Papua, serta dalam rangka mewujudkan komitment ‘link & match’ antara kebutuhan industry dan perguruan tinggi terhadap ilmu-ilmu aplikasif terkait, maka diadakan program sharing session melalui kegiatan kuliah tamu.

Untuk itu, Unpad pun menghadirkan Dr Kalman A Muller, salah seorang pemerhati Papua. Dalam kuliah ini, Kalman berbagai pengalaman dan memperkenalkan salah satu dari lebih 250 suku yang ada di Papua. Dia telah lebih dari 10 tahun tinggal bersama masyarakat adat Kamoro mengabdikan diri untuk membantu mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya Suku Kamoro.

“Orang Kamoro juga dikenal dengan suku bangsa yang memiliki beragam aktivitas kesenian dalam kehidupan kulturalnya seperti menyanyi, menari, dan mengukit,” kata Dr Kalman A Muller, Selasa (21/4).

Dikatakan Kalman, semua aktivitas kesenian itu eksis dalam kehidupan masyarakat adat Kamoro. Sehingga, selain tokoh adat besar (tertinggi), mereka juga mengenal berbagai tokoh adat untuk masing-masing aktivitas kesenian yang ada.

Masyarakat Kamoro, kata Kalman, melakukan pembagian kerja di kampungnya. Selain mereka yang ahli dalam mencari bahan makanan, ada juga orang-orang Kamoro yang pantai mengukir yang biasa disebut maramowe.

“Mereka membuat ukiran selain untuk perangkat upacara adat, juga untuk dijual. Seni ukir karya maramowe inilah yang menjadi ikon kebudayaan Suku Kamoro,” ujarnya.

Kepala UPT Humas Unpad Soni Akhmad Nulhaqim mengatakan, mahasiswa sebagai agen intelektual memiliki peran yang besar untuk melestarikan dan mengembangkan adat dan kebudayaan Suku Kamoro. Latar belakang keilmuan mereka, katanya, menjadi harapan untuk melestarikan budaya Indonesia di masa yang akan datang.

Dalam kegiatan ini juga menampilkan atraksi budaya Kamoro seperti memahat, membuat noken, tarian, story telling, pumutaran film dan pukul tiga.

http://www.republika.co.id

Wednesday, 3 Rajab 1436 / 22 April 2015

Persembahan Mahasiswa Antropologi Universitas Padjadjaran 2014.
Silahkan datang dan ramaikan acara kami. Pakaian tidak dianjurkan rapih, masa depanmu yang harus rapih!
Terletak di Lapangan Fisip Unpad
Kamis Ceria, 30 April 2015.
16.00 WIB s/d dicari ibu kosan ke kampus.

Musik Senja by fisipunpad2015


Sumber  http://human.fisip.unpad.ac.id/

REPUBLIKA, 17/4/15

 

Oleh : Asep Sumaryana

Bisa jadi presiden Jokowi sedang galau memikirkan ancaman ketum PDIP agar keluar kalau tidak mau disebut petugas parpol. Galau karena jika ancaman itu mengenai dirinya, maka secara organisatoris, presiden dibawah Puan Maharani yang Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan merangkap menjadi Kabid Politik dan Kemanan dalam kepengurusan PDIP yang baru. Belum lagi jika Jokowi harus menjadi petugas parpol, maka posisinya berada dibawah parpol tertentu yang akan menimbulkan persoalan baru dalam kepemimpinannya.

Kegalauan Jokowi beralasan karena dirinya berada dalam posisi sulit. Disatu sisi PDIP berjasa mengantarkannya menjadi presiden, namun disisi lain, dirinya sudah menjadi milik bangsa lndonesia yang bertugas memakmurkan, mencerdaskan dan melindungi segenap bangsanya. Bila tidak maka dirinya mengingkari konstitusi yang mengamanatkannya. Harapan sederhananya, semoga seruan ketum PDIP bukan kepada dirinya yang sebenarnya sudah harus diwakafkan bagi kemaslahatan bangsa dan Negara ini.

Bisa jadi Jokowi akan terganggu dalam revolusi mental bangsa ini. Setidaknya, selain jajaran kabinetnya yang harus direvolusi, juga lingkungan lain yang juga dekat dengan dirinya. Parpol pengusung pastilah menjadi lingkungan yang diharapkan memiliki kesadaran agar program tersebut dapat dilakukan dengan sempurna. Dengan berantai revolusi tersebut dapat menular secara massif kepada seluruh anak bangsa. Namun demikian Bryson (2000) mengingatkan jika tarik ulur pengaruh bakal terjadi antar pemerintah dengan lingkungannya. Beragam kekuatan bisa digunakan agar pengaruhnya dapat dipatuhi siapapun.

Kast (1986) memetakan, jika lingkungan bisa mengganggu melalui informasi yang dijadikan dasar pengambilan keputusan. Bisa saja informasi yang diterima ketum PDIP sejalan dengan kekesalan Megawati yang hanya memperoleh jatah sama dengan Nasdem di cabinet Jokowi. Boleh jadi informasi yang disuguhkan bernuansa kepentingan dalam konteks rebutan pengaruh dan kedudukan. Tatkala informasi tersebut digunakan dasar keputusan, maka keputusan pun bisa tidak sesuai dengan kepentingan bangsa. Oleh sebab itu, kewaspadaan menjadi penting agar pejabat public tidak menjadi boneka kepentingan lingkungan yang mengelilinginya.

Agar keajegan dapat dilakukan, Bowman (2010) mensyaratkan kepemilikan kompetensi teknis sehingga buaya tidak dapat dikadalin. Dalam konteks ini, pekerjaan teknis secara prinsip dapat dipahami Jokowi agar dirinya bisa mengarahkan pasukan di kabinetnya kearah yang dikehendaki. Dengan demikian, ketika susupan informasi yang bernuansa kepentingan segelintir pihak dapat ditepisnya dengan baik. Bahkan dirinya harus mengarahkan seluruh lingkungannya agar menghargai etika sehingga aturan, norma yang bersumber dari agama ataupun budaya tetap dapat menjadi pagar agar seluruh elemen bangsa bisa patuh. Untuk itu kompetensi etika harus pula melekat dalam dirinya sehingga keteladanan dalam mengawal etika dimulai darinya.

Kompetensi leadership pastilah menjadi kunci keberhasilannya. Dengan kompetensi ini, kemampuan memengaruhi lingkungan akan mampu menggiring seluruhnya menyokong apa yang diprogramkan. Dengan kompetensi ini pula bargaining dengan elite parpol penyokong harus dilakukan agar dirinya tidak dijadikan petugas parpol. Melalui kompetensinya, harus dapat diyakinkan jika dirinya menjadi wakaf parpol pengusung yang harus mengabdi kepada negeri. Jika Snyder (1992) menempatkan courage sebagai inti leadership, maka keberanian melakukan bargaining dan memengaruhi siapapun menjadi taruhan Jokowi agar kegalauan secara perlahan berkurang.

Kesadaran Jokowi akan posisinya harus sejalan dengan kesadaran seluruh pihak pengusungnya agar tidak muncul dua matahari dalam kepengurusan cabinet Jokowi. Dapat dibayangkan jika para menteri yang berasal dari parpol lebih mematuhi pengurus inti parpolnya ketimbang presiden. Tidak saja arus perintah dan laporan akan seret, namun juga marwah Jokowi akan rontok dibuatnya. Pantas birokrasinya Weberian menghendaki agar organisasi harus menutup diri dari lingkungan agar tidak terdapat dua matahrai yang bisa menyebabkan cabinet kiamat.

Robbins (1992) menghendaki agar organisasi memiliki keformalan dalam menunaikan tugas keorganisasian. Jika kebinet menjadi organisasi, maka Jokowi secara formal menjadi leading and commanding dalam mencapai sasaran yang dihendakinya. Dengan demikian, tidak boleh ada yang menganggap presiden bawahannya di parpol, atau bawahan yang merasa berjasa dalam proses pemilihan presiden sehingga bisa mengabaikan perintah presiden. Bila demikian adanya, courage Jokowi untuk mengatasi semua itu menjadi taruhan agar batu kerikil segera dapat disapunya.

Membiarkan iklim kerja berada dalam area abu-abu akan mempersulit pencapaian tujuan. Bila sudah demikian, revolusi mental perlu diawali dari diri sendiri agar berani mengeliminir matahari agar tidak duplikasi. Membangun ketegasan dalam dirinya bisa jadi sebuah upaya revolusi mental agar dirinya tidak dibuatnya galau. Bila courage tidak dijalankan untuk merevolusi mental serta mewujudkan nawacita, maka dirinya akan menjadi mimpi buruk bangsa ini yang mempersurut kepercayaan serta mengantarkan negeri ini kepada perpecahan.***

Penulis adalah Kepala Departemen Administrasi Publik FISIP-Unpad

Alamat : Kompleks Vijayakusuma B-14/23 Cipadung kota Bandung 40614

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PR, 15/4/15

Oleh : Asep Sumaryana

Sore hari di tanggal 13 April merupakan hari bersejarah bagi Tri Hanggono Ahmad atau kang Tri dan juga Unpad karena dirinya dilantik oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menjadi rector Unpad periode 2015-2019. Berbagai harapan pun mengembang sejalan dengan slogan yang terpampang lama di area kampus Jatinangor. Unpad mandiri, unggul dan maslahat menjadi sasaran yang ingin diwujudkan selama masa baktinya. Bisa jadi hal demikian menjadi tantangan dan harus diwujudkan landasan agar dapat mewujudkan harapannya.

Bisa jadi Unpad akan menjadi kahiji lamun ngahiji. Kalimat tersebut mudah diingat dan memiliki makna dan harapan yang dalam bagi pengembangan universitas yang dibanggakan masyarakat Jawa Barat. Kalimat itupun menjadi landasan yang harus pertama kali diwujudkan. Atau mungkin kalimat tersebut bercermin dari kondisi Unpad yang belum bersatu sehingga belum bisa kahiji. Menjadikannya bersatu tidak juga semudah membalikkan tangan. Butuh keunggulan watak pemimpinnya yang dibantu jajaran elite yang mendampinginya selama empat tahun kedepan.

Nyungkelit

Unpad memiliki 16 fakultas yang berada di dua lokasi, dua fakultas di kota Bandung dan sisanya di Jatinangor. Walauun secara fisik tidak bersatu, namun perkembangan teknologi menjadi bukan halangan. Oleh sebab itu, kebersatuannya lebih ditentukan oleh aspek psikologis satu elemen dengan elemen lainnya. Bila dipisahkan menjadi kelompok fakultas eksakta dengan social, maka keduanya harus dijembatani agar sense of belonging terhadap Unpad demikian kental.

Mungkin saja ngahijikeun komponen Unpad menjadi tantangan pertama bagi kang Tri. Pasca pemilihan rector bukan mustahil masih nyungkelit. Menyembuhkan luka bisa jadi profesinya sebagai dokter, namun nyungkelit hatinya memerlukan kebijaksanaan yang luar biasa karena semua saudara dan warga yang harus dilayaninya. Oleh sebab itu, rector pastilah harus memiliki ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani seperti Ki Hajar Dewantara katakana. Itu berarti, bahwa rengkak paripolahna akan menjadi focus sorotan public Unpad.

Sebagai rector yang nyunda, hal diatas bukanlah sesuatu yang sulit dijalankan. Ditambah dengan kompetensi teknis, etika dan leadership-nya Bowman (2010), maka kekompakan seluruh elemen harus dapat dibangun melalui sapapait samamanis dengan sejumlah kebijakan yang bertumpu pada visi dan misi yang disampaikannya dalam sosialisasi calon rector sebelumnya. Bila Unpad ingin menjadi kahiji dalam bidang akademik, riset dan menjadi garda depan dalam pengabdiannya, maka ketiganya mesti menjadi andalan dengan program dan figure yang dipilihnya. Tatkala program kerjanya tidak mencerminkan ketiganya bisa jadi kecemerlangan memudar dibuatnya.

Ngahieuman

Dengan harapan maslahatnya, konsistensi antara tekad, ucap dan lampah menjadi penting agar yang nyungkelit berubah bumela. Mengubahnya bukan pekerjaan mudah. Diperlukan kajegan seluruh jajaran yang ditunjuknya agar tidak ngahieuman dirinya sebagai rector. Bisa jadi pasca pemilihan sejumlah pihak yang ingin mendapat kucuran jabatan mulai merapat dengan sukses story mengantarkan kang Tri jadi rector. Bisa jadi sebagian mengigau atau sebagai demikian adanya. Namunbila pedekate seperti itu terjadi, maka pendukungannya bertumpu pada kepentingan dirinya, bukan pada kepentingan Unpad. Bila sudah demikian, maka figure seperti itu akan ngahieuman perjalan tugas rector.

Bisa jadi Snyder (1994) benar bahwa pemimpin harus memiliki courage dalam mengambil keputusan agar tidak mudah trenyuh oleh sejumlah pihak yang melucu didepannya, atau menggebrak agar mendapat jabatan. Sebagai figure yang nyunda, kasingeran menjadi penting untuk memilah kemudian memilih sesuai tuntutan warganya. Oleh sebab itu data dan informasi menjadi kekuatan yang dikumpulkan dan dicross-check dengan melibatkan berbagai pihak agar tidak cueut kanu beureum ponteng kanu koneng. Setelahnya, mentalnya harus kokoh agar tidak gedag kaanginan oleh pengaruh yang menyesatkan langkah sehingga nilai maslahatnya lebur oleh muslihat oknum yang culas.

Oleh karenanya, rector patut memiliki composure seperti Borstein (1996) sebutkan. Dengan ketenangan batinnya, sejumlah keluh kesah dan voice warganya akan disikapi bijaksana untuk kemudian dibeuweung dan diutahkeun agar bisa ditarik kejernihannya dari sejumlah rekayasa yang mungkin muncul. Pelibatan tokoh Unpad dari beragam kelompok menjadi penting untuk dapat memformulasikan langkah bulat yang yang patut dijalankan selama mengemban tugas. Hasilnya perlu disampaikan ulang kepada warga Unpad untuk mendapat respon dan memperbaikinya agar lebih mendekatai harapan warganya. Dengan demikian peleburan seluruh komponen Unpad agar ngahiji bisa diwujudkan. Disamping itu sejumlah oknum yang ngahieuman dapat bersama untuk menuju Unpad kahiji. Selamat bertugas kang Tri, warga Unpad mengiringi dengan do’a.***

Penulis adalah Kepala Departemen Administrasi Publik FISIP -Unpad

Alamat : Kompleks Vijayakusuma B-14/23 Cipadung kota Bandung 40614