FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PADJADJARAN

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran menyelenggarakan Lokakarya Kurikulum yang diselenggarakan di Kampus FISIP Jatinangor pada Tanggal 26 s.d. 27 Novermber 2014

LokakaryaKurikulum2014-2

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad berhasil menjadi juara umum dalam ajang Olimpiade Olahraga Tradisional (Ootrad) ke-7, Minggu (23/11) di Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jalan Dipatiukur No.35 Bandung.

FISIP-Juara-Ootrad FISIP berhasil menjadi juara umum setelah meraih 13 poin.FISIP Unpad berhasil meraih juara pertama pada kategori lomba Balap Egrang (Putra) dan lomba Ngagandong Jukut (Putri), Juara kedua pada kategori lomba Balap Karung Putra dan Rampak Gerak, serta meraih juara ketiga untuk kategori Bobotoh Heboh.

Penyerahan piala bergilir langsung oleh Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia selaku ketua pelaksana Ootrad ke-7 kepada perwakilan kontingen dari FISIP. Juara umum ini sekaligus menjadikan FISIP menjadi fakultas yang telah beberapa kali menjadi juara umum Ootrad di Unpad.

 

 

Hari Minggu, tanggal 23 November 2014, Unpad mengadakan acara Olimpiade Olah Raga Tradisional (Ootrad) Padjadjaran di kampus Unpad Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung dan Kawasan Dago Car Free Day, Pukul 05.30 s.d. 14.00 WIB. Dalam acara seluruh Civitas Akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad juga ikut memeriahkannya. Berikut adalah “Aleut-aleutan FISIP Unpad”.

 

Sumber Video : Diunggah oleh Hayfa Rina

Seminar dan Diskusi 2014
Kerjasama Departemen Susastra dan Kajian Budaya dengan Prodi Ilmu Politik FISIP UNPADSelasa, 25 November 2014
pukul 11.00-13.00
Aula PSBJ, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran
Jl. Ir. Soekarno km. 21, Jatinangor, Sumedang

Pembicara:
Jaleswari Pramodhawardhani, M.Hum.
(Peneliti LIPI, aktivis perempuan, pengamat militer)Mudiyati Rahmatunnisa, M.A., Ph.D.
(Wakil Dekan 1 FISIP UNPAD, alumnus University of Western Australia)

A_Seminar2014
Penyelenggara:
Protokol FISIP Universitas Padjajaran (PFU)
Tema Kegiatan:
Break Your Stage Fright and Speak Up!
Pembicara:
  1. Popong D. Djundjunan (Anggota Komisi X DPR RI)
  2. Prabu Revolusi (News Anchor)
  3. Nita Sofiani (Miss Earth Indonesia 2013)
Waktu dan Tempat Pelaksanaan:
22 November 2014 pukul 09.00-15.30 WIB di Bale Rucita, Universitas Padjajaran, Jatinangor.
Pendaftaran:
Presale 1 (14-18 November 2014): Rp. 30.000,-
Presale 2 (19-21 November 2014): Rp. 35.000,-
On The Spot: Rp. 40.000,-
Biaya pendaftaran sudah termasuk seminar kit, snack, dan sertifikat)
Biaya pendaftaran dapat ditransfer ke BNI 0260302323 a.n Lugina Fitriani Khaerunnisa).
Informasi:
Lugina – 085624693896
Randy – 089689634307
Facebook: Protokol Fisip Unpad
Twitter: @protokolfisip

Sumber : http://www.info-lomba.com/2014/11/public-speaking-and-critical-thinking.html

Pada hari Senin. 17 November 2014 Program Diploma 3 Administrasi FISIP Universitas Padjajaran mengunjungi Program Vokasi Universitas Indonesia untuk Studi Komparatif dengan HM ADM Program Vokasi Universitas Indonesia. Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC dari mahasiswa, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Himpunan Mahasiswa Administrasi Program Vokasi UI, sambutan dari Ketua Himpunan Mahasiswa Administrasi DIII FISIP UNPAD, sambutan dari Program Vokasi yang diwakili oleh Manajer Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Ventura Mohammad Ridha, S.Sos., M.Si., pengenalan Profil Program Studi ADM Program Vokasi UI oleh Manajer Riset, Kemahasiswaan, dan Alumni Dr. Deni Danial Kesa, S.Sos., MBA., Ph.D. di lanjutkan dengan sharing session antara Ketua HM ADM Program Vokasi dengan HM ADM DIII FISIP UNPAD mengenai kegiatan maupun program kerja masing-masing. Acara terakhir adalah penutupan, penyerahan cinderamata berupa penyerahan plakat dari Program Vokasi dan UNPAD serta kunjungan beberapa fasilitas pendidikan yang ada di Gedung Program Vokasi UI.

mb_studiunpad-6

mb_studiunpad-10

Saat ini Indonesia hanya memiliki sedikit guru besar Hubungan Internasional. Dari lebih 50 program studi Hubungan Internasional yang dimiliki, Indonesia hanya memiliki kurang dari 10 guru besar Hubungan Internasional. Minimnya pakar yang dimiliki akan berdampak pada kebijakan strategis Indonesia dalam hubungan internasional.

higurubesar2014

Para narasumber dan moderator pada Talkshow Forum Komunikasi Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional se-Indonesia (FKMHII) Pertemuan Nasional Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII) XXVI di Bale Santika Unpad, Jatinangor, Senin (17/11). (Foto oleh: Artanti)*

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad Prof. Drs. Yanyan M. Yani, MAIR., Ph.D saat menjadi pembicara pada Talkshow Forum Komunikasi Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional se-Indonesia (FKMHII) Pertemuan Nasional Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII) XXVI di Bale Santika Unpad, Jatinangor, Senin (17/11).

“Bangsa ini membutuhkan guru besar Hubungan Internasional yang terampil dan mampu mengolah strategi ke depan,” ujar Prof. Yanyan.

Ia menambahkan, minimnya pakar Hubungan Internasional di Indonesia juga berimplikasi pada kesiapan dalam menghadapi ASEAN Community. “Sebab sosialisasi tentang ASEAN Community tidak hanya bisa dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri. Kita juga membutuhkan akar rumpun. Akar rumpun ini kan akademisi yang bisa masuk kesana,” jelas Prof. Yanyan.

Selain itu, Prof. Yanyan juga mengatakan bahwa ada banyak lapangan kerja yang tersedia untuk para sarjana Hubungan Internasional. Bukan hanya kementerian luar negeri, lulusan program studi ini juga dibutuhkan di sejumlah instansi lain.

Pembicara lain, Assistant Country Director/Team Leader Democratic Governance Unit UNDP Indonesia, Irman G. Lanti mengatakan bahwa sebaiknya para lulusan Hubungan Internasional tidak hanya berpikir untuk menjadi diplomat. Ada banyak profesi lain di luar itu. Jika semua lulusan fokus untuk menjadi diplomat atau bekerja di kementerian luar negeri, maka sangat mungkin akan banyak tercipta pengangguran terpelajar. Dengan demikian, perlu juga adanya peningkatan lulusan kompetensi para lulusan, terutama untuk menghadapi ASEAN Community.

Sementara itu, Direktur Lembaga Survei Nasional, Umar S. Bakrie mengatakan bahwa untuk meningkatkan kompetensi, terutama untuk meningkatkan daya saing dibandingkan dengan tenaga kerja dari negara lain, setidaknya para lulusan harus menguasai berbagai bahasa. Sejak mahasiswa, disamping harus kuat secara intelektual, juga perlu untuk giat berorganisasi. “Maka daya survival ketika jadi sarjana akan kuat,” ujarnya.

PNMHII XXVI
PNMHII merupakan agenda tahunan dari FKMHII, dan tahun ini Unpad dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan. Kegiatan ini merupakan wadah bagi para mahasiswa untuk bertukar pikiran dan berbagi pengalaman dalam bidang Hubungan Internasional. PNMHII XXVI diselenggarakan mulai hari ini hingga Kamis (20/11) mendatang.

“Ini adalah sebuah pertemuan nasional mahasiswa hubungan internasional se-Indonesia. Pertemuan nasional mahasiswa Hubungan Internasional ini dulu digagas oleh mahasiswa-mahasiswa Unpad pada tahun 1989, dan dideklarasikan melalui deklarasi Jatinangor,” ungkap Ketua Pelaksana Acara, Denisa Ruvianty.

Selain seminar, kegiatan ini berisi joint statement forum, short diplomatic course, diskusi ilmiah, dan sidang forum. PNMHII XXVI diikuti oleh sebanyak 288 peserta dari 37 universitas se-Indonesia. Tema yang diangkat adalah mengenai optimasi forum komunikasi se-Indonesia agar dapat bermanfaat untuk masyarakat dalam menghadapi tantangan dan peluang komunitas ASEAN.

Denisa juga mengungkapkan, kegiatan ini akan menghasilkan sebuah rancangan rekomendasi untuk pemerintah, dan akan dikirimkan langsung ke instansi terkait. “Karena temanya Komunitas ASEAN, kami ingin bahwa pemerintah punya kiat-kiat tertentu agar masyarakat siap dalam menghadapi peluang komunitas ASEAN, dan juga dapat mengambil manfaat dari peluang agar banyak keuntungan yang kita dapat di komunitas ASEAN,” ujar Denisa.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh