Penguatan Ulinan Barudak Sunda” dalam Upaya Memelihara Warisan Budaya Daerah di Kecamatan Jatinangor, Jawa Barat

Gambar I. Foto Bersama Siswa SDN Jatiroke II dan penyelenggara kegiatan

Pada Hari Selasa Tanggal 10 Desember 2019 diadakan Kegiatan yang merupakan salah satu bentuk pengabdian pada masyarakat yang dilakukan oleh Dosen sebagai perwujudan dari Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian).

Eksistensi permainan tradisional di Jawa Barat yang sering disebut sebagai “Kaulinan Barudak Sunda” semakin memudar seiring dengan massifnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang menempatkan permainan modern berbasiskan online atau gadget sebagai sarana bagi anak-anak untuk bermain.

Tentunya, hal ini sebagai dampak yang tidak dapat dihindari di dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, permainan modern telah menggeser eksistensi Kaulinan Barudak Sunda yang sarat akan nilai-nilai kearifan lokal dan efek positif bagi pertumbuhkembangan anak di usianya. Kaulinan Barudak Sunda juga merupakan manifestasi dari warisan budaya nasional yang lahir dan berkembang secara turun temurun.

Gambar II dan III. Persiapan Permainan Kaulinan Barudak Sunda dan Praktek Kaulinan Barudak Sunda “Ora-Orayan”

Untuk menunjang penguatan permainan tradisional “Kaulinan Barudak Sunda” sebagai wujud dari pelestarian salah satu warisan budaya nasional, tim Pengabdian Pada Masyarakat FISIP Universitas Padjadjaran menyelenggarakan kegiatan penguatan Kaulinan Barudak Sunda di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor pada Selasa, 10 Desember 2019 yang bertempat di Balai Desa Cisempur dan SDN Jatiroke II Jatinangor.

Kegiatan ini berbasiskan pada metode Problem Based Learning dan Community Based Research dengan melibatkan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama menggali permasalahan dan ikhtiar mendapatkan solusi bagi permasalahan yang diangkat. Kegiatan ini mampu memberikan pemahaman bagi pihak-pihak yang terlibat untuk bersama-sama menguatkan permainan Tradisional Kaulinan Barudak Sunda di dalam ikhtiar melestarikan budaya nasional dan menggali manfaat dari permainan tradisional tersebut.

Gambar IV. Foto Bersama Anak-anak Desa Cisempur sebagai Partisipan Kaulinan Barudak Sunda

 

(oleh: WindyD dan MRahman)