Membangun Inovasi Pembelajaran dengan Project Based Learning dan Seminar Nasional

(Rabu, 18 Desember 2019), Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UNPAD menyelenggarakan Seminar Nasional tentang Pemasaran Sosial (Social Marketing) dengan tajuk Humanizing the Experiences. Seminar ini merupakan puncak akhir dari mata kuliah yang diselenggarakan dengan pendekatan Project Based Learning. Melalui mata kuliah ini, diharapkan seluruh mahasiswa mampu membangun kompetensi terbaiknya, sebelum mereka lulus menjadi pekerja sosial professional nantinya.


Pada awal seminar, Dr. Hery Wibowo menjelaskan tentang social marketing dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 sekaligus Society 5.0, dimana beliau mengatakan bahwa sekarang kita sedang berada pada zaman dimana data kita dapat diketahui oleh banyak orang dan mungkin saja bisa di akses oleh orang lain karena dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, pasalnya dalam menghadapi perubahan zaman ini manusia perlu berpikir secara kontekstual, bertindak dan melakukan segala sesuatu yang harus sesuai dengan keadaan saat itu.

Oleh karena itu kita sebagai generasi milenial yang paham akan berbagai permasalahan yang sedang terjadi saat ini di harapkan mampu mengahdapi masalah ini dengan baik dan bisa bertahan dalam persaingan, karenanya melalui kampanye sosial ini dapat membantu sesama manusia agar dapat menghindari takeover oleh teknologi yang sedang berkembang.

Dan pada Society 5.0 dapat dikatakan sebagai transformasi kompleks dari cara hidup masyarakat. Kunci dari masyarakat ini adalah human-centered, technology-based; artinya, konsep masyarakat berpusat pada manusia namun berbasis teknologi. Pada dasarnya, experience yang kita alami sudah bercampur dengan teknologi. Maka, teknologi perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kepentingan manusia. Jepang, sebagai salah satu pioneer teknologi juga mulai melakukan revolusi untuk menghadapi Society 5.0.

Di sesi pertama ada talkshow dengan perwakilan dari tiap kelompok social marketing. Ada Menuju Dewasa, Omonganorang.co, Smart.Hole, dan Help.ToxicLove. kebanyakan kelompok memulai kampanyenya di media sosial Instagram sejak September 2019. Menuju Dewasa adalah wadah untuk berbagi cerita dan pengalaman tentang peralihan dari remaja menuju dewasa.

Metode yang digunakan adalah Social Group Work dengan saling berbagi cerita karena pengalaman adalah guru terbaik. Omonganorang.co adalah kampanye yang berfokus pada quarter life crisis yang dialami oleh generasi milenial masa kini. Tidak semua orang tahu bahwa masa perkembangan itu tidak langsung dari remaja ke dewasa, tapi ada yang dinamakan emerging adulthood.

Masalah quarter life crisis ini didasari oleh faktor internal— ketidakpuasan terhadap pencapaian diri sendiri—serta faktor eksternal—omongan orang yang membuat tidak percaya diri. Smart.Hole adalah satu-satunya proyek social marketing kali ini yang berfokus pada lingkungan. Kampanye yang dilakukan adalah pentingnya membuat 1 biopori tiap 1 rumah, karena biopori tidak hanya untuk mengatasi banjir, tapi menyuburkan tanah. Kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan terkait kepedulian terhadap lingkungan.

Help.ToxicLove merupakan buah pikiran dari keresahan akan fenomena yang terjadi di masyarakat mengenai hubungan yang tidak sehat dalam relasi perempuan dan laki-laki, baik kekerasan mental maupun fisik. Ada lima kekerasan yang bisa terjadi dalam sebuah hubungan: fisik, verbal, sosial, ekonomi, dan online. Kampanye ini ingin mengedukasi tidak hanya korban, tetapi teman atau lingkungan korban untuk bi…
Di sesi pertama ada talkshow dengan perwakilan dari tiap kelompok social marketing.

Ada Menuju Dewasa, Omonganorang.co, Smart.Hole, dan Help.ToxicLove. kebanyakan kelompok memulai kampanyenya di media sosial Instagram sejak September 2019. Menuju Dewasa adalah wadah untuk berbagi cerita dan pengalaman tentang peralihan dari remaja menuju dewasa. Metode yang digunakan adalah Social Group Work dengan saling berbagi cerita karena pengalaman adalah guru terbaik. Omonganorang.co adalah kampanye yang berfokus pada quarter life crisis yang dialami oleh generasi milenial masa kini.

Tidak semua orang tahu bahwa masa perkembangan itu tidak langsung dari remaja ke dewasa, tapi ada yang dinamakan emerging adulthood. Masalah quarter life crisis ini didasari oleh faktor internal— ketidakpuasan terhadap pencapaian diri sendiri—serta faktor eksternal—omongan orang yang membuat tidak percaya diri.

Smart.Hole adalah satu-satunya proyek social marketing kali ini yang berfokus pada lingkungan. Kampanye yang dilakukan adalah pentingnya membuat 1 biopori tiap 1 rumah, karena biopori tidak hanya untuk mengatasi banjir, tapi menyuburkan tanah. Kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan terkait kepedulian terhadap lingkungan.

Help.ToxicLove merupakan buah pikiran dari keresahan akan fenomena yang terjadi di masyarakat mengenai hubungan yang tidak sehat dalam relasi perempuan dan laki-laki, baik kekerasan mental maupun fisik. Ada lima kekerasan yang bisa terjadi dalam sebuah hubungan: fisik, verbal, sosial, ekonomi, dan online. Kampanye ini ingin mengedukasi tidak hanya korban, tetapi teman atau lingkungan korban untuk bisa menjadi support system yang baik.

Sesi kedua adalah talkshow dengan perwakilan kelompok Hear Me, Cure.id, Sorai Tubuhku, Ask a Pro, dan Laugh the Life.
Kemudian ada narasumber kedua yaitu Kang Pena Adiadipura beliau merupakan alumni KS Unpad tahun 1977. Beliau menyampaikan tentang Social Marketing, dalam menjalankan suatu usaha social marketing, individu/kelompok harus melihat perspektif positif dari setiap peluang dan kegagalan, beliau juga menyampaikan bahwa sudah banyak alat untuk berkomunikasi di era millenial ini.

Dalam upaya untuk membuat usaha individu harus mempunyai perspektif poisitif dari setiap peluang atau kegagalan. Kang Pena juga membagikan pengalamannya dalam bidang social marketing. Salah satunya adalah memberdayakan teman-teman disabilitas, khususnya yang memiliki hambatan pendengaran untuk membuat karya seni sendiri dan menjual atau berdagang sendiri.

Selain itu, Kang Pena pernah tergabung dalam gerakan memberdayakan penjahit se-Nusantara melalui kain bellini, yang terjadi saat krisis moneter. Kang Adi juga menekankan apapun yang terjadi, kita harus melakukan suatu usaha. Poin yang bisa diambil adalah QCC, atau Quality, Care, and Commitment. Jadi, dalam perusahaan tekstil yang menjadi mitra, semua orang memiliki value yang sama, meskipun posisi atau tugasnya berbeda.

Di sesi ketiga juga ada talkshow dengan perwakilan kelompok Alltruis.me, Dear Me I Know You Worth It, Generasi Mahasiswa Sehat (Gawat), dan Labels Not Rebels. Namun, di sesi ketiga ini saya tidak dapat mengikutinya dikarenakan jadwalnya bertabrakan dengan UAS psikologi. Begitu pula dengan sharing session bersama narasumber ketiga yaitu Teh Asyifa Nurul, yang juga penggiat social marketing

(HW/HumasFisipUnpad)