Anak Berhadapan dengan Hukum Harus Tetap Punya Hak Dasar

[unpad.ac.id, 4/12/2019] Untuk lebih mengenalkan program inklusi pada Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran menggelar “Seminar Indonesia Inklusi the Series” di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Selasa (4/12).

Team Leader Program Peduli The Asia Foundation Abdi Suryaningati (kiri) bersama Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Eko Maryadi (kedua dari kiri) dan dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad Dr. Hery Wibowo dalam Seminar Indonesia Inklusi the Series di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Selasa (4/12). (Foto: Arief Maulana)*

“Kita melihat generasi Indonesia ke depan itu ditentukan salah satunya oleh anak-anak, termasuk mereka yang sering dilupakan oleh komunitas dan keluarganya sendiri, yaitu mereka yang berhadapan dengan hukum,” kata Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Eko Maryadi.

Dikatakan Eko, ABH seringkali harus menjalani hidup di luar situasi umum anak-anak. Untuk ABH yang hidup di Lembaga Pembinaan Khusus Anak, mereka diharapkan tetap mendapat hak dasar anak.

“Oleh karena itu, kita melihat pentingnya bagaimana anak-anak ini dipisahkan dalam sebuah lembaga permasyarakatan yang di dalamnya harus diberikan semua hak-hak yang harus diperlukan oleh setiap anak. Misalnya yang paling basic adalah hak pendidikan,” ujar Eko.

Ditegaskan Eko, jangan sampai anak yang tinggal di LPKA kehilangan hak pendidikannya. Pihaknya pun menyarankan agar LPKA didesain seperti sekolah, sehingga saat menjalani hukuman seakan sedang menjalani pendidikan. Dengan demikian, diharapkan ketika ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka bisa mengembangkan dirinya secara lebih baik.

Eko pun menekankan bahwa akademisi, khususnya mahasiswa perlu meningkatkan perannya. Untuk itulah PKBI saat ini menggandeng sejumlah perguruan tinggi untuk bekerja sama, salah satunya Unpad.

“Mahasiswa dan kampus adalah salah satu pilar yang harus kita bangun bersama, karena masa depan negeri ini salah satunya berada di tangan kaum akademis dan para mahasiswa,” ujarnya.

Sementara itu, Manajer Akademik dan Kemahasiswaan sekaligus dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad Dr. Hery Wibowo mengatakan bahwa kerja sama tersebut menunjukkan adanya dukungan akademis untuk kajian dan pengabdian kepada masyarakat khususnya untuk anak di Jawa Barat.

“(Seminar) ini adalah sebuah acara pembuka untuk gerbang kerja sama yang lebih besar,” ujar Dr. Hery.

Pada seminar tersebut, juga dibahas mengenai buku “Aku, Jeruji, dan Cita” dengan penulis utama dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad Maulana Irfan, M.I.Kom.

Seminar tersebut juga menghadirkan pembicara Abdi Suryaningati (Yeni) Team Leader Program Peduli The Asia Foundation dan Kepala LPKA Sukamiskin Bandung Sri Yanti.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am