Mahasiswa Kesejahteraan Sosial, Mengkampanyekan Edukasi tentang Diagnosis Diri

Mahasiswa di jaman milenial, sangat identic dengan dunia internet, media sosial dan teknologi digital. Seperti diketahui bersama bahwa dunia internet adalah seperti bilah mata pisau, yaitu dapat mengarahkan penggunanya pada kebaikan atau keburukan. Sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, khususnya dari Pogram Studi Kesejahteraan Sosial, membangun sebuah kampanye kebaikan melalui praktik pemasaran sosial (social marketing) dengan tema Diagnosis Diri Pribadi.

Melalui akun Instagram @_aksapro.id, sekelompok mahasiswa program studi Kesejahteraan Sosial yaitu Devie Lestari hayati , Adina riska anindita , Septia Febriani, Nur aftina, Prisillia Karina Stefani, Rifdah Arifah Kurniawan dan Anisa mengajak seluruh masyarakat, khususnya pemuda, pelajar dan mahasiswa untuk tidak terlalu mudah melakukan diagnosis diri, apalagi sampai melabeli diri sebagai penderita gangguan kesehatan mental.

Akun ini secara konsisten mendorong pemahaman tentang pentingnya kita untuk tidak terlalu mudah memberikan cap/status kesehatan pada diri sendiri. Harapannya, semua harus didiskusikan dan dikonsultasikan kepada para ahli terlebih dahulu. Mengapa? Karena penetapan status/label atau cap pada diri sendiri dapat mempengaruhi konsep diri (self concept) dan harga diri (self esteem) individu, serta dapat berakibat pada hadirnya pikiran negatif, prilaku introvert dan lain-lain.

Melalui akun @_askapro.id ini, mereka mengajak kita semua untuk berpikir lebih positif, dan bertindak lebih dewasa sebelum memberikan label pada diri sendiri. Jika perlu, konsulkan pada para ahli di bidangnya.

Sungguh sangat menginspirasi apa yang dilakukan sejumlah mahasiswa Fisip ini, semoga dapat menularkan semangat berbakti pada masyarakat dan bangsa, pada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik lainnya

(HW/Humas)