Pembelajaran Kolaboratif

Pentingnya pendidikan bagi setiap insan warga negara, sudah tidak perlu dinafikan lagi. Kecerdasan, keterampilan dan kompetensi SDM bangsa adalah sumber kekuatan yang tidak terlihat (intangible resources), yang merupakan faktor utama kontibutor pembangunan Bangsa.

Menyambut tahun akademik 2019/2020, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik bersiap menyambut mahasiswa dengan skema pembelajaran kolaboratif, yaitu membantu mensukseskan program akademik Unpad; TPB (Tahap Persiapan Bersama) dan OKK (Olahraga, Kesenian dan Kewirausahaan).
Sejumlah persiapan dan koordinasi terus dilakukan oleh Tim Akademik dibawah arahan Dekan dan Wadek Fisip. Optimalisasi pembelajaran kolaboratif dalam skala mikro dan makro terus dilakukan. Harapannya seluruh proses TPB dan OKK dapat berjalan lancar dan mampu memberikan manfaat terbaik bagi mahasiswa Unpad Angkatan 2019

Skema Mikro

Pada skema yang lebih mikro, semangat pendidikan berbagi, dapat dikerucutkan pada model pembelajaran kolaboratif. Lima fundamental utama yang termasuk dalam pembelajaran kolaboratif adalah: kesalingtergantungan yang positif, akuntabilitas pribadi dan kelompok, keterampilan individu dan kelompok kecil, interaksi promotif serta proses yang berlangsung dalam kelompok (Laal & Laal, 2012). Kolaborasi (Chandra, 2015) adalah cara interaksi dan sikap pribadi di mana individu bertanggung jawab atas tindakan mereka, pembelajaran, kemampuan mereka dan kontribusi rekan-rekan mereka juga.

Maknanya, proses pembelajaran dilakukan dengan tidak hanya mendorong setinggi-tinggi potensi individu dalam konteks kompetisi. Sebaliknya, justru aktivitas interaksi dalam kelompok, justru dijadikan wahana, media dan cara membangun pemahaman, meningkatkan keterampilan sekaligus mengembangkan afeksi positif. Sehingga komunikasi antara individu dalam kelompok adalah media belajar utama, yang saling memajukan dan mengembangkan.

Aplikasi

Ragam semangat dan aplikasi pembelajaran kolaboratif dapat distrategikan secara kontekstual di lapangan. Sejumlah mata kuliah, dapat diselenggarakan dengan memodifikasi (mencampur) peserta belajarnya Sistem pendidikan di Perguruan tinggi dapat dimulai dengan melakukan pembentukan kelas gabungan (bagi sejumlah Mata Kuliah Umum) yang terdiri dari perwakilan rumpun ilmu atau lebih jauh lagi . program studi. “Ketercampuran” tersebut, dapat menghasilkan turunan manfaat sebagai berikut:

(1) Berbagi filosofi.

Satu filosofi besar yang dipegang kuat saat ini adalah bahwa hampir tidak satu masalah sosial/masalah bangsa yang mampu diselesaikan hanya dengan satu bidang ilmu. Karakter masalah sosial yang mengakar, berkelindan satu dengan yang lain dan bermetamorfosis menembus generasi, lokasi serta struktur sosial, akan memelurkan sinergi kolaborasi konstruktif pola ilmiah keilmuan. Maknanya, jalinan interaksi sosial antar mahasiswa dari beragam bidang ilmu adalah modal yang baik bagi pengembangan solusi kreatif dan ilmiah berbasis keberagaman ilmu di kemudian hari

(2) Berbagi Wawasan.

Melalui pola ini, akan tercipta pengayaan interaksi, wawasan dan pola pikir bagi para pembelajaran. Akan terbuka sebuah cara pandang baru dalam menilai/memandang sebuah isu/situasi.

(3) Berbagi jaringan (networking).

Melalui pola ini, mau tidak mau, mahasiswa akan berkenalan dengan sejumlah besar ‘rekan’ dari beragam bidang ilmu, dan sekaligus dapat membangun asset jaringan kolega untuk masa depan.

(4) Membangun kapital sosial.

Jauh lebih dalam dari jaringan sosial adalah kapital sosial, yaitu bentuk kepercayaan, nilai & norma, serta jejaring yang memiliki kesalingtergantungan yang tinggi, serta berpotensi memberikan keuntungan ekonomi kepada seluruh pihak yang terlibat (Lawang, 2005)
Maknanya, demi mencapai visi pendidikan yang lebih besar, perlu dikesampingkan pola pikir kompetitif, egois dan sectoral. Paradigma yang perlu dikembangkan adalah bahwa tidak ada satupun permasalahan sosial/struktural bangsa yang mampu dipecahkan hanya melalui satu bidang ilmu. Terminologi kolaborasi, melalui pendalaman pemikiran yang inovatif dan berorientasi masalah seyogianya dapat menjadi fundamental dasar bagi terciptanya pemerataan pendidikan bangsa. (HumasFisip/Mdm)