FISIP Unpad adakan Seminar Nasional tentang Kemitraan Gender

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran mengadakan Seminar Nasional dengan topik Kemitraan Gender dan Pembangunan Di Pulau Terluar Indonesia, Rabu, 26 September 2018, di Ruang Seminar FISIP Unpad Jatinangor. Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi “Signifikansi Kampanye HeForShe Terhadap Pemberdayaan Perempuan di Pulau Terluar Indonesia: Studi Kasus Kabupaten Sumba Barat Daya.

Penelitian yang sudah memasuki tahun kedua ini, menghasilkan penemuan-penemuan yang menarik. Peneliti Nuraeni, S.IP M. Hum mensosialisasikan hasil penelitian mengenai bagaimana kemitraan gender melalui kampanye HeForShe berkontribusi dalam pemberdayaan perempuan di Sumba Barat. Salah satunya peningkatan produktivitas perempuan dalam menenun yang sejajar dengan peningkatan partisipasi laki-laki dalam rumah tangga.

Disamping pemaparan mengenai hasil penelitian, terdapat 3 narasumber yang juga meperkaya pengetahuan hadirin mengenai kemitraan gender. Pembicara pertama, Hasrul Edyar S.Sos. M.AP Direktur Pengembangan Daerah Pulau-pulau Kecil dan Terluar Kementerian Desa PDT RI, menekankan sentralitas peran perempuan dalam menentukan kesuksesan dan distribusi manfaat pembangunan keseluruh lapisan masyarakat.

Drs. Agam Bekti Nugraha M.Pd,Kepala Bidang Kesetaraan Gender dalam IPTEK, dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menambahkan bahwa peran perempuan dalam pembangunan negara penting bukan hanya ditataran produksi, melainkan juga memperbaiki kesenjangan dalam relasi kekuasaan dengan melibatkan perempuan sebagai pembuat keputusan yang responsif gender dan inklusif. Dominasi kepemimpinan laki-laki dan kurangnya partisipasi perempuan dalam politik merupakan tantangan yang perlu dan dapat dihadapi melalui kemitraan Gender

Melalui pemaparan Martha Rambu, aktivis Yayasan Bahtera dari Sumba Barat, hadirin mendapatkan gambaran mengenai praktik-praktik pemberdayaan masyarakat umum dan perempuan di Sumba Barat yang juga melibatkan laki-laki. Upaya advokasi dimulai dari perubahan cara pandang mengenai kondisi dan posisi perempuan dalam masyarakat. Meski terkendala oleh penolakan atau keenganan, melalui strategi-strategi Yayasan Bathera, dapat peningkatan dari kemitraan laki-laki dalam aktivitas kelompok-kelompok perempuan di Sumba Barat.

Dari seluruh presentasi penelitian dan materi, maka dapat disimpulkan bahwa ketidaksetaraan gender merupakan permasalahan yang multi-dimensional dan bukan merupakan permasalahan eksklusif perempuan. Melainkan, permasalahan yang memengaruhi seluruh lapisan masyarakat yang penyelesaiannyapun membutuhkan kolaborasi dengan berbagai aktor terlepas dari identitas gender, suku, budaya, dan lain-lain.

Oleh: Jessica Noviena (Hubungan Internasional 2015)

 

https://photos.app.goo.gl/D9THCHA44bvLwYGM9