Workshop “Menakar Kebahagian Masyarakat dalam Pembangunan Kota yang Majemuk”

[Unpad.ac.id, 9/12/2016] Pembangunan secara masif wajah Kota Bandung dalam dua tahun terakhir banyak mendapat apresiasi warga. Pemulihan kawasan ruang publik ini mampu meningkatkan nilai Indeks Kebahagiaan warganya sebesar 70,6 pada 2015. Nilai tersebut meningkat 2 poin dari sebelumnya 68,23 pada 2013. Pencapaian peningkatan Indeks Kebahagiaan ini juga menuai analisis dari akademisi.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pembelajaran Unpad, Dr. Arry Bainus, M.A., saat menjadi narasumber pada  Workshop “Menakar Kebahagiaan Masyarakat dalam Pembangunan Kota Bermasyarakat Majemuk” di Kampus Pascasarjana FISIP Unpad, Bandung, Jumat (9/12). (Foto oleh: Arief Maulana)*

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pembelajaran Unpad, Dr. Arry Bainus, M.A., saat menjadi narasumber pada Workshop “Menakar Kebahagiaan Masyarakat dalam Pembangunan Kota Bermasyarakat Majemuk” di Kampus Pascasarjana FISIP Unpad, Bandung, Jumat (9/12). (Foto oleh: Arief Maulana)*

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pembelajaran Universitas Padjadjaran, Dr. Arry Bainus, M.A., mengatakan, langkah peningkatan nilai indeks tentunya perlu dibarengi dengan penanaman nilai-nilai kultural. Hal tersebut dikatakan Dr. Arry saat menjadi pembicara kunci dalam dalam Workshop “Menakar Kebahagiaan Masyarakat dalam Pembangunan Kota Bermasyarakat Majemuk” di Kampus Pascasarjana FISIP Unpad, Bandung, Jumat (9/12). Workshop ini digelar Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.

Dr. Arry mengatakan, pembangunan Kota Bandung harus pula berdasar pada pengukuran Gross National Happiness (GNH). Metode ini dikembangkan oleh Raja negara Bhutan, Jigme Singye Wangchuk, pada 1972. Ada empat pilar penilaian yang diukur dalam GNH, yaitu pembangunan berkelanjutan, tranparansi pemerintahan, pelestarian nilai-nilai budaya, dan konservasi lingkungan alam.

Sebenarnya, implementasi nilai-nilai budaya telah dianut kuat oleh masyarakat Indonesia. Dr. Arry mengatakan, di kawasan pedesaan, nilai-nilai budaya masih kuat dipegang oleh masyarakatnya. Sehingga, ada kemungkinan bahwa masyarakat desa lebih bahagia dari masyarakat kota.

“Ini yang kurang, kita belum masukkan sektor lingkungan, dan nilai-nilai kepribumian,” kata Dr. Arry.

Selain itu, pemerintah juga harus mampu meningkatkan rasa kepercayaan masyarakat. Dr. Arry mengemukakan, faktor kepercayaan publik sangat rendah terjadi di negara berkembang. Sebaliknya, di negara maju, meski masyarakatnya individualis, faktor kepercayaan publiknya sangat tinggi.

Terkait peningkatan nilai Indeks Kebahagiaan Kota Bandung, Dr. Arry mengapresiasi apa yang telah dilakukan Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil, dan para pemangku kepentingan. Menurutnya, faktor utama dalam peningkatan kebahagiaan ialah kesadaran untuk mendorong masyarakat jauh lebih bahagia.

Faktor lainnya yaitu peningkatan daya beli masyarakat, terjadinya kebebasan aktivitas ekonomi, profesionalisme, transparansi pemerintahan, serta peningkatan kepercayaan publik.

Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan (Diskamtam) Kota Bandung, Ir. H. Arif Prasetya, M.M., yang juga menjadi pembicara kunci mengatakan pembangunan kawasan ruang terbuka publik merupakan  strategi yang dikembangkan Ridwan Kamil untuk membangun kebahagiaan terlebih dulu bagi warganya.

“Jika warga bahagia, maka interaksi dengan warga lainnya akan jauh lebih menyenangkan,” ujar Arif.

Dalam hal ini, pemerintah kota memiliki 3 strategi dalam pembangunan Kota Bandung. Tiga strategi tersebut yaitu inovasi, desentralisasi, dan kolaborasi. Tiga strategi ini menyasar pada partisipatif masyarakat untuk dapat memanfaatkan ruang publik sehingga terjadi aktivitas dinamis.

Selain itu, pemerintah juga mendorong setiap Rukun Warga (RW) dapat membangun wilayahnya secara mandiri melalui bantuan dana sebesar Rp 100 juta per RW. Arif mengatakan, bantuan dana ini diberikan agar setiap RW dapat membangun wilayah sesuai kebutuhan.

Hingga 2016, sebanyak 23 taman tematik telah dibangun di Kota Bandung. Jumlah ini melebihi target capaian pembangunan yang tertera pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung, yaitu 18 taman. Dengan banyaknya taman tematik ini, masyarakat Kota Bandung diharapkan dapat memanfaatkannya, sehingga nilai Indeks Kebahagiaan kota akan terus menaik.

Selain Dr. Arry dan Arif, workshop ini juga menghadirkan 6 pembicara yang terbagi dalam 2 sesi presentasi panel.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh

https://goo.gl/photos/s2Rc8AJ8VWhhU8MH6