Menristekdikti, “Selain Berpikir Akademik, Rektor PTN Badan Hukum Juga Harus Berperan sebagai CEO”

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Prof. Moh. Nasir, PhD, Ak., memberikan orasi ilmiah dalam acara peringatan Dies Natalis ke-59 Universitas Padjadjaran di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Rabu (14/09). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nasir membacakan orasi ilmiah bertajuk “Transformasi Perguruan Tinggi dan Daya Saing Bangsa”.

Menristekdikti, Prof. Moh. Nasir, PhD., Ak., saat menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-59 Universitas Padjadjaran di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Rabu (14/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Menristekdikti, Prof. Moh. Nasir, PhD., Ak., saat menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-59 Universitas Padjadjaran di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Rabu (14/09). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Prof. Nasir mengatakan, kualitas perguruan tinggi di Indonesia harus semakin baik guna menghadapi tantangan bangsa yang semakin kompleks. Saat ini, total jumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia mencapai 4.350 dengan total jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa. Angka ini melebihi jumlah total perguruan tinggi di Tiongkok, yaitu sekitar 2.824 dengan total penduduk 1,4 miliar. Ini berarti Indonesia punya kesempatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

“Kita akan berhadapan dengan perguruan tinggi di luar negeri. Kita tidak usah mengejar menjadi yang pertama, tetapi harus menjadi yang terbaik,” ujar Prof. Nasir.

Salah satu target pemerintah terhadap perguruan tinggi adalah masuk 500 besar perguruan tinggi terbaik dunia. Guna mewujudkan hal tersebut, manajemen pengelolaan perguruan tinggi harus diubah. Kemristek sendiri, kata Prof. Nasir, telah menyiapkan berbagai regulasi untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi.

“Regulasi yang dilakukan untuk perbaikan, sehingga mendorong perguruan tinggi Indonesia punya fleksibilitas baik. Baik fleksibilitas dalam otonomi akademik, maupun nonakademik,” imbuhnya.

Ia mencontohkan, dalam upaya mewujudkan world class university, Kemristekdikti telah mulai mengeluarkan berbagai regulasi terkait pendidikan mahasiswa asing. Regulasi ini menggambarkan perguruan tinggi Indonesia bisa menerima mahasiswa asing dengan sepenuhnya, sehingga jumlah mahasiswa asing yang belajar di Indonesia akan semakin banyak.

Upaya lain dalam mewujudkan target tersebut ialah meningkatkan jumlah publikasi ilmiah internasional. Prof. Nasir mengatakan, pihaknya mendorong penguatan riset bukan lagi berbasis proses, tetapi harus berbasis output.

Prof. Nasir juga mendorong para civitas academica Unpad untuk meningkatkan aktivitas riset berbasis output. Berbagai manuskrip riset yang disimpan di perpustakaan bisa dikembangkan lebih lanjut untuk menghasilkan inovasi.

Kemristekdikti sendiri juga menyiapkan insentif bagi peneliti yang memublikasikan penelitian ilmiahnya, baik di jurnal nasional tidak terakreditasi, jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional yang tidak bereputasi, hingga jurnal internasional bereputasi.

Prof. Nasir juga menyampaikan kekuatan Unpad sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum. Melalui PTN Badan Hukum, pemerintah memberikan keleluasaan perguruan tinggi melakukan kreasi untuk mengelola aktivitas secara mandiri. Ini didasarkan pada terbatasnya jumlah anggaran negara untuk pengelolaan perguruan tinggi.

Untuk itu, Prof. Nasir mendorong Rektor PTN berstatus Berbadan Hukum, termasuk Unpad, bukan hanya sebagai pemimpin lembaga akademik, tetapi juga bertugas sebagai CEO untuk mampu menjalankan suatu organisasi besar secara berkelanjutan.

“Rektor tidak lagi berpikir akademik saja, tetapi bagaimana caranya menjalankan usaha untuk mendapatkan uang dan meningkatkan kualitas. Majelis Wali Amanat, pandangan kita sebagai Komisarisnya,” kata Prof. Nasir.

Walaupun dituntut menghasilkan pendapatan secara mandiri, Prof. Nasir menekankan Unpad tidak dituntut untuk memperoleh jumlah penghasilan tertentu. “Yang terpenting adalah targetkan untuk bisa masuk 500 perguruan tinggi dunia,” pungkasnya.

Refleksi 59 Tahun Unpad
humas-unpad-2016_09_14-dies-natalis-59-4-tedi
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nasir mengapresiasi Unpad sebagai salah satu PTN terbaik Indonesia. Bertepatan dengan momentum Dies Natalis, Prof. Nasir mengharapkan Unpad dapat memublikasikan berbagai capaian yang telah diraih selama 59 tahun.

“Unpad tumbuh sebagai institusi PTN yang telah banyak sumbangkan berbagai pikiran strategis dan punya karya-karya besar,” kata Prof. Nasir.

Ia pun berpesan agar setiap program studi yang dimiliki Unpad harus mencari kompetensi lulusan yang dihasilkan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran terutama di tingkat Sarjana.

Usai memberikan orasi, Prof. Nasir mendapat Anugerah Padjadjaran Utama yang diberikan langsung Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad.*

Foto-foto oleh: Tedi Yusup (Humas Unpad)