Hari Pendidikan Nasional, Ayo Kerja, Inovatif, dan Kompetitif

Menyambut Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei, reformasi pendidikan tinggi menjadi fokus kerja bersama guna menghadapi berbagai tantangan di skala lokal, nasional, maupun global. Proses ini merupakan upaya yang telah lama dilakukan oleh dua tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara dan Moh. Syafei.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unpad Dr. Arry Bainus, M.A., sebagai Pembina Upacara Peringatan Hardiknas 2016 di Halaman Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor, Senin (2/05). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unpad Dr. Arry Bainus, M.A., sebagai Pembina Upacara Peringatan Hardiknas 2016 di Halaman Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor, Senin (2/05). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Hal tersebut disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI Prof. Mohamad Nasir dalam Sambutan Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2016. Sambutan dibacakan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unpad Dr. Arry Bainus, M.A., selaku Pembina Upacara Peringatan Hardiknas 2016 di Halaman Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor, Senin (2/05).

Sambutan bertema Ayo Kerja, Inovatif, dan Kompetitif ini dibacakan di hadapan pimpinan, guru besar, dosen, tenaga kependidikan, dan perwakilan mahasiswa di lingkungan Unpad. Reformasi pendidikan tinggi yang dimaksud Menristek Dikti meliputi deregulasi, penyediaan pendidikan fleksibel dan berorientasi pada siswa dan pangsa pasar, perubahan kurikulum, penyediaan dosen, guru besar, dan tenaga kependidikan profesional, revitalisasi kelembagaan, pengembangan bidang ilmu yang strategis, hingga pendidikan yang mengikuti perkembangan iptek.

Dengan demikian, upaya reformasi pendidikan tinggi melalui berbagai inovatif akan menghasilkan berbagai inovasi yang berdaya saing. Hal ini dapat meningkatkan kompetisi pendidikan tinggi Indonesia di level internasional.

Dalam sambutan tersebut juga disampaikan beberapa capaian kompetitif Indonesia di tingkat dunia. Berdasarkan analisis World Economic Forum 2015, indeks inovasi Indonesia mencapai 4,6 atau peringkat 30 dunia, sedangkan indeks inovasi pendidikan tinggi adalah 4,0 atau peringkat 60 dunia.

Kita masih harus bekerja secara inovatif untuk bisa meningkatkan peringkat indeks inovasi pendidikan tinggi di peringkat 56 pada 2020, sebut Dr. Arry.

Sementara pada indeks daya saing berdasarkan indikator higher education and training, Indonesia mengalami penurunan peringkat menjadi 65 pada periode 2015-2016 setelah sebelumnya berada di peringkat 60 pada 2014-2015. Kondisi ini menunjukkan reformasi pendidikan tinggi menuju arah inovatif dan kompetitif harus mutlak dilakukan.

Proses reformasi membutuhkan keterlibatan beberapa pihak. Kerja sama antar institusi pendidikan tinggi, riset, pemerintahan, industri dan swasta, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya diyakini dapat mewujudkan proses reformasi tersebut.

Kerja sama memperkuat kapasitas kita menjadi kapasitas yang lebih besar dalam menciptakan inovasi dan teknologi yang lebih baik lagi. Pertukaran mahasiswa dan dosen, kerja sama penelitian dan publikasi ilmiah, sudah seharusnya menjadi bagian dari reformasi pendidikan kita, ujar Dr. Arry.*