Aktif di Forum Inter-Parliamentary Union, Upaya DPR RI Tanggulangi Terorisme

[Unpad.ac.id, 15/01/2016] Dalam menanggulangi isu terorisme internasional di Indonesia, sangat penting untuk mengembangkan konsep diplomasi yang total. Karakteristik diplomasi total tersebut dikembangkan dari pola hubungan kerja sama bilateral maupun multilateral antara DPR RI dengan parlemen negara sahabat. Dengan demikian, fungsi dan peran parlemen akan semakin kuat dalam memperkokoh kepentingan nasional dan bangsa.

Evita Nursanty saat mempertahankan disertasinya pada Sidang Promosi Doktor dalam Ilmu Hubungan Internasional di Gedung 2 Lantai 4, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Jumat (15/01). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Evita Nursanty saat mempresentasikan disertasinya pada Sidang Promosi Doktor dalam Ilmu Hubungan Internasional di Gedung 2 Lantai 4, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Jumat (15/01). (Foto oleh: Tedi Yusup)*
Hal tersebut diungkapkan anggota Komisi I DPR RI Evita Nursanty dalam disertasinya berjudul “Diplomasi DPR RI di Forum Inter-Parliamentary Union dalam Penanggulangan Terorisme Internasional di Indonesia” pada Sidang Promosi Doktor dalam Ilmu Hubungan Internasional di Gedung 2 Lantai 4, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Jumat (15/01).

“Selain itu, secara teoritis peneliti juga memandang perlu dikembangkannya one and half diplomacy, sebagai konsep yang menggambarkan penekanan pada bentuk peran DPR RI dalam diplomasi sebagai aktor hubungan internasional. Konsep tersebut akan menciptakan rambu-rambu kekuatan nasional di bidang diplomasi, sebagai akumulasi dari otoritas legalitas dan legitimasi untuk memberikan perlindungan bagi warga dari ancaman terorisme internasional,” papar Evita.

Dengan one and half diplomacy, maka DPR RI tidak hanya mempertimbangkan kepentingan negara saja, tetapi juga mengedepankan kepentingan rakyat. Meski berkedudukan sebagai lembaga negara dan perlu menjalankan peran sebagai aktor negara, anggota DPR RI adalah dipilih oleh rakyat.

“Oleh karena itu, aspirasi-aspirasi dan kepentingan dari rakyat juga menjadi acuan kita di dalam melakukan diplomasi parlemen,” jelas Evita.

humas unpad 2016_01_15 sidang doktor evita TEDI 1Evita juga mengungkapkan bahwa selama ini pelaksanaan diplomasi parlemen yang dilakukan oleh DPR RI dalam penaggulangan masalah terorisme internasional melalui Inter-Parliamentary Union diwujudkan dalam kerja sama bilateral dengan parlemen negara lain secara one to one, dan hubungan kerja sama multilateral. Namun demikian, peran DPR RI sebagai individu dalam membangun people to people contact, juga menentukan keberhasilan diplomasi dalam mencapai tujuan politik luar negeri Indonesia.

“Model diplomasi ini membuktikan memberikan hasil bagi pelaksanaan total diplomasi,” ujar Evita.

Bertindak sebagai tim promotor pada pelaksanaan sidang ini yaitu Dr. Arry Bainus, M.S (ketua), Prof. Drs. Yanyan M. Yani, MAIR, Ph.D., dan Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S.IP.,M.Si, serta tim oponen ahli Dr. Drs. H.R. Abd. Musyawardi Chalid, M.Si., dan Drs. Taufik Hidayat, M.S., Ph.D., dengan representasi Guru Besar Prof. Dr. Drs. H. Nasruloh Nazsir, M.S, dan pimpinan sidang Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, SIP., SSi., MT., MSi (Han).

Evita pun berhasil meraih gelar Doktor dalam Ilmu Hubungan Internasional dengan Yudisium Cumlaude. Pada kesempatan tersebut, turut hadir Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Puan Maharani, Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, serta sejumlah anggota DPR RI.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh